Kamu Talenta atau Sekadar Tenaga Kerja?

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Aku punya seorang teman pengacara yang juga mengajar paruh waktu di sebuah kampus. Dia sering merekrut mahasiswa untuk kerja paruh waktu, atau ketika mendapat proyek riset dari instansi pemerintah, dia akan mencari asisten penelitian untuk membantunya.

Beberapa asisten muda telah bekerja bersamanya selama dua hingga tiga tahun. Dari situlah kami saling mengenal.

Di antara mereka ada seorang gadis bernama Aya. Pertama kali aku bertemu dengannya, dia membawa banyak map dokumen—seimbang di tangannya seperti sedang melakukan atraksi—turun naik tangga dengan cekatan.

Wajahnya selalu tersenyum, tutur katanya manis.

 Teman pengacaraku berkata: “Aya itu anaknya baik.”

Aku selalu mengira dia sangat puas dengan Aya, dan bahkan berpikir Aya akan tetap bekerja di kantor itu setelah lulus. 

Namun tak disangka, suatu hari aku justru melihat Aya berteriak menjajakan barang di sebuah stan pameran komputer: “Kesempatan terakhir! Harga banting! Nggak beli bakal nyesel!”

“Sejak kapan kamu keluar dari kantor?” tanyaku dengan suara keras di tengah keramaian.

Mata Aya langsung memerah: “Sudah tiga bulan. Bapak bilang saya tidak cocok di bidang ini, jadi saya harus pergi…”

Hatiku terasa perih mendengarnya. Aku tak tahu harus menghiburnya bagaimana, lalu bertanya lagi: “Kerja di sini gimana?”

“Ya… namanya juga kerja,” katanya sambil memaksakan senyum. “Tidak apa-apa kok.”

Talenta Itu Ditentukan oleh Diri Sendiri

Beberapa waktu kemudian, aku bertemu lagi dengan teman pengacaraku. Jumlah asistennya tampak berkurang, dan tidak ada lagi sosok ramah dengan senyum cerah seperti Aya.

“Lagi pengurangan pegawai?” tanyaku sambil bercanda. “Sudah jarang lihat senyum manis.”

Dia tersenyum tipis: “Aya? Aku yang memintanya pergi. Dia tidak cocok untuk pekerjaan ini.”

“Benarkah? Menurutku dia cukup bekerja keras.”

“Bekerja keras itu tidak cukup,” jawabnya tenang. “Aku butuh talenta, bukan sekadar tenaga kerja.”

Kata-kata itu mengguncang pikiranku. Selama ini aku selalu percaya bahwa selama seseorang cukup berdedikasi, dia pasti bisa mengerjakan sesuatu dengan baik. Aku lupa bahwa profesionalisme dan ketepatan adalah inti dari seorang talenta.

Jika caranya salah, semua usaha hanya menjadi tenaga yang terbuang. Jika seseorang tidak terus meningkatkan profesionalismenya, dia tidak akan menjadi talenta— dia hanya akan menjadi tenaga kerja.

Tenaga kerja mudah ditemukan. Talenta perlu ditemukan—dan perlu dibina.

“Apa kamu tidak bisa membimbingnya agar menjadi talenta?” tanyaku, masih mencoba membela.

Temanku menatapku lelah:  “Ada orang yang sudah menetapkan dirinya sebagai talenta, ada pula yang tidak peduli. Kalau dia sendiri saja tidak peduli, mau dibimbing bagaimana?”

Saat itu aku teringat kalimat Aya di stan pameran: “Namanya juga kerja. Tidak apa-apa.”

Mungkin justru karena sikap ‘tidak apa-apa’ itulah, daya saingnya perlahan menghilang.

Aku pun terdiam.

Renungan

Dalam masyarakat yang penuh persaingan ini, kemampuan apa sebenarnya yang kita butuhkan untuk bertahan di dunia kerja?

Banyak orang akan menjawab:
“kemampuan komputer”,
“kemampuan penjualan”,
“paham produk perusahaan”,
“kreatif dan inovatif”,
“menguasai pemasaran”.

Semua jawaban itu benar.

Namun jawabanku justru sederhana: memiliki kemampuan yang dibutuhkan oleh atasan.

Sebab seseorang bisa saja bergelar doktor, menguasai pemasaran, teknologi, dan segudang keahlian lain— tetapi jika ia tidak memahami kebutuhan pimpinannya, semua itu bisa menjadi sia-sia.

Seperti cerita ini: perbedaan antara talenta dan tenaga kerja tidak ditentukan oleh ijazah, pengalaman, atau keterampilan semata, melainkan oleh satu hal: apakah kemampuan kita benar-benar sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Hanya ketika kemampuan itu dibutuhkan, kita disebut talenta. Jika tidak, maka kita hanyalah tenaga kerja— bahkan meski bergelar tinggi dan berpengalaman panjang.

Karena pengalaman bisa dikalahkan oleh pengalaman yang lebih luas. Gelar bisa digantikan oleh gelar yang lebih tinggi. Talenta pun bisa digantikan oleh talenta yang lebih baik.

Inilah realitas, inilah masyarakat.

Namun perlu diingat: dalam sebuah perusahaan, talenta dan tenaga kerja sama-sama dibutuhkan.

Seperti perusahaan besar: mereka membutuhkan talenta untuk mengembangkan produk, tetapi juga membutuhkan tenaga kerja untuk memproduksi dan merakitnya.

Tugas perusahaan adalah menempatkan talenta dan tenaga kerja secara tepat.
Jika penempatannya benar, tenaga kerja pun bisa menjadi talenta perusahaan.

Setelah membaca cerita ini, selain mencari arah yang tepat agar menjadi talenta yang dibutuhkan, kita juga perlu terus memperbaiki diri.

Bahkan lebih jauh lagi— saat berusaha menjadi kuda unggul, kita juga sebaiknya berupaya menjadi penilai kuda unggul.

Karena pada akhirnya, status “talenta” juga sangat dipengaruhi oleh kebutuhan perusahaan dan perubahan zaman. Kadang talenta tersingkir bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena perubahan strategi, restrukturisasi, atau kondisi ekonomi.

Maka daripada membiarkan orang lain menentukan apakah kita talenta atau tenaga kerja,
lebih baik memperkuat diri hingga menjadi penentu.

Kamu ingin menjadi tenaga kerja? Atau talenta? Atau justru—penentu talenta?

Aku memilih yang terakhir.

Dan jalan menuju ke sana dimulai dengan: melepaskan kerangka lama dan sudut pandang yang diwariskan orang lain, serta membiasakan diri melihat setiap hal dari perspektif yang berbeda.(jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wahana Permainan Fruitcity Park Hadir di Tamini Square 
• 5 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Musisi Piche Kota Jadi Tersangka Kasus Pemerkosaan Siswi SMA
• 32 menit lalumedcom.id
thumb
Ratusan UMKM Ramaikan Pasar Bedug Ramadhan 1447 H di Taman Kota Baturaja
• 1 jam lalupantau.com
thumb
Transformasi Digital Sistem Pembayaran RI Jadi Rujukan Lembaga Keuangan Dunia
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Prabowo Tegaskan Kepastian Hukum di Depan Investor Global
• 9 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.