JAKARTA, KOMPAS.com - Menjelang waktu berbuka puasa, pemandangan antrean pelanggan selalu mencolok di salah satu lapak penjual kolak di kawasan Mangga Besar, Tamansari, Jakarta Barat.
Puluhan pembeli rela berdesakan dan mengantre panjang demi mendapatkan sebungkus takjil dari sebuah lapak kaki lima yang menggelar panci-panci berukuran besar berisi kolak.
Terlihat setidaknya delapan panci berukuran besar tersaji di atas meja yang berisi berbagai macam isian kolak mulai dari biji salak, pisang, singkong, hingga ubi dan labu.
Baca juga: Serunya War Takjil di Benhil: Warga Rela Antre, Dagangan Ludes Sebelum Maghrib
Aroma wangi pandan dan manisnya gula merah yang menguar dari panci-panci besar seolah menjadi magnet bagi para pencari takjil.
Saat Kompas.com mencoba membeli kolak yang tengah viral di media sosial ini pada Jumat (20/2/2026) sore, setidaknya ada 20 orang yang tengah mengantre.
Namun, durasi antreannya ternyata hanya sekitar sepuluh menit saja. Hal ini karena ada empat orang pelayan yang melayani pembeli.
Tangan-tangan para pelayan ini terlihat terampil, memasukkan satu persatu isian kolak sesuai dengan permintaan pelanggan.
Kolak viral itu dibanderol Rp 20.000 dengan ukuran porsi yang cukup besar dan bisa dinikmati oleh dua hingga tiga orang sekaligus.
Sebelum langit mulai berubah menjadi gelap, dagangan kolak tersebut sudah ludes terjual seluruhnya.
Namun, hingga menjelang waktu buka puasa, tak sedikit pembeli yang masih berdatangan dan akhirnya kembali pulang dengan wajah kecewa karena tak kebagian kolak idaman warga Mangga Besar tersebut.
Baca juga: Warga Nonmuslim Ikut War Takjil di Benhil, Incar Bubur Madura
Bisnis tiga generasiSosok dibalik kolak viral yang merajai perburuan takjil Ramadhan itu adalah Tri (48), seorang perantau asal Cirebon, Jawa Barat yang sudah puluhan tahun berjualan kolak.
Bagi Tri, kolak bukan sekadar takjil berbuka puasa, melainkan warisan turun-temurun di keluarganya yang terus ia jaga.
"Kalau usaha sih udah turun temurun ya. Saya baru ke Jakarta tahun 1991. Udah puluhan tahun. Intinya ini bisnis keluarga, generasi ketiga ini saya nih bagiannya," ucap Tri saat ditemui Kompas.com setelah mengemasi dagangannya.
Awalnya, bibinya yang memulai usaha penjualan kolak, sebelum akhirnya diteruskan oleh para keponakannya, dan berakhir saat ini dikelola oleh Tri.
"Pertama bibi saya, terus ada bibi saya yang lain lagi, sampai saya yang terakhir generasi ketiga," kata Tri.





