Jakarta, tvOnenews.com — Presiden RI Prabowo Subianto melakukan manuver ekonomi besar di Amerika Serikat dengan menemui 12 perusahaan investasi terbesar dunia. Pertemuan yang awalnya dijadwalkan satu jam justru berlangsung hampir dua jam karena diskusi berlangsung intens dan produktif.
CEO Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan total aset kelolaan (asset under management/AUM) para investor yang hadir mencapai sekitar US$16 triliun. Dalam forum itu, Prabowo memaparkan arah kebijakan ekonomi Indonesia, mulai dari penguatan stabilitas politik hingga perbaikan iklim investasi.
“Diskusinya tadi cukup panjang, kurang lebih hampir dua jam dari tadinya hanya diperkirakan satu jam karena diskusinya very fruitful, very productive,” ujar Rosan usai pertemuan.
Setelah paparan Presiden, pertemuan dilanjutkan sesi pertemuan tertutup satu per satu dengan masing-masing perusahaan. Investor menyampaikan sejumlah catatan, termasuk konsistensi kebijakan, penegakan hukum, pengembangan pasar modal, serta manajemen risiko investasi.
“Mereka juga menyatakan dan memuji kebijakan-kebijakan Bapak Presiden yang selama ini sudah dilakukan yang membuat mereka sekarang melihat Indonesia itu lebih besar,” kata Rosan.
Dalam forum tersebut, Prabowo menegaskan perubahan posisi Indonesia di mata dunia. Negara yang selama ini kerap disebut memiliki potensi besar namun belum optimal, disebutnya kini memasuki fase baru pertumbuhan.
“Bapak Presiden menyampaikan di awal bahwa selama ini mungkin Indonesia dikenalnya as a sleeping giant, tapi we’re not sleeping anymore. Now is time kita bangun dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan perekonomian di Indonesia,” ujar Rosan mengutip pernyataan Prabowo.
Pertemuan menghasilkan penjajakan kerja sama di sejumlah sektor strategis, mulai dari teknologi, energi terbarukan, infrastruktur, real estate, hingga ekonomi digital. Pemerintah juga mendorong adanya transfer of knowledge dan dukungan terhadap kewirausahaan nasional.
Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir mengatakan minat investor tidak berhenti pada wacana penanaman modal. Sejumlah perusahaan bahkan mempertimbangkan membuka kantor langsung di Indonesia sebagai bentuk komitmen jangka panjang.
“Karena bahasa mereka boots on the ground itu sangat penting dan mereka sangat apresiasi Bapak Presiden bisa menerima mereka semua,” kata Pandu.




