Jakarta, VIVA – Menjaga kebugaran selama bulan Ramadhan menjadi tantangan tersendiri. Banyak orang ingin tetap aktif berolahraga tanpa mengganggu ibadah puasa. Salah satu strategi yang cukup sering dilakukan adalah olahraga sebelum sahur. Namun, apakah cara ini aman dan baik untuk kesehatan?
Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga dari RS Pondok Indah, Risky Dwi Rahayu, menjelaskan bahwa olahraga sebelum sahur sebenarnya boleh dilakukan, dengan beberapa catatan penting.
“Kalau misalkan boleh, ya boleh-boleh aja sebenarnya,” kata Dokter Risky saat sesi tanya jawab melalui daring dengan media pada Rabu, 18 Februari 2026.
Menurutnya, dari sisi waktu, olahraga bisa dilakukan kapan saja selama bulan puasa, termasuk sebelum sahur. Namun, ada perbedaan keuntungan dibandingkan jika dilakukan setelah berbuka.
“Kalau misalkan olahraganya itu kita lakukan setelah kita berbuka puasa keuntungannya adalah kita sudah memiliki energi penuh gitu ya. Untuk melakukan olahraga atau aktivitas fisik yang akan kita lakukan. Kemudian karena energi kita sudah penuh. Cairannya itu sudah dicukupi. Jadi kita akan lebih mampu untuk melakukan latihan-latihan dengan durasi lebih panjang. Atau intensitas yang lebih tinggi,” jelasnya.
Artinya, olahraga setelah berbuka puasa cenderung lebih optimal karena tubuh sudah mendapatkan asupan energi dan cairan. Umumnya, masyarakat Indonesia memilih berolahraga sekitar satu jam setelah berbuka dengan menu ringan terlebih dahulu.
“Umumnya memang untuk orang Indonesia terutama. Olahraganya itu dilakukannya itu satu jam setelah berbuka puasa gitu. Dan itupun setelah buka puasa. Buka puasanya juga bukan buka puasa yang makan besar gitu ya. Jadi mungkin hanya cukup asupan karbohidrat dan protein. Kemudian ditunggu dulu. Baru setelah itu dilakukan olahraga. Nanti makan besarnya itu setelah berolahraga,” jelasnya lagi.
Lalu bagaimana dengan olahraga yang dilakukan sebelum sahur dan berpuasa seharian? Dokter menjelaskan bahwa sebenarnya bisa-bisa saja.
“Nah, kalau pertanyaannya olahraga sebelum sahur itu bisa atau tidak. Sebenarnya bisa-bisa aja,” terang dokter.
Strategi ini biasanya dilakukan oleh atlet yang membutuhkan latihan dengan durasi panjang atau intensitas tinggi.
“Ini itu terutama dilakukan, strategi ini dilakukan pada atlet-atlet yang membutuhkan waktu latihan yang panjang. Tapi latihan itu mungkin perlu intensitas tinggi atau durasinya lebih lama,” terangnya.





