Grid.ID - Menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan kerap menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit maag maupun Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Perut yang tidak terisi apa pun selama belasan jam, ditambah adanya pergeseran waktu makan, sering kali membuat gejala nyeri lambung datang tiba-tiba.
Kendati demikian, kamu tidak perlu khawatir berlebihan. Dengan strategi yang tepat, keluhan lambung bisa dicegah. Ada beragam tips puasa untuk penderita asam lambung yang bisa dipraktikkan agar ibadah tetap khusyuk dan tubuh senantiasa bugar.
Terkait hal ini, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD, seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Universitas Indonesia, membagikan sejumlah panduan makan yang pantang diabaikan oleh orang dengan riwayat masalah lambung. Menurut dr. Andi, pantangan asupan sebenarnya kembali pada daya tahan masing-masing individu.
"Terkait makanan, hampir semua boleh kecuali yang memang pasiennya udah tidak cocok sedari awal, misal ada riwayatnya," kata Andi, Selasa (17/2/2026), dikutip Grid.ID dari Kompas.com.
Artinya, jika kamu sudah tahu bahwa sajian bersantan pekat, masakan super pedas, atau hidangan yang tingkat keasamannya tinggi bisa memicu nyeri perut, sebaiknya segera singkirkan menu-menu tersebut dari daftar konsumsimu.
Selanjutnya, aturan emas bagi mereka yang lambungnya sensitif adalah menghindari segala hal yang tidak proporsional.
"Kita mencoba menghindari makanan-makanan yang sifatnya terlalu," jelas Andi.
"Terlalu asam, terlalu asin, terlalu manis, terlalu banyak, terlalu sedikit, terlalu banyak dalam satu kali waktu," lanjutnya.
Khusus saat sahur maupun bedug maghrib tiba, kontrol porsi makan menjadi sangat krusial. Hindari ajang balas dendam dengan melahap semua hidangan di meja makan secara rakus.
"Berbuka puasa sama sahur itu porsinya jangan terlalu besar. Standar saja. Karena ini bukan seperti maju ke medan perang," jelas Andi.
Pada prinsipnya, penanganan masalah lambung tiap orang tentu berlainan, di mana sebagian orang cukup dengan mengatur menu makan harian mereka agar keluhannya mereda.
Tak hanya itu, tubuh manusia sejatinya telah dirancang sedemikian rupa untuk mampu menyesuaikan diri dengan sangat baik. Otak secara otomatis akan menginstruksikan saluran cerna untuk beradaptasi ketika kita meniatkan diri menahan lapar dan dahaga. Akan tetapi, transisi biologis ini tetap menuntut pengawasan supaya tidak memicu masalah yang lebih parah.
Di sisi lain, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, yang merupakan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi dan Hepatologi, meyakinkan bahwa puasa justru dapat menyehatkan organ pencernaan jika prosedurnya tepat.
Ia menyoroti bahwa biang keladi utama rusaknya kesehatan lambung tak lain adalah rutinitas makan yang berantakan. Kebiasaan membiarkan perut keroncongan lalu mendadak menyantap hidangan dalam jumlah masif sering kali memunculkan efek samping.
Dampaknya, perut akan terasa sangat begah, kembung, diiringi rasa perih luar biasa di area ulu hati yang menandakan naiknya asam lambung. Singkatnya, jadwal makan yang semrawut merupakan penyebab paling dominan mengapa penyakit maag seseorang sering kumat.
Selain itu, godaan camilan tidak sehat di luar jam makan utama juga memperparah keadaan. Terlalu sering jajan gorengan berlemak, masakan pedas, atau hidangan asam berpotensi besar melukai mukosa lambung.
Berkah dari berpuasa adalah terhentinya kebiasaan ngemil sembarangan tersebut. Absennya asupan sejak imsak hingga maghrib justru memberikan kesempatan emas bagi lambung untuk beristirahat leluasa dan memulihkan diri dari beban cerna yang berat.(*)
Artikel Asli



