FAJAR, JAKARTA – Ada 7 fakta menarik eks penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Dwi Sasetyaningtyas. Namanya viral setelah menghina WNI.
Sosok influencer ini memicu kemarahan publik setelah mengeluarkan pernyataan yang dianggap merendahkan identitas kebangsaan. Berawal dari status anak yang menjadi WNA.
Simak fakta-fakta berikut:
1. Kontroversi “Cukup Aku Saja yang WNI”
Prahara ini bermula saat Dwi Sasetyaningtyas atau Tyas mengunggah konten tentang kewarganegaraan anaknya. Ia menunjukkan surat dari Home Office Inggris yang menyatakan anak keduanya resmi menjadi warga negara asing (WNA).
Kalimat yang ia tulis dalam unggahan tersebut dinilai sangat menyakitkan hati masyarakat Indonesia.
Tyas menyebut dunia tidak adil dan menginginkan anak-anaknya memiliki paspor asing yang dianggap lebih kuat. Ia menegaskan biarlah dirinya saja yang memegang status WNI, namun anak-anaknya tidak perlu.
Pernyataan ini langsung viral dan memicu gelombang kecaman dari berbagai lapisan masyarakat di tanah air.
2. Alumnus Beasiswa Prestisius LPDP
Publik semakin geram saat mengetahui latar belakang pendidikan Tyas yang dibiayai oleh negara. Ia tercatat sebagai alumni penerima beasiswa LPDP untuk studi di luar negeri.
Netizen menilai sikapnya sangat tidak bersyukur mengingat pendidikannya dibayar menggunakan uang pajak rakyat.
Banyak pihak menyayangkan narasi yang ia bangun seolah-olah meremehkan negara yang telah menyekolahkannya. Status eks penerima LPDP ini menjadi titik sentral kemarahan netizen di berbagai platform media sosial.
Mereka menganggap Tyas telah melupakan nilai-nilai pengabdian yang seharusnya dijunjung tinggi oleh setiap awardee.
3. Inkonsistensi Latar Belakang Keluarga
Fakta menarik lainnya muncul saat netizen mulai menguliti riwayat hidup Tyas dan keluarganya. Tyas sebelumnya sering membangun narasi bahwa dirinya berasal dari keluarga yang sangat sederhana.
Namun, jejak digital justru menunjukkan bahwa ia berasal dari kalangan profesional yang cukup mapan.
Dalam sebuah wawancara lama, Tyas pernah menyebutkan bahwa ayahnya menjabat sebagai seorang Financial Manager. Sosok manajer keuangan tentu dipandang sebagai posisi yang mapan secara ekonomi oleh masyarakat luas.
Perbedaan klaim hidup sederhana dengan realita pekerjaan sang ayah memicu tudingan pembohongan publik.
4. Koneksi Keluarga dengan Pejabat Penting
Investigasi digital netizen tidak berhenti pada ayah kandungnya, namun juga merambah ke keluarga suami. Ayah mertua Tyas diduga merupakan mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) di salah satu kementerian strategis Indonesia.
Fakta ini membuat publik semakin sinis terhadap narasi “perjuangan dari bawah” yang sering ia gaungkan.
Keluarga suaminya juga diketahui memiliki pengaruh besar dalam industri pergulaan nasional saat ini. Kehidupan mewah dan posisi mentereng keluarga besarnya dianggap berbanding terbalik dengan citra rakyat kecil.
Hal ini memperkuat sentimen bahwa dirinya adalah bagian dari kelompok elit yang menikmati fasilitas negara.
4. Permintaan Maaf Dianggap Tidak Tulus
Menanggapi tekanan besar, Tyas akhirnya merilis permohonan maaf melalui media sosial pribadinya pada Februari 2026. Ia menyatakan bahwa ucapannya merupakan bentuk pelampiasan rasa lelah dan frustrasinya sebagai WNI. Namun, permintaan maaf tersebut justru dianggap publik sebagai upaya pembelaan diri semata. Tidak tulus.
Warganet menilai klarifikasi tersebut tidak menyentuh inti permasalahan mengenai penghinaan terhadap martabat bangsa. Tyas juga menegaskan bahwa kewajiban LPDP miliknya sudah tuntas sejak lulus pada tahun 2017 silam. Pembelaan ini tetap tidak mampu meredam kekecewaan publik yang sudah telanjur merasa tersinggung.
6. Suami Peneliti di Inggris Alumni ITB
Sosok suami Tyas, Arya Iwantoro, turut menjadi pusat perhatian karena rekam jejak akademisnya yang sangat mentereng. Arya merupakan lulusan Teknik Kelautan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang kemudian melanjutkan studi magister dan doktoral di Utrecht University, Belanda.
Seluruh pendidikan tinggi tersebut ia tempuh dengan dukungan pendanaan dari beasiswa negara (LPDP).
Saat ini, Arya diketahui membangun karier profesionalnya sebagai peneliti di Benua Biru. Sejak tahun 2025, ia tercatat menjabat sebagai konsultan peneliti senior di University of Plymouth, Inggris.
Status pekerjaan Arya inilah yang menjadi dasar bagi Tyas untuk menetap di Inggris menggunakan dependent visa (visa tanggungan suami).
Karier Arya di luar negeri inilah yang memicu perdebatan sengit mengenai aturan pengabdian alumni LPDP. Warganet mempertanyakan apakah Arya telah memenuhi kewajiban kembali ke Indonesia (aturan 2N+1) sesuai kontrak beasiswa.
Hingga kini, publik masih menunggu klarifikasi transparan mengenai status kontrak pengabdian sang peneliti tersebut.
7. Karier sebagai Pengusaha
Di luar kontroversinya, Tyas dikenal sebagai pengusaha yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan atau sustainability. Ia sering membagikan konten mengenai gaya hidup minim sampah dan bisnis ramah lingkungan yang dirintisnya.
Ia mengklaim bahwa kontribusinya kepada Indonesia dilakukan melalui unit bisnis yang ia jalankan tersebut.
Meski memiliki rekam jejak di bidang sosial, citra positif tersebut kini tertutup oleh isu nasionalisme. Masyarakat kini lebih menyoroti integritas pribadinya dibandingkan prestasi bisnis yang pernah ia capai sebelumnya.
Kasus ini menjadi pengingat bagi para publik figur untuk lebih berhati-hati dalam berucap di ruang digital. (*)





