Istanbul (ANTARA) - Hari-hari pada awal Februari di Istanbul, Turki, didominasi dengan langit mendung dan gerimis. Orang-orang seakan mengadakan lomba lari kecil-kecilan satu sama lain, pun dengan rintik-rintik hujan yang seakan tak mau kalah.
Di tengah kelamnya langit yang menyelimuti kota yang terletak di antara dua benua itu, sebuah pojok jalanan kecil terlihat mencolok dengan warna-warna cerah yang menghiasinya.
Kawasan penuh warna itu adalah Balat. Tak hanya mencolok dengan ragam rona, Balat juga menawarkan ketenangan yang kontras dengan hiruk-pikuk kota wisata Istanbul.
Tampak depan Velvet Cafe, Balat, Istanbul, diambil pada Kamis (12/2/2026). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira)
Anak tangga penuh warna, bendera-bendera kecil Turki di atas kepala, serta kafe rumahan dan toko-toko barang antik menyambut pengunjung dengan ramah. Oh, tak lupa juga, kucing-kucing gemas yang menanti untuk disapa.
Balat, menurut warga setempat, merupakan tempat budaya saling berpadu dan hidup. Selama berabad-abad, Balat telah menjadi rumah bagi orang Muslim, Armenia, Yahudi, bahkan Yunani. Kepingan ragam budaya itu membentuk jalan-jalan di sana.
Keberagaman ini tidak dibungkus dalam bangunan megah seperti Hagia Sofia atau pun Masjid Sultanahmet, melainkan melalui tradisi sederhana yang masih terjaga dan dapat dirasakan, termasuk di meja sarapan.
Pemilik cafe, Yuskel Kukul, menyajikan sejumlah makanan dan makanan pelengkap dalam set sarapan dan brunch untuk peserta/tim media AirAsia X dan TGA di Velvet Cafe, Balat, Istanbul, diambil pada Kamis (12/2/2026). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira)
Baca juga: Selalu ada anabul di setiap jalanan Istanbul
Kehangatan di atas meja
Di pojok jalanan kawasan Balat, rumah yang memadukan warna kayu dan merah berdiri dengan kokoh, bersama dengan penanda bertuliskan Velvet Cafe di atasnya.
Waktu seolah melambat sesaat setelah pengunjung membuka pintu. Meskipun bukan warga setempat, pengunjung akan merasa seperti memasuki sebuah set film lama atau film drama dari Eropa seperti “Amour” (2012) atau bahkan “Sentimental Value” (2025).
Deretan piring dan cangkir vintage, meja-meja makan yang ditutupi taplak berenda, hingga telepon analog dan buku-buku klasik segera memanjakan mata.
Tak lama, sang pemilik dan pengelola kafe, Yuksel Kukul, turut menyapa dengan semangat siapa pun yang masuk ke dalam “mesin waktu” tersebut.
Hiasan atau set dekorasi di dalam Velvet Cafe, Balat, Istanbul, diambil pada Kamis (12/2/2026). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira)
Kafe ini terkenal dengan hidangan sarapan dan brunch bagi warga lokal dan turis. Tidak hanya menyajikan makanan dan minuman lezat, Velvet Cafe menawarkan pengalaman sarapan tradisional keluarga Turki.
Yuksel mengatakan kafe yang merupakan bisnis keluarga ini telah berdiri sejak tahun 2018. Ia bercerita, sang nenek adalah alasan mengapa ia bersama ibu dan bibinya membangun bisnis ini bersama-sama.
“Alasan pertama mengapa kami membuka kafe ini adalah untuk mengenang nenek saya. Kami memiliki ikatan yang sangat baik di antara anggota keluarga kami, dan ini juga merupakan akar dari mana cerita kami berasal,”ujar Yuksel.
Senyuman seakan tidak bisa terlepas dari wajahnya yang dibingkai dengan kacamata bulat. Yuksel mengatakan, akar dari keluarga neneknya berasal dari Sudan, Afrika Utara.
Set keju dan sayuran yang disajikan di Velvet Cafe, Balat, Istanbul, diambil pada Kamis (12/2/2026). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira)
Baca juga: Turki tawarkan insentif tunai dongkrak penjualan drama TV lokal
Memasak pun bukanlah hal yang asing bagi keluarga Yuksel sejak dahulu. Kakek buyut dan neneknya mengelola tempat makan sendiri, dan bisnis seperti itu turut dilanjutkan oleh sang cucu saat ini.
Tak lama, partner Yuskel, Begum, membawa nampan dengan sejumlah piring kecil berisikan empat jenis keju, dua jenis zaitun, berbagai jenis selai — manis dan asin, krim, dua jenis mentega, sayuran, dua jenis telur orak-arik (scrambled egg), dan beberapa jenis acar.
Yuskel membantu Begum yang ia sebut sebagai soul sister-nya itu dengan membawakan keranjang roti dan bagel, serta pisi hangat — adonan goreng yang rasanya kurang lebih mirip dengan cakwe di Indonesia.
Sembari menyajikan hidangan-hidangan itu di atas meja, Yuskel menjelaskan bagaimana seluruh makanan itu dibuat langsung dan berdasarkan resep turun-temurun.
Kopi Turki yang disajikan di Velvet Cafe, Balat, Istanbul, diambil pada Kamis (12/2/2026). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira) “Kami membuat semuanya di dapur kami dengan resep kami sendiri. Khususnya untuk brunch atau sarapan, kami memilih semua bahan makanannya sendiri dari seluruh negeri,” kata dia.
Seiring makanan penuh warna yang tersaji, suasana langsung menghangat meskipun hujan masih turun dengan rapi di luar kafe. Orang-orang yang duduk di meja yang sama pun saling bertukar pendapat mengenai cita rasa yang menghampiri indera mereka.
Roti yang dihidangkan berpadu dengan nyaman di lidah bersama dengan condiment yang menyertai. Rasanya seperti sebuah “pesta” dalam setiap kecapan. Terkadang ada rasa asam dan asin dari hummus, bisa juga sedikit pedas jika dimakan bersama scrambled egg dan potongan sucuk atau sosis pedas khas Turki.
Baca juga: Presiden Turki dorong integrasi transportasi negara Muslim
Menjaga tradisi
Aret, pemandu yang menemani ANTARA dan tim media AirAsia X serta Badan Pariwisata Turki (TGA), mengatakan menu sarapan ini mengingatkannya pada makanan yang biasa ia santap bersama keluarga besarnya dulu.
Ia mengatakan, saat ini keluarga modern Turki sudah cukup jarang mengadakan santap sarapan atau brunch bersama, entah karena dunia yang semakin sibuk atau generasi baru yang belum sempat mempelajari resep dari sang tetua.
Teh (chai) hangat Turki yang disajikan di Velvet Cafe, Balat, Istanbul, diambil pada Kamis (12/2/2026). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira)
Yuskel memiliki keresahan yang sama. Oleh karenanya, ia ingin terus menjaga tradisi dan kenangan keluarganya melalui sekeranjang roti, ragam cocolan, serta menutupnya dengan secangkir chai atau pun kopi hangat bersama dengan Turkish delight yang manis.
“Kami ingin membawa cerita dan keramahan ini ke luar untuk berbagi dengan para tamu kami. Kafe ini pun seperti tempat nenek. Itulah mengapa kami sangat senang menghidupkannya kembali dari masa lalu,” kata dia.
Seiring dengan Yuskel yang mengakhiri cerita dari memori masa kecilnya, santap pagi-menuju-siang di atas meja pun turut tuntas. Matahari juga dengan malu-malu mengintip dari balik awan mendung di luar Velvet Cafe.
Kenangan keluarga Yuskel menjadi rasa yang tertinggal selain makanan yang ia sajikan. Cerita-cerita baru dari berbagai individu juga membekas di sana: di perabotan-perabotan tua, di gaun pernikahan sang nenek yang dipigura, dan di teras kecil yang terus menjaga kebahagiaan dari waktu ke waktu.
Baca juga: Kiat gaet turis tinggal lebih lama di DKI mencontoh Filipina dan Turki
Baca juga: Desa wisata terbaik versi PBB di Turki bidik sektor ekowisata
Di tengah kelamnya langit yang menyelimuti kota yang terletak di antara dua benua itu, sebuah pojok jalanan kecil terlihat mencolok dengan warna-warna cerah yang menghiasinya.
Kawasan penuh warna itu adalah Balat. Tak hanya mencolok dengan ragam rona, Balat juga menawarkan ketenangan yang kontras dengan hiruk-pikuk kota wisata Istanbul.
Tampak depan Velvet Cafe, Balat, Istanbul, diambil pada Kamis (12/2/2026). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira)
Anak tangga penuh warna, bendera-bendera kecil Turki di atas kepala, serta kafe rumahan dan toko-toko barang antik menyambut pengunjung dengan ramah. Oh, tak lupa juga, kucing-kucing gemas yang menanti untuk disapa.
Balat, menurut warga setempat, merupakan tempat budaya saling berpadu dan hidup. Selama berabad-abad, Balat telah menjadi rumah bagi orang Muslim, Armenia, Yahudi, bahkan Yunani. Kepingan ragam budaya itu membentuk jalan-jalan di sana.
Keberagaman ini tidak dibungkus dalam bangunan megah seperti Hagia Sofia atau pun Masjid Sultanahmet, melainkan melalui tradisi sederhana yang masih terjaga dan dapat dirasakan, termasuk di meja sarapan.
Pemilik cafe, Yuskel Kukul, menyajikan sejumlah makanan dan makanan pelengkap dalam set sarapan dan brunch untuk peserta/tim media AirAsia X dan TGA di Velvet Cafe, Balat, Istanbul, diambil pada Kamis (12/2/2026). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira)
Baca juga: Selalu ada anabul di setiap jalanan Istanbul
Kehangatan di atas meja
Di pojok jalanan kawasan Balat, rumah yang memadukan warna kayu dan merah berdiri dengan kokoh, bersama dengan penanda bertuliskan Velvet Cafe di atasnya.
Waktu seolah melambat sesaat setelah pengunjung membuka pintu. Meskipun bukan warga setempat, pengunjung akan merasa seperti memasuki sebuah set film lama atau film drama dari Eropa seperti “Amour” (2012) atau bahkan “Sentimental Value” (2025).
Deretan piring dan cangkir vintage, meja-meja makan yang ditutupi taplak berenda, hingga telepon analog dan buku-buku klasik segera memanjakan mata.
Tak lama, sang pemilik dan pengelola kafe, Yuksel Kukul, turut menyapa dengan semangat siapa pun yang masuk ke dalam “mesin waktu” tersebut.
Hiasan atau set dekorasi di dalam Velvet Cafe, Balat, Istanbul, diambil pada Kamis (12/2/2026). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira)
Kafe ini terkenal dengan hidangan sarapan dan brunch bagi warga lokal dan turis. Tidak hanya menyajikan makanan dan minuman lezat, Velvet Cafe menawarkan pengalaman sarapan tradisional keluarga Turki.
Yuksel mengatakan kafe yang merupakan bisnis keluarga ini telah berdiri sejak tahun 2018. Ia bercerita, sang nenek adalah alasan mengapa ia bersama ibu dan bibinya membangun bisnis ini bersama-sama.
“Alasan pertama mengapa kami membuka kafe ini adalah untuk mengenang nenek saya. Kami memiliki ikatan yang sangat baik di antara anggota keluarga kami, dan ini juga merupakan akar dari mana cerita kami berasal,”ujar Yuksel.
Senyuman seakan tidak bisa terlepas dari wajahnya yang dibingkai dengan kacamata bulat. Yuksel mengatakan, akar dari keluarga neneknya berasal dari Sudan, Afrika Utara.
Set keju dan sayuran yang disajikan di Velvet Cafe, Balat, Istanbul, diambil pada Kamis (12/2/2026). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira)
Baca juga: Turki tawarkan insentif tunai dongkrak penjualan drama TV lokal
Memasak pun bukanlah hal yang asing bagi keluarga Yuksel sejak dahulu. Kakek buyut dan neneknya mengelola tempat makan sendiri, dan bisnis seperti itu turut dilanjutkan oleh sang cucu saat ini.
Tak lama, partner Yuskel, Begum, membawa nampan dengan sejumlah piring kecil berisikan empat jenis keju, dua jenis zaitun, berbagai jenis selai — manis dan asin, krim, dua jenis mentega, sayuran, dua jenis telur orak-arik (scrambled egg), dan beberapa jenis acar.
Yuskel membantu Begum yang ia sebut sebagai soul sister-nya itu dengan membawakan keranjang roti dan bagel, serta pisi hangat — adonan goreng yang rasanya kurang lebih mirip dengan cakwe di Indonesia.
Sembari menyajikan hidangan-hidangan itu di atas meja, Yuskel menjelaskan bagaimana seluruh makanan itu dibuat langsung dan berdasarkan resep turun-temurun.
Kopi Turki yang disajikan di Velvet Cafe, Balat, Istanbul, diambil pada Kamis (12/2/2026). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira) “Kami membuat semuanya di dapur kami dengan resep kami sendiri. Khususnya untuk brunch atau sarapan, kami memilih semua bahan makanannya sendiri dari seluruh negeri,” kata dia.
Seiring makanan penuh warna yang tersaji, suasana langsung menghangat meskipun hujan masih turun dengan rapi di luar kafe. Orang-orang yang duduk di meja yang sama pun saling bertukar pendapat mengenai cita rasa yang menghampiri indera mereka.
Roti yang dihidangkan berpadu dengan nyaman di lidah bersama dengan condiment yang menyertai. Rasanya seperti sebuah “pesta” dalam setiap kecapan. Terkadang ada rasa asam dan asin dari hummus, bisa juga sedikit pedas jika dimakan bersama scrambled egg dan potongan sucuk atau sosis pedas khas Turki.
Baca juga: Presiden Turki dorong integrasi transportasi negara Muslim
Menjaga tradisi
Aret, pemandu yang menemani ANTARA dan tim media AirAsia X serta Badan Pariwisata Turki (TGA), mengatakan menu sarapan ini mengingatkannya pada makanan yang biasa ia santap bersama keluarga besarnya dulu.
Ia mengatakan, saat ini keluarga modern Turki sudah cukup jarang mengadakan santap sarapan atau brunch bersama, entah karena dunia yang semakin sibuk atau generasi baru yang belum sempat mempelajari resep dari sang tetua.
Teh (chai) hangat Turki yang disajikan di Velvet Cafe, Balat, Istanbul, diambil pada Kamis (12/2/2026). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira)
Yuskel memiliki keresahan yang sama. Oleh karenanya, ia ingin terus menjaga tradisi dan kenangan keluarganya melalui sekeranjang roti, ragam cocolan, serta menutupnya dengan secangkir chai atau pun kopi hangat bersama dengan Turkish delight yang manis.
“Kami ingin membawa cerita dan keramahan ini ke luar untuk berbagi dengan para tamu kami. Kafe ini pun seperti tempat nenek. Itulah mengapa kami sangat senang menghidupkannya kembali dari masa lalu,” kata dia.
Seiring dengan Yuskel yang mengakhiri cerita dari memori masa kecilnya, santap pagi-menuju-siang di atas meja pun turut tuntas. Matahari juga dengan malu-malu mengintip dari balik awan mendung di luar Velvet Cafe.
Kenangan keluarga Yuskel menjadi rasa yang tertinggal selain makanan yang ia sajikan. Cerita-cerita baru dari berbagai individu juga membekas di sana: di perabotan-perabotan tua, di gaun pernikahan sang nenek yang dipigura, dan di teras kecil yang terus menjaga kebahagiaan dari waktu ke waktu.
Baca juga: Kiat gaet turis tinggal lebih lama di DKI mencontoh Filipina dan Turki
Baca juga: Desa wisata terbaik versi PBB di Turki bidik sektor ekowisata





