JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap alasan perpanjangan izin Freeport di Papua.
"Terkait perpanjangan Freeport, kita tahu bahwa dua tahun terakhir telah kita melakukan negosiasi, komunikasi intens antara pemerintah Indonesia, Mind ID, dan Freeport-McMoRan. Secara kebetulan, puncak produksi Freeport itu puncak-puncaknya 2035," kata Bahlil, Jumat (20/2/2026), dipantau dari Breaking News KompasTV.
Dia mengatakan Freeport memproduksi 3,2 juta ton biji konsentrat tembaga. Menurutnya, itu menghasilkan sekitar 900.000 ton lebih tembaga dan sekitar 50-60 ton emas per tahunnya.
"Oleh karena 2035 itu adalah puncaknya, maka kita berpandangan bahwa penting untuk kita mencari solusi dalam rangka eksistensi dan keberlanjutan daripada usaha di Timika, di Papua," katanya.
Baca Juga: Menteri ESDM Bicara Soal Perpanjangan Izin Tambang Freeport, RI Dapat Tambahan 12 Persen Saham
Bahlil mengungkapkan saham Indonesia di Freeport saat ini sebesar 51 persen. Ia mengatakan akan ada penambahan saham 12 persen dengan adanya perpanjangan.
"Perpanjangannya ini kita lakukan dengan maksud agar bisa dilakukan eksplorasi di awal dengan menambah 12 persen saham kepada negara. Jadi dilakukan divestasi (pelepasan). 12 persen ini tanpa ada biaya apa pun, khususnya untuk pengambilalihan 12 persen," jelasnya.
"Namun dalam proses untuk bagaimana meningkatkan eksplorasi pasti di situ membutuhkan biaya. Di situlah ditanggung renteng (ditanggung bersama)."
Oleh karena itu, kata Bahlil, pada 2041 negara akan mendapatkan saham sebesar 63 persen, berasal dari saham 51 persen ditambah 12 persen.
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Kompas TV
- menteri esdm
- bahlil lahadalia
- freeport
- perpanjangan izin freeport
- izin freeport
- PT Freeport Indonesia





