Drama China vs Drakor dan Anime: Mengapa Popularitasnya Berbeda?

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita
Drama China Tersebar Luas di Internet

Drama China sebenarnya sangat mudah untuk ditemukan di ruang digital hari ini. Setiap membuka media sosial—seperti Tiktok ataupun Youtube Shorts—iklannya hampir selalu muncul.

Klip-klip drama China hadir dalam bentuk video pendek dengan potongan konflik yang menggantung, seperti potongan adegan dramatis lengkap dengan teks emosional yang mengajak para penonton untuk menonton versi penuhnya. Aksesnya pun sederhana, tidak perlu berlangganan mahal, tidak diminta menunggu jadwal tayang, cukup lewat ponsel.

Anehnya, kemudahan itu tidak selalu berbanding lurus dengan minat dari penonton. Banyak pengguna media sosial justru melewati iklan tersebut begitu saja. Bukan karena tidak tahu, melainkan karena tidak tertarik. Kemudian muncul pertanyaan yang menurut saya menarik: Apakah promosi yang masif (massive promotion) akan benar-benar berhasil, atau justru terasa terlalu memaksa?

Saya merasa ketika sesuatu terlalu sering muncul dengan gaya promosi yang terkesan sama, lama-kelamaan hal itu akan kehilangan daya tariknya—hadir jarak antara visibilitas serta ketertarikan, dan melalui jarak inilah yang tampaknya belum berhasil dijembatani oleh China.

Cara Korea Selatan dan Jepang Membuat Budayanya Mudah Disukai

Alih-alih mengandalkan massive promotion, drama Korea (drakor) dan anime dari Jepang malah dikenal karena pengalaman menonton yang menyenangkan. Contohnya seperti di Indonesia, banyak penonton dari Indonesia mengenal budaya dari kedua negara tersebut secara tidak sengaja karena terbawa dari cerita yang mereka saksikan.

Mulai dari drama atau animasi tentang keluarga, kisah sekolah, sampai cerita tentang persahabatan dan fiksi penggemar, semua genre terasa ringan untuk diikuti. Promosi memang penting, tapi yang lebih menentukan adalah bagaimana membuat penonton ingin terus mengikuti alurnya.

Kekuatan utama Korea Selatan dan Jepang terletak pada cara penyampaian bercerita dari drakor dan anime. Budaya tidak secara langsung dijadikan sebagai simbol, tetapi sebagai bagian dari keseharian tokoh yang berperan. Kemudian, penonton diajak mengikuti cerita dan tanpa sadar menyerap kebiasaan dan gaya hidup yang ditampilkan.

Popularitas dari drakor dan anime bukan hanya berhasil secara entertaiment, melainkan juga sektor lain seperti ekonomi, pariwisata, hingga produk konsumsi yang menyebar di skala global. Tidak heran bila banyak orang akhirnya tertarik untuk mengenal lebih jauh budaya kedua negara ini.

Drama China Dianggap "Kurang Nempel"

Pada titik ini, drama China mulai mendapat kritik; bukan karena produksinya buruk atau ceritanya miskin ide, melainkan karena banyak drama terasa kurang membekas.

Alur konfliknya berkembang dengan pola mudah ditebak, sementara bagian plot twist justru minim—penonton bahkan dapat menebak akhir cerita sebelum pertengahan episode. Beberapa penonton juga menilai akting para pemainnya terasa kurang natural, apalagi dalam mengekspresikan emosi yang kompleks.

Kondisi ini semakin terasa jika dilihat dari kebiasaan menonton generasi muda. Audiens remaja dan dewasa saat ini lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai di tangan, berpindah cepat dari satu konten ke konten lain. Drama yang berjalan lambat dan terlalu panjang dianggap kurang menarik untuk diikuti sampai akhir.

Mungkin bagi penonton yang lebih tua, alur seperti ini masih bisa dinikmati sebagai hiburan santai. Namun, perbedaan pola konsumsi media sosial antara generasi muda dan orang tua cukup mencolok. Ketika anak muda terbiasa dengan konten cepat dan ringkas, drama China yang terasa datar berisiko ditinggalkan di tengah jalan.

Tak hanya itu, banyak drama China cenderung mengangkat tema-tema yang kurang dekat dengan kehidupan modern audiens muda. Cerita berlatar masa lalu, kisah kerajaan, atau konflik tradisional memang punya nilai artistik tersendiri, tetapi tidak selalu relevan bagi penonton yang mencari cerminan kehidupan sehari-hari. Tema semacam ini sering dianggap berat dan melelahkan.

Peluang China Menyebarkan Karya Visualnya

Di balik berbagai kritik, peluang untuk berkembangnya drama China masih terbuka lebar. Dengan industri hiburan yang besar dan pasar domestik yang kuat, China memiliki modal yang tidak dimiliki banyak negara lain. Masalahnya lebih pada pengembangan cerita dari naskah drama China itu sendiri dan latar belakang dramanya tidak selalu harus historical.

Saya melihat tantangan sekaligus peluang drama China, di mana kedua hal tersebut ada pada keberanian untuk mengubah ceritanya lebih relate dengan kehidupan penonton.

Jika diterapkan, drama China mempunyai potensi untuk mengimbangi drakor ataupun anime. China juga dapat belajar dari kedua negara itu agar mampu menggapai minat dan daya tarik global. Selain itu, memberi kepercayaan lebih besar pada penulis dan aktor untuk mengekspresikan karakter secara natural bisa membuat cerita terasa lebih hidup.

Penutup

Persoalan drama China bukan terletak pada seberapa gencar promosi yang dilakukan, melainkan pada kesan yang ditinggalkan oleh ceritanya. Akses yang mudah dan visibilitas yang tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan ketertarikan penonton.

Banyak orang bisa saja melihat penggalan dari klip drama China, tetapi tidak merasa perlu melanjutkannya. Jika China ingin dramanya lebih diperhitungkan secara global, menurut saya fokusnya perlu bergeser: memperkuat kualitas cerita dan karakter.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pramono Tegakkan Pergub 18 Tahun 2018, Tindak Tegas Tempat Hiburan Bandel
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Selly Andriany Desak Hukuman Maksimal untuk Bripka Masias Siahaya Usai Penganiayaan Pelajar di Maluku Tenggara
• 11 jam lalupantau.com
thumb
Besok Hari Ketiga Puasa Ramadan, Catat Jadwal Imsak dan Berbuka Wilayah Jakarta
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
38,71 Juta Orang Diproyeksi menuju Jateng, Jadi Simpul Terpadat Mudik 2026
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Raja Charles III Menyatakan Keprihatinan Mendalam atas Penangkapan Andrew Mountbatten-Windsor
• 22 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.