Bisnis.com, BATAM — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang regional memunculkan dinamika baru bagi dunia usaha di Batam. Di satu sisi tekanan kurs menjadi tantangan berat bagi pelaku usaha berbasis impor, namun di sisi lain justru menjadi berkah bagi sektor ekspor dan pariwisata.
Nilai tukar rupiah tercatat berada di kisaran Rp4.290 per ringgit Malaysia dan Rp13.325 per dolar Singapura. Kondisi ini berdampak langsung pada struktur biaya pelaku usaha, terutama yang mengandalkan bahan baku impor tetapi memasarkan produknya di dalam negeri.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam Rafki Rasyid mengatakan kelompok usaha tersebut menghadapi tekanan ganda. Biaya impor naik seiring melemahnya rupiah, sementara daya beli masyarakat domestik belum tentu ikut meningkat.
"Biaya produksi naik karena bahan baku impor menjadi lebih mahal. Namun pasar domestik belum tentu bisa menyerap kenaikan harga, sehingga margin keuntungan tertekan," kata Rafki Rasyid belum lama ini.
Berbeda halnya dengan perusahaan berorientasi ekspor. Menurut Rafki, pelaku usaha yang menjual produknya ke luar negeri justru menikmati selisih kurs karena pendapatan dalam mata uang asing meningkat ketika dikonversi ke rupiah.
Sebagian besar biaya operasional perusahaan di Batam dibayarkan dalam rupiah, sementara penerimaan diperoleh dalam dolar Singapura maupun mata uang asing lainnya. Situasi ini membuat eksportir relatif lebih stabil, bahkan berpotensi menambah keuntungan.
Baca Juga
- Muhamad Suryadi Ditunjuk Jadi Dirut Bank Sumsel Babel? Ini Profilnya!
- Pertamina Tebar Promo Bright Gas Selama Ramadan-IdulFitri 2026
- AS Berpotensi Investasi Rp533 Triliun di Batam, Ini Daftar Industri yang Dibangun
Namun demikian, tantangan muncul bagi perusahaan yang memiliki kewajiban utang dalam mata uang asing. Ketika rupiah melemah, nilai cicilan dan pokok pinjaman otomatis membengkak dalam rupiah, sehingga meningkatkan beban keuangan.
Dampak kurs juga dirasakan masyarakat. Harga produk impor berpotensi naik yang pada akhirnya dapat menekan konsumsi rumah tangga.
Di tengah situasi tersebut, Batam sebagai kawasan industri dan perdagangan internasional dinilai tetap prospektif untuk ekspansi usaha. Pelemahan rupiah justru bisa menjadi momentum bagi perusahaan ekspor untuk memperluas pasar.
Selain sektor industri, pariwisata di Kepulauan Riau turut terdorong. Menguatnya mata uang negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura membuat biaya berwisata ke Indonesia relatif lebih murah bagi warga negara mereka.
"Ketika mata uang mereka lebih kuat, belanja dan wisata di Indonesia menjadi lebih terjangkau. Beberapa bulan terakhir, peningkatan kunjungan wisatawan asing mulai terasa," kata Rafki.
Dengan kondisi tersebut, pelemahan rupiah menghadirkan dua sisi berbeda: tekanan bagi pelaku usaha impor dan peluang bagi eksportir serta sektor pariwisata di Batam dan sekitarnya.





