Asosiasi PIKKO (Perkumpulan Industri Kecil dan Menengah Komponen Otomotif) Indonesia buka suara soal pengadaan kendaraan komersial jenis pikap yang diimpor utuh dari India oleh PT Agrinas Pangan Nusantara.
Melalui keterangan resmi yang diterima kumparan, PIKKO Indonesia mendukung program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang membuat PT Agrinas Pangan Nusantara membutuhkan kendaraan untuk logistik dan transportasi pangan.
Namun satu sisi, asosiasi mengungkapkan rasa kecewa karena entitas Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu menggelar kontrak pengadaan 105 ribu unit pikap buatan India (gabungan dari merek Tata dan Mahindra), yang nilai transaksinya ditaksir mencapai Rp 24,66 triliun.
"PIKKO menyampaikan kekecewaannya atas rencana impor kendaraan tersebut, dengan utilisasi produksi yang saat ini masih berada pada angka 60-70 persen. Tentunya dampak impor tersebut tidak hanya dirasakan pabrikan, tetapi juga sekitar 6 ribu tenaga kerja," urai PIKKO dalam siaran media Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian, Jumat (20/2).
PIKKO disebut memahami kebutuhan pengadaan tersebut yang mendesak, namun cara pemenuhan kebutuhan transportasi angkut dengan cara impor utuh dinilai tidak bijak bagi industri otomotif dan komponen dalam negeri.
"Kami khawatir hal tersebut membuat dampak ekonomi tidak bagus terhadap keberlangsungan ekosistem industri otomotif," kata Ketua PIKKO, Rosalina Faried.
Padahal, jika mengerahkan kekuatan ekosistem industri manufaktur otomotif nasional, maka nilai tambah ekonomi hingga pendapatan pajak serta penyerapan tenaga kerja akan semakin meningkat dan menguntungkan negara.
Asosiasi memandang rencana impor 105 ribu unit pikap lansiran Mahindra Auto dan Tata Motors itu seharusnya dapat menjadi ceruk bisnis yang dapat dinikmati oleh industri komponen otomotif lokal. Saat ini, anggota PIKKO mampu membuat jenis kendaraan komersial tersebut dengan kapasitas 5-10 ribu unit per tahun selama 1-2 tahun.
PIKKO berharap pengadaan kendaraan impor, di mana pada yang saat sama model tersebut berpeluang dibuat lokal, dapat dibatasi dan bersinergi dengan industri komponen lokal. Hal ini dapat membantu kinerja industri di tengah melemahnya daya beli pasar domestik.





