China Perluas Siaran Negara Berbahasa Tibet, Dua Radio AS Dibekukan

viva.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

VIVA – Beijing memperluas jaringan siaran radio berbahasa Tibet di tengah menyusutnya akses media independen ke wilayah tersebut. Langkah ini menuai sorotan dari lembaga kebebasan pers internasional yang menilai kesenjangan informasi di Tibet semakin dalam.

Dalam peringatan Hari Radio Sedunia pada 13 Februari, organisasi kebebasan pers berbasis di Paris, Reporters Without Borders (RSF), mengungkapkan bahwa penyiar milik negara Tiongkok, China National Radio (CNR), secara signifikan meningkatkan jumlah program berbahasa Tibet dalam waktu kurang dari satu tahun.

Baca Juga :
12 Polisi Malaysia Ditangkap Diduga Rampok Aset Kripto WN Tiongkok Rp795 Juta
China Perkuat Kerja Ideologis, Pemikiran Xi Jinping 'Diajarkan' di Gereja

Menurut RSF, CNR memperluas program berbahasa Tibet dari hanya satu menjadi 17 program. Perluasan tersebut tercermin dalam jadwal siaran musim dingin yang dirilis oleh High Frequency Coordination Conference (HFCC) di Praha, lembaga yang mengoordinasikan frekuensi gelombang pendek antarpenyiar global.

RSF menilai ekspansi ini terjadi ketika layanan berbahasa Tibet dari media yang didanai Amerika Serikat—Radio Free Asia (RFA) dan Voice of America (VOA)—ditangguhkan. Selama bertahun-tahun, kedua media tersebut menjadi sumber informasi alternatif yang langka bagi masyarakat Tibet, termasuk laporan tentang dugaan pelanggaran hak asasi manusia, pembatasan kebebasan beragama, dan isu-isu budaya.

"Tanpa RFA dan VOA, hampir tidak ada suara tandingan yang dapat menantang propaganda rezim Tiongkok di Tibet," demikian pernyataan RSF. Organisasi itu menilai narasi resmi pemerintah secara konsisten menonjolkan Partai Komunis Tiongkok, mengampanyekan "persatuan etnis," dan mengaitkan perbedaan pendapat dengan campur tangan kekuatan asing.

Manajer Advokasi Asia-Pasifik RSF, Aleksandera Bielakowska, menyebut ekspansi siaran pemerintah sebagai bagian penting dari strategi Beijing dalam membentuk tatanan informasi global versi mereka. Ia mendesak negara-negara demokrasi untuk meningkatkan dukungan terhadap media Tibet independen dan meminta pimpinan USAGM memprioritaskan pemulihan layanan berbahasa Tibet sebelum publik sepenuhnya kehilangan sumber informasi alternatif.

Ekspansi ini dinilai sejalan dengan strategi komunikasi politik Beijing yang lebih luas. Pada peringatan 75 tahun Radio Tibet Tiongkok pada Mei 2025, Shen Haixiong—Wakil Kepala Departemen Publisitas Partai Komunis Tiongkok sekaligus kepala China Media Group—menyatakan tujuan penyiaran adalah memastikan pemikiran Presiden Xi Jinping "menembus hati berbagai etnis seperti hujan madu."

Baca Juga :
5 Negara yang Masih Gemar Menggunakan Mobil Manual Ketimbang Matic
China Bebaskan Visa untuk Kanada dan Inggris, Berlaku Mulai saat Imlek 17 Februari 2026
Kebanyakan Fitur Canggih, Pemilik Mobil Malah Sering Kesal

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polda Maluku komitmen perbaiki tata kelola keuangan usai audit BPK RI
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Tanggapan Pembelaan Richard Lee, Doktif: Tidak Ada Maling yang Ngaku
• 7 jam lalucumicumi.com
thumb
Elon Musk Dapat Uang Rp 50 Triliun dari Arab Saudi
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Gunung Semeru Erupsi Tujuh Kali pada Jumat Pagi, Tinggi Abu Capai 1 Kilometer
• 9 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Zrinjski vs Crystal Palace: Crystal Palace Ditahan Imbang Zrinjski 1-1, Debut Pahit Eagles di Eropa
• 17 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.