Kronologi Penerima LPDP Pamer Paspor Anak Jadi WNA Inggris, Berujung Minta Maaf Usai Panen Hujatan

grid.id
3 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Penerima LPDP pamer paspor anak jadi WNA Inggris kini berujung minta maaf, Imbas panen hujatan dari publik gegara aksinya.

Nama Dwi Sasetyaningtyas atau akrab disapa Tyas mendadak menjadi sorotan publik setelah video yang menampilkan dirinya mengurus paspor asing untuk anaknya beredar luas di media sosial. Alumni penerima beasiswa LPDP itu akhirnya menyampaikan permintaan maaf terbuka menyusul gelombang kritik warganet.

Berikut kronologi penerima LPDP pamer paspor anak jadi WNA Inggris. Kini berujung minta maaf usai panen hujatan dari publik.

Video itu pertama kali dibagikan melalui akun media sosial pribadi Dwi Sasetyaningtyas. Dalam tayangan tersebut, ia menunjukkan dokumen kewarganegaraan Inggris milik anaknya sambil menyampaikan rasa bahagianya.

“Aku tahu dunia terlihat nggak adil, tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu,” ucapnya dalam video yang dikutip dari akun TikTok @mediaevent_.

Pernyataan tersebut kemudian menuai sorotan tajam dari warganet. Banyak yang menilai ucapannya terkesan meremehkan paspor Indonesia dan kurang mencerminkan sikap nasionalisme, terlebih ia diketahui sebagai penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang pendanaannya berasal dari anggaran negara.

Sejumlah komentar di media sosial menyebut pernyataannya tidak sensitif. Kritik juga menyinggung statusnya sebagai awardee LPDP yang memiliki kewajiban pengabdian setelah menyelesaikan studi.

Tak lama kemudian, video tersebut dihapus dari akun pribadinya. Namun, potongan rekamannya sudah lebih dulu tersebar luas dan menjadi perbincangan publik.

Klarifikasi dan Permohonan Maaf

Menanggapi gelombang kritik yang muncul, Dwi Sasetyaningtyas akhirnya menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf melalui akun media sosialnya. Ia mengakui ucapannya telah memicu polemik dan menimbulkan salah paham di tengah masyarakat.

“Saya meminta maaf atas pernyataan saya yang menimbulkan kegaduhan dan melukai perasaan banyak pihak. Tidak ada sedikit pun niat saya untuk merendahkan bangsa sendiri. Saya bangga menjadi WNI,” tulisnya, dikutip dari Wartakotalive.om.

 

Ia menegaskan bahwa video tersebut merupakan ekspresi pribadi sebagai orang tua, bukan bentuk sikap terhadap Indonesia. Berikut pernyataan dan permintaan maaf lengkap dari Dwi:

"Sehubungan dengan unggahan saya sebelumnya yang memuat kalimat “cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan”, dengan ini saya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung, maupun tidak nyaman atas pernyataan tersebut.

Pernyataan tersebut lahir sepenuhnya dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadi saya sebagai Warga Negara Indonesia terhadap berbagai kondisi yang saya rasakan.

Namun, saya menyadari bahwa kekecewaan tersebut tidak seharusnya disampaikan dengan cara yang berpotensi melukai perasaan banyak orang, terlebih berkaitan dengan identitas kebangsaan yang kita junjung bersama.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa kalimat tersebut kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai Warga Negara Indonesia.

Untuk itu, saya mengakui kesalahan saya dalam pemilihan kata dan menyampaikannya di ruang publik. Apa pun latar belakang emosi yang melatarinya, dampak dari pernyataan tersebut tetap menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya.

Melalui pernyataan ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersakiti serta atas kegaduhan yang terjadi.

Saya sangat menghargai setiap kritik dan masukan yang telah disampaikan secara baik dan konstruktif, sebagai pembelajaran untuk terus memperbaiki diri, termasuk belajar berkomunikasi dengan lebih bijaksana, lebih jernih, dan lebih berempati dalam menyampaikan pandangan di ruang publik.

Saya mencintai Indonesia, dengan segala harapan dan tantangannya, dan semoga saya tetap bisa terus berkontribusi untuk Indonesia hari ini dan di masa depan.

Semoga di bulan suci Ramadan ini, kita bisa saling menata hati, memperbaiki diri, dan fokus menjalankan ibadah sepenuh hati".

Profil dan Latar Belakang

 

Dwi Sasetyaningtyas tercatat sebagai alumni penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Institut Teknologi Bandung, kemudian melanjutkan studi magister di Delft University of Technology.

Dalam kesehariannya, ia dikenal aktif mengampanyekan isu lingkungan dan pengelolaan sampah, serta rutin membagikan konten edukatif melalui media sosial. Kontroversi yang muncul ikut memantik kembali diskusi mengenai kewajiban pengabdian alumni LPDP di Indonesia melalui skema 2n+1, yakni dua kali masa studi ditambah satu tahun.

Meski begitu, sebagian kalangan berpendapat bahwa kewarganegaraan anak dan keputusan keluarga tetap menjadi ranah pribadi. Kasus ini mencerminkan besarnya harapan publik terhadap penerima beasiswa negara, bukan hanya dalam hal capaian akademik, tetapi juga sebagai representasi komitmen terhadap bangsa. (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kedaulatan Teknologi Jadi Fondasi Pengembangan Mobil Nasional
• 8 jam lalueranasional.com
thumb
Silakan Disimak Hasil Riset Labsosio UI tentang Program MBG
• 20 jam lalujpnn.com
thumb
Sahur on The Road di Kampung Budaya Polowijen, Ada Patrol dan Tari Topeng
• 19 jam lalubisnis.com
thumb
KAI Masih Pulihkan Gangguan Infrastruktur Imbas KA Bandara Soetta Tertemper Truk di Poris
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
Natalius Pigai Soroti Tuntutan Hukuman Mati ABK Buntut Kasus Bawa Sabu 2 Ton, Tak Sesuai HAM
• 18 menit laluliputan6.com
Berhasil disimpan.