Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo, Kukuh Kumara mengatakan bahwa industri otomotif dan manufaktur dalam negeri sejatinya tak susah mengembangkan kendaraan komersial jenis pikap penggerak 4x4.
"Oh bisa, sangat bisa. Ya secara keseluruhan untuk ukuran-ukuran seperti itu 4x4 kan kebutuhan khusus, ya. Agak menengah ke atas, seperti double cabin dan itu ujung-ujungnya soal volume, semuanya bicara bisnis," buka Kukuh dihubungi kumparan, Jumat (20/2).
Kendaraan pikap dengan kelas Gross Vehicle Weight (GVW) kurang dari 5 ton di Indonesia saat ini mayoritas dihuni oleh sistem penggerak 4x2 dan kerap mengisi daftar mobil terlaris setiap bulannya.
"Lumayan stabil kan sering dipakai untuk kebutuhan logistik untuk barang swalayan atau kurir dan itu rata-rata TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) tinggi semua," imbuh Kukuh sembari menekankan pentingnya model produksi lokal.
Data Gaikindo, kendaraan komersial GVW di bawah 5 ton yang diisi pikap ringan atau double cabin belum sama sekali ada yang menganut penggerak 4x4. Kendati begitu, ia meyakini segmen ini bisa saja tumbuh organik bila dimulai oleh pemain yang sudah produksi lokal.
Selama 2025, segmen ini telah menyumbang angka penjualan wholesales atau distribusi dari pabrik ke diler sebanyak 107.008 unit. Daihatsu Gran Max memimpin dengan perolehan angka 40.761 unit, Suzuki Carry 29.289 unit, Mitsubishi L300 sebanyak 12.410 unit.
Lalu Isuzu Traga dengan penjualan 11.279 unit, Toyota Hilux Rangga 6.408 unit, Mitsubishi Triton 2.772 unit, Wuling Formo 851 unit, DFSK Super Cab 639 unit, dan Isuzu D-Max 110 unit. Hampir semuanya buatan Indonesia, sisanya impor dari Filipina dan Thailand.
Sementara penjualan retail (dari diler ke konsumen) mencapai 110.574 unit dengan kontribusi 13,3 persen.Hasil itu melonjak dibanding tahun sebelumnya sebanyak 103.893 unit dengan pangsa pasar terhadap total penjualan sebesar 11,7 persen.
Lanjutnya, secara umum optimasi produksi hampir mendekati 70 persen dari total kapasitas terpasang yang mencapai 2,35 juta unit per tahun. Khusus segmen kendaraan niaga bahkan utilisasi pabrik berada di kisaran setengah kapasitas produksi.
"Jadi kapasitas kita masih cukup, kapasitas, fasilitas, dan sebagainya dan ada pelaku baru yang sedang bangun pabrik. Ekosistem secara keseluruhan kan ada komponen juga, satu mobil bisa sampai 20 ribu lebih komponennya, itu semua ada di sini," jelas Kukuh.
Di sisi lain, serapan kendaraan komersial buatan negeri sendiri juga memiliki kontribusi besar terhadap aktivitas ekonomi, terutama di sektor distribusi dan logistik. Sebab tak hanya berhenti pada proses penjualan, tetapi juga menggerakkan sektor lapangan kerja.
"Kemudian penggunaannya dipakai untuk distribusi, logistik itu kan banyak. Dan beli mobil itu enggak jual putus, perlu jaringan, kemudian purna jual, dari situ industrinya hidup," tandasnya.





