Viral di Maya, Dangkal di Makna: Jebakan Dakwah dalam Algoritma

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Tanpa sadar, mimbar dakwah hari ini telah bermigrasi. Ia tidak lagi sekadar berdiri megah dari kayu jati di dalam masjid, tetapi juga menyusup ke layar kaca selebar enam inci di genggaman tangan kita.

Di sanalah, "tuhan kecil" bernama algoritma bekerja dalam diam. Ia menjadi penentu nasib: siapa yang suaranya akan didengar jutaan orang dan siapa yang akan tenggelam dalam sunyinya rimba digital.

Realitas ini membawa pergeseran yang cukup meresahkan. Di era For You Page (FYP), konten keagamaan sering kali dipaksa tunduk pada hukum pasar: "yang penting viral dulu, urusan isi belakangan."

Akibatnya, kita sering menyaksikan fenomena di mana agama bukan lagi hadir sebagai tuntunan yang menenangkan, melainkan sekadar tontonan yang memicu perdebatan.

Nilai sakral dakwah perlahan mengalami komodifikasi; dipotong-potong menjadi klip 60 detik yang kehilangan konteks, demi memuaskan dahaga interaksi sesaat.

Pertanyaannya kemudian: Apakah pendakwah hari ini harus "menjual" sensasi demi eksistensi, atau ada jalan tengah untuk tetap relevan tanpa kehilangan esensi?

Jebakan Dekontekstualisasi

Algoritma media sosial bekerja dengan logika kecepatan. Durasi adalah musuh dan atensi pemirsa di detik pertama adalah segalanya. Di sinilah letak bahaya terbesarnya: dekontekstualisasi.

Ilmu agama yang sejatinya adalah samudra luas lengkap dengan kedalaman dalil, asbabun nuzul, hingga perbedaan mazhab dipaksa masuk ke dalam "gelas ukur" sempit bernama durasi 60 detik.

Dampaknya, kita sering melihat fenomena fragmentasi pesan. Sebuah ceramah panjang yang utuh sering kali dipotong tepat pada kalimat yang paling provokatif atau emosional demi memancing share and comment.

Potongan-potongan tanpa konteks inilah yang kemudian dikonsumsi mentah-mentah oleh publik. Kolom komentar pun berubah menjadi medan perdebatan liar. Netizen saling menghakimi bermodalkan klip pendek tanpa memahami hulu dan hilir persoalannya.

Ketika validitas ilmu dikalahkan oleh validitas viralitas, agama tidak lagi memandu akal, tetapi sekadar memuaskan nafsu untuk merasa paling benar.

Strategi Komunikasi Adaptif

Lantas, apakah solusinya adalah meninggalkan media sosial dan kembali ke mimbar konvensional? Tentu tidak. Menolak teknologi hari ini sama saja dengan membiarkan ruang digital diisi oleh kekosongan atau lebih buruk, yaitu oleh kesesatan.

Solusinya tidak memusuhi algoritma, tetapi mengubah strategi permainannya melalui pendekatan "komunikasi profetik" yang adaptif. Prinsipnya sederhana: sampaikanlah kebenaran dengan bahasa kaumnya (lisanan qauman).

Kuncinya ada pada creative packaging atau pengemasan kreatif. Substansi dakwah yang "berat" dan mendalam tidak harus disampaikan dengan kening berkerut. Ia bisa dikemas ulang menjadi narasi yang relevan dengan kegelisahan anak muda hari ini.

Pendakwah perlu piawai melakukan decoding bahasa teks ke dalam visual dan storytelling yang renyah. Misalnya, membahas fikih muamalah dengan studi kasus paylater, atau bicara akhlak dengan analogi mental health.

Tujuannya tidak untuk memurahkan nilai agama (reduksi), tetapi memudahkan akses audiens terhadap kebenaran (simplifikasi). Di titik ini, viralitas hanyalah bonus dari kualitas konten yang mampu menyentuh logika dan rasa secara bersamaan.

Menjaga Kewarasan Digital

Pada akhirnya, kita perlu menyadari bahwa algoritma hanyalah mesin hitung, bukan mesin hati. Ia bisa mengukur popularitas dengan presisi, tapi ia tak akan pernah bisa menakar keikhlasan dan keberkahan sebuah pesan.

Jangan sampai obsesi kita terhadap angka engagement membuat kita lupa pada tujuan awal dakwah: menyampaikan kebenaran, bukan sekadar mencari tepuk tangan. Viralitas di dunia maya memang menggoda, tetapi sifatnya fana dan cepat berlalu.

Sebaliknya, jejak kebaikan yang disampaikan dengan ilmu dan adab akan membekas lama di benak umat. Mari kita gunakan media sosial sebagai panggung untuk menebar rahmat, bukan melahirkan debat. Jadilah pendakwah yang tidak hanya memenangkan algoritma, tetapi juga memenangkan hati manusia dengan integritas yang terjaga.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ini Hasil Autopsi ABG Sukabumi yang Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri
• 2 jam laludetik.com
thumb
Sering Bikin Was-was Saat Ramadan, Simak Tips Puasa untuk Penderita Asam Lambung Menurut Pakar, Jangan Sampai Salah Kaprah
• 22 jam lalugrid.id
thumb
Apa Rahasia Sri Lanka Jadi Kebun Teh Dunia?
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
TNI Gencarkan Pembersihan SDN di Tapteng Demi Percepat Aktivitas Belajar
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
KAI Daop 6 Yogya Larang Warga Ngabuburit di Rel Kereta, Bisa Dipenjara-Didenda
• 29 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.