Peneliti Bidang Ekonomi The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII), Putu Rusta Adijaya, menilai kesepakatan tarif 0% untuk produk tekstil dan garmen asal Indonesia melalui mekanisme tariff rate quota (TRQ) berdampak positif terhadap industri dalam negeri.
Menurut Putu, pembebasan tarif tersebut dapat menekan biaya ekspor, mendorong peningkatan volume pengiriman, serta memperluas pangsa pasar produk tekstil dan garmen Indonesia ke Amerika Serikat (AS).
“Terkait dengan dampaknya kepada emiten, terutama perusahaan yang memproduksi barang-barang yang mendapatkan tarif 0% bea masuk, pendapatan perusahaan tersebut akan meningkat, berpotensi memiliki kinerja lebih baik di IHSG,” kata Putu kepada Warta Ekonomi, Jumat (20/2/2026).
Baca Juga: Tekstil Indonesia Dapat Tarif 0% dari AS, Target Ekspor Melonjak 10 Kali Lipat
Ia menyebut dampak sosial-ekonomi kebijakan tersebut juga menyentuh sekitar 4 juta pekerja di sektor terkait dan 20 juta masyarakat yang bergantung pada komoditas tersebut.
“Efeknya lebih besar ke emiten yang masuk ke kategori tersebut, belum tentu untuk emiten lain,” ujarnya.
Namun demikian, Putu mengingatkan adanya potensi trade-off. Produk Indonesia tetap akan bersaing dengan produk sejenis dari negara lain di pasar AS. Persaingan tersebut dinilai tidak terhindarkan.
“Agen ekonomi, yaitu individu, perusahaan, dan pemerintah di AS juga akan melihat kualitas produk Indonesia dan membandingkannya dengan kualitas produk negara lain,” ucapnya.
Ia menambahkan pelaku industri tekstil nasional bersama pemerintah perlu memperkuat daya saing dan mendorong terciptanya ekosistem yang kondusif. Emiten yang memiliki ketergantungan tinggi pada pasar AS juga diminta mencermati fluktuasi permintaan global dan potensi perubahan kebijakan tarif di masa mendatang.
Di sisi lain, pengamat pasar modal Reydi Octa menilai kebijakan tarif 0% juga memberikan keuntungan bagi emiten sawit dari sisi kepastian akses pasar. Kejelasan kebijakan tersebut dinilai memberi ruang bagi pelaku usaha untuk mempertahankan pangsa pasar di tengah dinamika perdagangan global.
Meski demikian, ia menegaskan kebijakan tersebut bukan katalis utama yang secara langsung mendongkrak laba emiten sawit.
Baca Juga: Ribuan Produk RI Masuk Bisa Masuk AS dengan Tarif 0%, Dari Minyak Sawit Hingga Kedelai Total 1.819 Produk!
“Kinerja emiten sawit tetap lebih ditentukan oleh harga CPO global, kebijakan biodiesel, dan kurs rupiah,” ujarnya.
Sebelumnya, Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat mencapai kesepakatan untuk menurunkan tarif hingga 0% pada sejumlah produk Indonesia. Dalam dokumen agreement on reciprocal trade, tercantum 1.819 pos tarif yang memperoleh fasilitas bea masuk 0%.
Produk tersebut antara lain minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, serta komponen pesawat terbang. Khusus produk tekstil dan apparel, AS memberikan tarif 0% melalui mekanisme TRQ.





