Denpasar (ANTARA) - Masyarakat Bali tidak hanya umat Muslim tetapi juga wisatawan mulai berburu takjil dan menu berbuka puasa di Pasar Ramadan Masjid Raya Baiturrahmah Denpasar atau Kampung Muslim Wanasari.
“Kalau pengunjung kita beragam umat, tidak kita halangi, malah ada wisatawan asing juga mencari makanan di sini, sementara untuk yang Muslim biasanya ramainya jam 5 sore jam pulang kantor mampir ke sini,” kata Ketua Koordinator Pasar Ramadan Masjid Raya Baiturrahmah Denpasar Marjuki Fathan.
Ia di Denpasar, Sabtu, mengatakan setiap tahun sejak Pasar Ramadan ini viral di media sosial banyak masyarakat dan wisatawan yang datang berbelanja sekaligus mengabadikan konten.
Hasilnya, beberapa tahun terakhir antusias UMKM untuk berjualan terus meningkat hingga melampaui kapasitas area Kampung Muslim Wanasari.
“Setiap tahun pesertanya semakin meningkat, tapi kami keterbatasan tempat untuk UMKM, tahun ini yang terdata 79 usaha jadi kami bagi di area sekitar masjid sekitar 35 dan sisanya di lahan masjid seberang ritel,” ujar Marjuki.
Puluhan UMKM tersebut berjualan sejak 19 Februari hingga 16 Maret 2026, kemudian akan tutup menjelang Hari Suci Nyepi.
Jika berkaca dari tahun sebelumnya, dalam sehari, panitia menghitung setiap pedagang setidaknya memperoleh pendapatan bersih Rp1 juta.
Sehingga, Pasar Ramadan ini selain membawa keceriaan bagi masyarakat dan wisatawan, diyakini memberi berkah bagi UMKM.
UMKM yang dipilih juga tak sembarang, mayoritas dipilih karena merupakan warga setempat yang sehari-hari ekonominya bergantung dari berdagang, sisanya adalah pedagang luar Kampung Muslim Wanasari yang mengajukan diri.
“Kami tidak terlalu seleksi yang penting dia mau mengikuti arahan seperti bayar iuran mulai dari Rp35 ribu per hari dan memastikan tidak menjual dagangan yang menggunakan pemanis, pewarna dan pengawet, ini kami laksanakan demi mensejahterakan UMKM,” ujar Marjuki.
Panitia sendiri melihat antusias pengunjung Pasar Ramadan tidak hanya dari viralnya lokasi tersebut di media sosial, namun juga dari ciri khas dagangan para pelaku usaha.
Yang banyak dilirik masyarakat dan wisatawan tidak hanya jajanan manis takjil namun sate susu, kuliner berbahan daging sapi yang hanya dijual saat bulan Ramadan di pasar tersebut.
Salah satu warga masyarakat lokal pengunjung pameran kuliner tersebut bernama Kadek Yudia mengatakan sejak Ramadan tahun lalu ia sudah mencoba kuliner di sana.
Meski tidak menjalankan ibadah puasa, ia tetap membeli jajanan dan makanan berat yang dijual di Kampung Muslim Wanasari untuk makan malam dan camilan.
“Tahun lalu juga ke sini, saya tidak puasa jadi ini beli sate susu, gorengan, dan jajanan manis buat di rumah saja nanti makan, harganya juga tidak terlalu mahal, sekalian rekam-rekam situasi untuk buat konten,” ucapnya.
Baca juga: BI Bali gandeng enam bank layani tukar uang pecahan periode Ramadhan
Baca juga: Tradisi Ramadhan, kolang-kaling jadi buruan warga di Pasar Kramat Jati
Baca juga: Dirut Bulog sidak dua pasar di Jakarta stabilkan pangan saat Ramadhan
“Kalau pengunjung kita beragam umat, tidak kita halangi, malah ada wisatawan asing juga mencari makanan di sini, sementara untuk yang Muslim biasanya ramainya jam 5 sore jam pulang kantor mampir ke sini,” kata Ketua Koordinator Pasar Ramadan Masjid Raya Baiturrahmah Denpasar Marjuki Fathan.
Ia di Denpasar, Sabtu, mengatakan setiap tahun sejak Pasar Ramadan ini viral di media sosial banyak masyarakat dan wisatawan yang datang berbelanja sekaligus mengabadikan konten.
Hasilnya, beberapa tahun terakhir antusias UMKM untuk berjualan terus meningkat hingga melampaui kapasitas area Kampung Muslim Wanasari.
“Setiap tahun pesertanya semakin meningkat, tapi kami keterbatasan tempat untuk UMKM, tahun ini yang terdata 79 usaha jadi kami bagi di area sekitar masjid sekitar 35 dan sisanya di lahan masjid seberang ritel,” ujar Marjuki.
Puluhan UMKM tersebut berjualan sejak 19 Februari hingga 16 Maret 2026, kemudian akan tutup menjelang Hari Suci Nyepi.
Jika berkaca dari tahun sebelumnya, dalam sehari, panitia menghitung setiap pedagang setidaknya memperoleh pendapatan bersih Rp1 juta.
Sehingga, Pasar Ramadan ini selain membawa keceriaan bagi masyarakat dan wisatawan, diyakini memberi berkah bagi UMKM.
UMKM yang dipilih juga tak sembarang, mayoritas dipilih karena merupakan warga setempat yang sehari-hari ekonominya bergantung dari berdagang, sisanya adalah pedagang luar Kampung Muslim Wanasari yang mengajukan diri.
“Kami tidak terlalu seleksi yang penting dia mau mengikuti arahan seperti bayar iuran mulai dari Rp35 ribu per hari dan memastikan tidak menjual dagangan yang menggunakan pemanis, pewarna dan pengawet, ini kami laksanakan demi mensejahterakan UMKM,” ujar Marjuki.
Panitia sendiri melihat antusias pengunjung Pasar Ramadan tidak hanya dari viralnya lokasi tersebut di media sosial, namun juga dari ciri khas dagangan para pelaku usaha.
Yang banyak dilirik masyarakat dan wisatawan tidak hanya jajanan manis takjil namun sate susu, kuliner berbahan daging sapi yang hanya dijual saat bulan Ramadan di pasar tersebut.
Salah satu warga masyarakat lokal pengunjung pameran kuliner tersebut bernama Kadek Yudia mengatakan sejak Ramadan tahun lalu ia sudah mencoba kuliner di sana.
Meski tidak menjalankan ibadah puasa, ia tetap membeli jajanan dan makanan berat yang dijual di Kampung Muslim Wanasari untuk makan malam dan camilan.
“Tahun lalu juga ke sini, saya tidak puasa jadi ini beli sate susu, gorengan, dan jajanan manis buat di rumah saja nanti makan, harganya juga tidak terlalu mahal, sekalian rekam-rekam situasi untuk buat konten,” ucapnya.
Baca juga: BI Bali gandeng enam bank layani tukar uang pecahan periode Ramadhan
Baca juga: Tradisi Ramadhan, kolang-kaling jadi buruan warga di Pasar Kramat Jati
Baca juga: Dirut Bulog sidak dua pasar di Jakarta stabilkan pangan saat Ramadhan




