Bagaimana Kamu Menghadapi Kehilangan?

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Seorang pria duduk di dek kapal sambil membaca koran.  Tiba-tiba, hembusan angin kencang menerbangkan topi barunya ke laut. Dia hanya menyentuh kepalanya sebentar, melirik topi yang jatuh ke air, lalu melanjutkan membaca koran.

Orang lain yang melihat kejadian itu merasa heran dan berkata: “Tuan, topi Anda jatuh ke laut!”

“Ya, saya tahu. Terima kasih,” jawabnya singkat, sambil tetap membaca.

“Padahal topi itu harganya puluhan dolar!”

“Benar,” katanya tenang.  “Saya sedang memikirkan bagaimana caranya berhemat untuk membeli topi yang baru. Topi itu memang membuat saya sayang, tapi… apakah dia masih bisa kembali?”

Setelah berkata demikian, dia kembali membaca koran.

Memang benar—yang sudah hilang, tetaplah hilang. Mengapa harus panik berlebihan atau terus-menerus memikirkannya?

Mengapa Kehilangan Menyiksa Kita?

Banyak orang pernah mengalami kehilangan sesuatu yang penting atau sangat disayangi. Misalnya, gaji yang baru diterima tiba-tiba hilang, sepeda kesayangan dicuri, atau pasangan yang telah bersama bertahun-tahun tiba-tiba pergi begitu saja.

Semua itu sering kali meninggalkan bayangan gelap dalam hati, bahkan membuat seseorang menderita cukup lama.

Akar masalahnya sering kali bukan pada kehilangan itu sendiri,melainkan karena kita tidak menyesuaikan sikap batin untuk menerimanya.

Kita tidak mau mengakui kehilangan secara psikologis, terus tenggelam dalam sesuatu yang sudah tidak ada, tanpa berpikir untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Orang sering menghibur mereka yang kehilangan dengan berkata : “Kalau yang lama tidak pergi, yang baru tidak akan datang.”

Dan memang, itulah kenyataannya.

Daripada menyesali sepeda yang hilang, lebih baik memikirkan bagaimana cara membeli yang baru. Daripada terpuruk karena pasangan berpamitan dan pergi, lebih baik bangkit kembali, memulai ulang, dan membuka diri untuk cinta yang baru.

Dua Sikap, Dua Hasil

Dua orang temanku pernah bepergian bersama. Menjelang pulang, mereka menyadari bahwa dompet mereka hilang.

Salah satu dari mereka kembali ke semua tempat yang pernah dikunjungi, bertanya ke banyak orang, bahkan melapor ke kantor polisi— namun hasilnya nihil.

Temanku yang lain bersikap berbeda. Setelah menyadari dompetnya hilang, dia tidak larut dalam penyesalan, melainkan aktif mencari solusi: bagaimana caranya mendapatkan ongkos untuk pulang.

Dia masuk ke sebuah restoran dan menjelaskan kondisinya kepada pemilik restoran. Akhirnya, dia bekerja mencuci sayuran di dapur restoran itu, dan dari situlah dia mendapatkan ongkos pulang— bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk temannya.

Sejak saat itu, dia bahkan menjalin persahabatan dengan pemilik restoran tersebut dan masih saling berkirim surat hingga kini.

Sampai sekarang, setiap kali mengingat kejadian itu, dia selalu berkata: “Waktu liburan itu singkat, hal-hal menariknya begitu banyak. Terus-menerus merisaukan dompet yang hilang sungguh tidak sepadan.”

Temanku ini memang tidak berpendidikan tinggi, tetapi ucapannya sarat dengan kebijaksanaan hidup.

Kehilangan dan Sikap Hidup

Dalam hidup, setiap orang pasti pernah kehilangan. Namun cara menghadapi kehilangan itulah yang membedakan seseorang dengan yang lain.

Ada orang yang terus-menerus menceritakan kepada siapa pun betapa berharganya barang yang hilang itu. Namun ada pula yang bersikap berbeda.

Misalnya, ketika kehilangan pekerjaan, mereka tidak tenggelam dalam kesedihan, melainkan aktif mencari pekerjaan baru.

Mereka percaya bahwa kehilangan bukan berarti gagal, karena setelah kehilangan, kita masih bisa memiliki kembali.

Inilah sikap mental yang dimiliki oleh orang-orang yang berhasil.

Renungan

Kehilangan sesuatu yang berbeda akan memunculkan reaksi yang berbeda pula. Tingkat kesedihan seseorang sangat bergantung pada nilai dan tingkat “ketergantian” dari orang, benda, atau peristiwa yang hilang itu.

Menurut saya, menghadapi kehilangan dengan optimisme adalah sebuah kelapangan jiwa. Namun sebelum benar-benar melepaskan, setidaknya kita perlu berusaha.

Misalnya kehilangan seorang kekasih — bisa jadi dengan usaha dan perubahan diri, hubungan itu masih bisa diperbaiki dan kebahagiaan kembali diraih.

Jika bahkan usaha sekecil itu pun tidak mau dilakukan, mungkin hubungan tersebut tidak pernah benar-benar bernilai istimewa di hati.

Begitu pula dengan dompet yang hilang. Bisa saja dompet itu jatuh di dekat kaki atau di bawah kursi. Jika bahkan mencari di sekitar pun tidak mau dilakukan, maka kehilangan itu memang seolah sudah “ditakdirkan”.

Namun menurut saya, sebelum berusaha, sebaiknya tetapkan batas kerugian (stop loss). Ketika usaha yang dilakukan sudah melampaui batas itu, berhentilah tepat waktu, agar kita tidak kehilangan lebih banyak lagi.(jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menlu Sugiono Bantah Indonesia Bayar 1 Miliar Dolar
• 6 jam lalutvrinews.com
thumb
Kemendag: Ekspansi ritel modern di daerah tetap ikuti aturan
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
TERPOPULER: Isi Chat Grup Para Karyawan Inara Rusli, Isu Pesulap Merah Jadikan Istri Pertama Tumbal
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
OJK Denda 4 Pihak termasuk Influenser Rp 11 Miliar karena Manipulasi Saham
• 22 jam lalukatadata.co.id
thumb
Psikolog Sebut Merasa Dicintai Jadi Kunci Kebahagiaan Menurut Teori Ilmiah
• 6 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.