Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah memastikan kebijakan pembukaan impor pangan asal Amerika Serikat (AS) tanpa pembatasan kuota tidak akan mengganggu industri dalam negeri.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut kebijakan itu justru diperlukan, karena mayoritas produk yang diimpor merupakan bahan baku yang memang dibutuhkan Indonesia dan tidak diproduksi di dalam negeri. Ia pun menegaskan, kebutuhan industri menjadi pertimbangan utama pemerintah.
"Misalnya gini, kita itu kan butuh, memang yang kita impor dari Amerika itu kan kebanyakan memang kita butuhkan. Karena kebanyakan bahan baku," kata Budi saat ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Ia kemudian mencontohkan komoditas strategis asal AS yang diimpor Indonesia, seperti kedelai dan gandum yang selama ini menjadi tulang punggung industri pangan nasional.
"Kedelai kita juga butuh, kita impor terbesar dari Amerika. Ya kalau kita nggak mempermudah itu justru menyusahkan industri kita. Gandum juga kita butuh, kita butuh banyak. Yang kita nggak punya," jelasnya.
Menurut Budi, kemudahan impor akan menekan biaya produksi dan menjaga harga pangan tetap terjangkau di dalam negeri.
"Jadi rata-rata memang bahan baku yang justru memang, memang kalau mempermudah kan jadi murah juga. Biaya produksi menjadi murah. Kita nggak bisa memproduksi. Jadi kan kebanyakan produk-produk itu kok yang dapet 0% dan sebagainya," ucap dia.
Saat ditegaskan apakah Kemendag melihat ada risiko dari kebijakan tersebut, ia memastikan tidak ada masalah.
"Nggak ada masalah, karena yang diimpor itu tadi rata-rata bahan baku. Bahan-bahan yang kita butuhkan, yang kita tidak produksi, dan itu memang dibutuhkan oleh industri kita," terang Budi.
Budi kembali menekankan peran gandum dan kedelai bagi industri makanan nasional. "Gandum dibutuhkan oleh industri makanan. Kedelai kan juga begitu. Ya kecuali kita bisa punya gandum, kan kita nggak punya. Ya justru kita butuh, butuh bahan baku yang mudah kita dapatkan dan murah. Caranya untuk murah ya dipermudah (impornya). Biar kita nggak belinya mahal. Nah kalau kita beli mahal nanti harga makanan mahal juga," jelasnya.
Sebagai informasi, kebijakan ini sejalan dengan kesepakatan dagang Indonesia-AS yang baru diteken. Sejumlah produk ekspor andalan Indonesia ke AS resmi bebas tarif setelah Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump menandatangani perjanjian tarif dagang kedua negara. Kesepakatan tersebut tertuang dalam dokumen Implementation of the Agreement toward New Golden Age US-Indonesia Alliance.
Dalam sektor pertanian, perjanjian itu mengatur pelonggaran perizinan impor. Melalui Article 2.10 tentang Import Licensing for Food and Agricultural Products, Indonesia membebaskan produk pangan dan pertanian asal AS dari kebijakan neraca komoditas, rezim perizinan impor hortikultura, serta rezim perizinan impor lainnya.
Indonesia juga hanya menerapkan perizinan impor otomatis dan tidak boleh memberikan hak impor khusus atau eksklusif, maupun membatasi importir dalam memasukkan produk pertanian AS ke Indonesia.
Mendag Budi menilai pengaturan tersebut akan memastikan pasokan bahan baku industri tetap terjaga, biaya produksi lebih efisien, dan harga pangan domestik tetap terkendali.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso saat ditemui wartawan di kantornya, Jakarta, Jumat (20/2/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
(dce)




