Bisnis.com, JAKARTA - Robotika kini menuju fase seperti komputer era 80-an: mulai masuk ke rumah-rumah buat membantu keseharian manusia. Pendiri sekaligus CEO Orbbec, Howard Huang jadi salah satu orang paling diuntungkan atas tren ini.
Orbbec berdiri pada 2013 sebagai perusahaan yang fokus pada sensor, kamera, dan pengindraan buat lanskap robotika. Sederhananya, membuat 'mata' bagi para robot melalui teknologi penglihatan 3D dan akal imitasi (AI).
Klien Orbbec mencakup pembuat autonomous mobile robot (AMR) untuk industri dan pergudangan, juga robot layanan untuk dijual secara massal ke rumah-rumah.
Untuk segmen industrial, beberapa nama besar yang menggunakan jasa Orbbec, antara lain Standard Robots dari China dan Twinny dari Korea.
Sementara kliennya untuk robot layanan end-user, ada robot 'bersih-bersih' besutan Pudu Robotics dan Gausium dari China. Ada juga robot perawat lansia Robocare dari Korea Selatan.
"Kami ingin robot memiliki kemampuan penglihatan yang melampaui kemampuan manusia," ungkap Huang soal ambisinya membawa Orbbec ke depan, dilansir Bisnis dari Forbes, Jumat (20/2/2026).
Baca Juga
- Robot Humanoid Mulai Bicara Seperti Manusia, Belajar Gerakkan Bibir dari YouTube
- Pelindo Bawa ke Ranah Hukum Dugaan Penyerobotan Bekas Rumah Kakek yang Jadi Dapur MBG
- Siloam (SILO) Buka Layanan Operasi Lutut Robotik di Makassar
Siapa sangka, Huang berasal dari latar belakang sederhana dan tidak pernah punya cita-cita menjadi orang tajir-melintir di bidang teknologi.
Tapi nyatanya, kini Huang telah resmi masuk Forbes real-time billionaires list, sebab Orbbec berpeluang membawanya meraup pendapatan besih kisaran US$1,5 miliar di tahun ini.
Huang punya ayah yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil, dan ibu seorang pengajar sekolah menengah buat mata pelajaran matematika, politik, dan musik.
Namun, Huang sejak kecil memang unggul perkara fisika, sehingga memutuskan meraih gelar sarjana di Universitas Peking.
Huang lantas melanjutkan gelar masternya di Universitas Nasional Singapura, dan meraih gelar PhD dari Universitas Kota Hong Kong. Semuanya di bidang teknik dan fokus pada sensor dan pengindraan.
Tak heran, ia sempat menjadi peneliti yang fokus pada optik 3D di beberapa lembaga, seperti Singapore-MIT Alliance for Research and Technology di Singapura dan Universitas Politeknik Hong Kong.
"Di dunia akademis, saya menerbitkan makalah penelitian, saya tidak dapat melihat aplikasi dunia nyatanya," katanya, dalam konteks niat awalnya memutuskan banting setir menjadi founder Orbbec.
Menariknya, Huang juga terinspirasi untuk berkarya sebagai industriawan, karena melihat I, Robot (2004), film fiksi ilmiah populer yang dibintangi Will Smith.
Menurutnya, film itu memiliki visi masa depan yang menarik untuk diimplementasikan.
Perjalanan Orbbec
Beragam inspirasi itu meneguhkan Huang untuk meminjam 10 juta yuan dari empat teman SMA-nya, lantas membangun produksi sensor penglihatan 3D pada sebuah pabrik sewa di bilangan Pearl River Delta, Guangdong, China.
Awalnya, transisi dari seorang peneliti menjadi wirausahawan tak selalu berjalan mulus, terutama ketika terhimpit masalah arus kas. Ia pun kembali meminta bantuan kenalan-kenalannya untuk coba bertahan.
"Kuliah itu mudah, saya mengerjakan prinsip dan algoritma, jadi tinggal beli kamera dan membuat demo. Tetapi setelah menjadi perusahaan, harus menangani semuanya sendiri. Mulai dari membuat cetakan hingga desain produk. Itu benar-benar tantangan," ungkapnya.
Mimpi Huang untuk membuat mata robot pun masih jauh panggang dari api. Alhasil, perangkat pertama yang dijualnya pada 2015 adalah pemindaian 3D, lantas 2017 disusul sensor untuk biometrik.
Beruntung, dua produk itu memperkenalkan Orbbec pada klien jumbo seperti Ant dan Oppo.
Waktu itu Orbbec adalah satu-satunya perusahaan yang menawarkan sensor pengenalan wajah canggih, di samping raksasa ponsel pintar Amerika Serikat, Apple.
Terlebih, kala itu, Apple yang punya resep pengenalan wajah 'Face ID' sama sekali tidak mau memberikan lisensinya kepada perusahaan lain, apalagi kompetitor.
Seiring bertambahnya daftar pelanggan ternama Orbbec, perusahaan ini menarik investor jumbo, seperti Ant, MediaTek Ventures besutan perancang cip asal Taiwan MediaTek, dan perusahaan investasi yang berbasis di Hong Kong SAIF Partners.
Spesialisasi Orbbec adalah kamera yang menangkap warna dan kedalaman untuk memindai wajah dan mengidentifikasi objek, juga sensor LIDAR atau deteksi dan pengukuran jarak cahaya untuk tugas jarak jauh seperti navigasi.
Kedua jenis sensor itu ternyata banyak berguna untuk ditanamkan secara individual atau dikombinasikan dalam lanskap robotika, mulai dari robot industri, AMR, mobil tanpa pengemudi, drone, hingga humanoid bertenaga AI.
Terkini, Orbbec tercatat mulai meraih untung sejak kuartal III/2025, yakni sebesar 69 juta yuan (US$9,8 juta) dari kerugian bersih tahun sebelumnya sebesar 102 juta yuan. Pendapatan pun meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 714 juta yuan.
Status Orbbec pun saat ini sudah menjelma menjadi pesaing terdekat dari RealSense yang berbasis di California.
RealSense juga terkenal memiliki klien jumbo sekaliber Unitree Robotics, salah satu pembuat robot humanoid paling terkenal di Tiongkok; Boston Dynamics, anak perusahaan Hyundai Motor Korea Selatan yang berbasis di Massachusetts; dan Agility Robotics yang didukung Nvidia, berbasis di Oregon.
Namun, Orbbec tak akan berhenti sebagai perusahaan pembuat sensor saja. Pada 2024, Huang resmi membuka pabrik perakitan AMR dengan kapasitas untuk merakit sekitar 100.000 robot per tahun.
Pabrik robot kedua Orbbec sedang dibangun di Vietnam buat menargetkan pasar luar negeri, seperti AS, memanfaatkan tarif AS yang lebih rendah dari negara itu.
"Saya selalu optimis tentang robotika, dan dengan munculnya AI, masa depan dalam robotika kini seluas bintang dan laut," tutupnya.





