Pantau - Awal Februari di Istanbul, Turki, diselimuti langit mendung dan gerimis yang membuat orang-orang berjalan cepat menghindari rintik hujan, namun kawasan Balat justru tampil mencolok dengan warna-warna cerah di setiap sudut jalannya.
Balat dikenal sebagai kawasan yang menawarkan ketenangan di tengah hiruk-pikuk kota wisata Istanbul dengan anak tangga penuh warna, bendera kecil Turki, kafe rumahan, toko barang antik, serta kucing-kucing jalanan yang ramah.
Kawasan ini telah lama menjadi tempat perpaduan budaya yang dihuni komunitas Muslim, Armenia, Yahudi, dan Yunani selama berabad-abad.
Sarapan sebagai Simbol KebersamaanKeberagaman budaya Balat tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk melalui tradisi sarapan keluarga yang bukan sekadar aktivitas makan, melainkan momen kebersamaan bernilai sentimental.
Meja sarapan tradisional Turki biasanya dipenuhi roti, keju, zaitun, selai, telur, sayuran segar, serta teh hangat yang dinikmati dalam suasana santai.
Salah satu kafe di Balat, Velvet Cafe, menyajikan set sarapan dan brunch dengan konsep rumahan yang mempertahankan resep khas keluarga.
“Kami membuat semuanya di dapur kami dengan resep kami sendiri. Khususnya untuk brunch atau sarapan, kami memilih semua bahan makanannya sendiri dari seluruh negeri,” ujar pemilik kafe Yuskel Kukul.
Pemilihan bahan berkualitas dari berbagai daerah di Turki menjadi bagian penting dalam menjaga cita rasa dan keaslian sajian.
Perpaduan Sejarah dan KehangatanTradisi sarapan di Turki mencerminkan nilai kebersamaan keluarga yang duduk bersama dalam waktu relatif lama untuk berbincang dan berbagi cerita.
Di Balat, pengalaman menikmati sarapan bukan hanya soal hidangan, tetapi juga merasakan perpaduan sejarah, budaya, dan kehangatan komunitas setempat.
Meja sarapan tradisional keluarga Turki menjadi simbol kehangatan, keberagaman, dan kesinambungan tradisi yang terus dijaga hingga kini.




