Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas terus merangkak naik, bahkan kini mendekati level US$5.000 per ounce. Analis memperkirakan harga emas bisa meroket lebih tinggi mencapai US$6.000 per ounce.
Tim Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia mengungkap, ketegangan geopolitik yang terus meningkat bersamaan dengan iklim perdagangan global yang terus berubah kemungkinan akan membuat emas terus menjadi aset favorit di kalangan investor sebagai kelas aset safe haven.
Bank sentral di seluruh dunia telah meningkatkan kepemilikan emas mereka dalam dekade terakhir. Sejak 2015, Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve telah meningkatkan kepemilikan emasnya sebesar 10,53% CAGR. Sekarang mereka memiliki cadangan emas senilai US$682,3 miliar.
Tak ketinggalan, Bank Sentral Rusia dan China juga masing-masing menunjukkan pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 16,84% dan 13,73% pada periode 2015-2025 dalam cadangan emas mereka.
Dengan The Fed telah melampaui 50% dalam cadangan emas, bank sentral negara-negara BRICS juga mulai merangkul logam mulia ini sambil tidak aktif dalam mempertahankan cadangan devisa mereka.
Salah satu contohnya adalah Bank Sentral China yang mencatatkan CAGR 25,42% pada periode 2020-2023 dalam cadangannya, dengan CAGR 14,13% pada periode 2014-2023.
Baca Juga
- Pergerakan Harga Emas Hari Ini Jumat, 20 Februari 2026 di Pasar Spot
- Harga Emas Dekati US$5.000 Didorong Gejolak Timur Tengah & Arah Suku Bunga The Fed
- Harga Emas Antam Naik Rp28.000 Hari Ini (20/2), Ukuran 1 Gram Tembus Rp2.944.000
Kenaikan harga juga didorong oleh produksi tambang emas global yang telah mencapai rekor tertinggi baru sebesar 3.671,6 ton pada 2025, dengan margin naik tipis, hanya sekitar 1% year-on-year (yoy).
Produksi tambang emas global telah melambat drastis dengan CAGR sebesar 1,16% dari 2018 hingga 2025. Meskipun volume permintaan emas global hanya mengalami CAGR sebesar 0,51% dari tahun 2018 hingga 2025, nilai permintaan emas mengalami CAGR sebesar 13,48% dari tahun 2018 hingga 2025.
"Lonjakan harga terutama didorong oleh pembelian emas yang berpusat pada investasi yang mengalami peningkatan 84% yoy menjadi 2.175,3 ton pada tahun 2025," jelas Head of Research NH Korindo Indonesia Ezaridho Ibnutama, dikutip Jumat (20/2/2026).
Di Indonesia, produksi emas juga belum pulih ke tingkat pra-pandemi karena beberapa komplikasi operasional dan kebijakan.
Volume produksi tahun 2025 juga diperkirakan akan tetap stagnan dengan tambang emas terbesar Indonesia, Grasberg, yang menghentikan produksi pada September 2025 setelah mengalami bencana tanah longsor besar-besaran.
"Tahun 2026, kemungkinan besar akan menyaksikan sedikit pemulihan volume produksi, dengan dimulainya kembali operasi Grasberg dan dimulainya proyek emas Pani milik Merdeka Group. Namun, pencabutan izin tambang Martabe milik United Tractor dan kemajuan yang lambat dari proyek Doup mereka dapat mencegah pemulihan yang lebih kuat dalam produksi emas domestik," jelasnya.
Namun demikian, minat terhadap emas sebagai aset akan tetap tinggi. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh The World Gold Council, lebih dari 65% responden menyatakan emas bersih sebagai kelas aset pilihan dan 43% menyebutkan perhiasan emas murni.
Selanjutnya, sekitar 15% menyatakan ETF emas sebagai pilihan yang lebih disukai, dan 18% lebih menyukai sekuritas emas lainnya.
"Keterikatan masyarakat Indonesia pada emas sebagai kelas aset ini mengisyaratkan kemungkinan adanya insentif untuk menabung dalam komoditas logam yang mempertahankan nilai daripada pengeluaran. Karena suku bunga simpanan deposito di Indonesia berada di angka 3,5%, kami melihat tren pembelian emas yang meningkat sebagai salah satu kontributor utama terhadap tren konsumsi yang menurun di negara ini," jelasnya.
Dibandingkan dengan kelas aset lain yang terjangkau bagi investor Indonesia, emas adalah aset dengan kinerja terbaik dengan kenaikan 44% pada tahun 2025.
Ini adalah tahun kedua berturut-turut di mana emas mengungguli kelas aset lain seperti ekuitas Asia (di luar Jepang), ekuitas global, ekuitas Indonesia, obligasi Indonesia, obligasi global, obligasi pemerintah AS, dan komoditas. Sebelumnya, pada tahun 2024, harga emas melonjak 33%.
"Kami berpendapat bahwa pemegang emas Indonesia masih optimis terhadap emas batangan. Oleh karena itu, modal individu mungkin akan terus mengalami arus masuk ke emas—yang selanjutnya akan menghambat konsumsi lokal," imbuh Ezaridho.
Analis mempertahankan peringkat overweight untuk emas dengan target harga di akhir tahun sebesar US$6.000 per ounce.
Permintaan di kalangan investor ritel dan institusional serta bank sentral diperkirakan akan tetap tinggi, dengan perkiraan penurunan suku bunga Fed juga kemungkinan akan mendorong harga emas naik.





