Langit Inggris Dipenuhi F-22! AS Kirim Sinyal Perang ke Iran, Hitung Mundur Dimulai?

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita


EtIndonesia
.  Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) kembali mengerahkan tambahan jet tempur siluman F-22 Raptor ke Pangkalan Udara RAF Mildenhall. Di bawah langit malam yang gelap, lampu landasan berwarna biru berkelip kontras dengan siluet tajam pesawat generasi kelima tersebut.

Rekaman yang beredar pada 19 Februari memperlihatkan satu per satu F-22 mendarat dengan formasi rapi. Saluran masuk udara berbentuk persegi panjang—ciri khas Raptor—tampak jelas dalam sorotan lampu. Lampu merah di bagian ekor berkedip selaras dengan sistem pandu landasan. Setelah mendarat, jet-jet itu bergerak perlahan membentuk barisan di apron pangkalan.

Sehari sebelumnya, 18 Februari 2026, gelombang pertama F-22 telah dilaporkan lepas landas dari Langley Air Force Base di Negara Bagian Virginia dan tiba di Inggris. Rekaman terbaru diyakini sebagai gelombang kedua. Seluruh pesawat tersebut disebut-sebut akan melanjutkan perjalanan menuju kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari mendatang.

F-22: Mahal, Jarang Dikerahkan, Sarat Pesan Strategis

F-22 Raptor dikenal sebagai salah satu jet tempur superioritas udara paling canggih di dunia. Pesawat ini unggul dalam kemampuan siluman (stealth), manuver ekstrem, serta sistem avionik canggih untuk dominasi udara dan penindasan pertahanan lawan.

Namun, pengerahan F-22 dalam jumlah besar bukan keputusan ringan. Setiap satu jam terbang membutuhkan sekitar 40 jam perawatan intensif. Biaya operasionalnya diperkirakan mencapai sekitar 84.000 dolar AS per jam terbang. Karena itu, analis pertahanan menilai bahwa kehadiran Raptor dalam konteks saat ini mencerminkan tujuan strategis yang jelas—bukan sekadar latihan rutin.

Sejumlah pengamat militer menafsirkan pengerahan ini sebagai indikasi bahwa opsi militer terhadap Teheran telah dipersiapkan secara serius, terutama setelah negosiasi diplomatik menunjukkan kemajuan terbatas.

E-3 Sentry, F-35, hingga Tanker KC-135 Dikerahkan

Masih pada 19 Februari 2026, rekaman lain menunjukkan pesawat peringatan dini E-3 Sentry terbang di atas Tel Aviv, Israel, menuju Arab Saudi. Sebelumnya dilaporkan bahwa enam unit E-3 telah dikerahkan untuk memantau potensi peluncuran rudal balistik, rudal jelajah, maupun drone dari Iran. Dua unit telah tiba di Arab Saudi, sementara dua lainnya yang terpantau di Israel diduga berasal dari pangkalan di Jerman dengan tujuan akhir Pangkalan Udara Pangeran Sultan.

Citra satelit terbaru juga menunjukkan konsentrasi signifikan pesawat tempur AS di Muwaffaq Salti Air Base, Yordania. Dalam satu citra terlihat sedikitnya 18 jet F-35 dan enam pesawat peperangan elektronik EA-18G Growler.

Sementara itu, di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, Arab Saudi, teridentifikasi satu unit E-3, dua pesawat komunikasi medan tempur E-11, serta 13 pesawat tanker KC-135 Stratotanker. Kehadiran tanker dalam jumlah besar mengindikasikan kesiapan operasi jarak jauh yang berkelanjutan.

Dalam beberapa hari terakhir, komunitas intelijen sumber terbuka (OSINT) mencatat intensitas penerbangan militer AS dari Eropa ke Timur Tengah meningkat tajam—terutama menuju Yordania dan Arab Saudi. Pola ini dinilai sebagai tanda bahwa Washington telah menyiapkan skenario kontinjensi terhadap Teheran.

Ultimatum 10–15 Hari dari Gedung Putih

Pada 19 Februari 2026, Presiden Donald Trump, dalam wawancara di Air Force One, menyatakan akan memberi Iran waktu 10 hingga 15 hari untuk mencapai kesepakatan. Pernyataan tersebut dipandang banyak pihak sebagai ultimatum terakhir.

Dua putaran perundingan sebelumnya disebut menghasilkan kemajuan terbatas. Iran dilaporkan menolak tuntutan inti AS, termasuk pembatasan program nuklir dan pengendalian pengembangan rudal balistik.

Situasi Dalam Negeri Iran Memanas

Pada 18 Februari 2026, warga Teheran merekam ledakan besar yang memunculkan asap tebal. Lokasi tersebut diduga merupakan gudang amunisi milik Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), meski belum ada konfirmasi resmi.

Sehari kemudian, 19 Februari, beredar video lain yang menunjukkan bangunan terbakar di ibu kota pada malam hari. Belum dapat dipastikan apakah kedua insiden tersebut saling terkait atau berkaitan dengan operasi intelijen asing.

Di Provinsi Fars, tepatnya di kota Mamasani, ribuan warga berkumpul memperingati 40 hari (Arba’in) wafatnya demonstran dalam gelombang protes sebelumnya. Tradisi Syiah memperingati hari ke-40 setelah kematian, namun momentum tersebut juga dimanfaatkan untuk menyuarakan kritik terhadap pemerintah. Di kota Noor, poster dan spanduk bergambar korban terpampang di berbagai sudut jalan. Warga menyebut ratusan demonstran tewas, meski angka tersebut belum diverifikasi secara independen.

Insiden Salah Tembak: Jet F-4 Jatuh

Pada 19 Februari 2026, terjadi insiden lain yang memicu perhatian publik. Sistem pertahanan udara yang berada di bawah kendali IRGC dilaporkan menembak jatuh jet tempur McDonnell Douglas F-4 Phantom II milik Angkatan Udara reguler Iran.

Pilot sempat berusaha kembali ke pangkalan, namun roda pendarat tidak sepenuhnya terbuka. Pesawat tergelincir keluar landasan saat pendaratan darurat, dan pilot dilaporkan meninggal dunia.

Perlu dicatat, Angkatan Bersenjata reguler Iran dan IRGC merupakan dua institusi berbeda dengan struktur komando terpisah. Jet tempur seperti F-4 dan F-14 berada di bawah kendali Angkatan Udara reguler, sedangkan sebagian sistem pertahanan udara strategis dikendalikan IRGC—relasi keduanya tidak selalu harmonis.

Eskalasi 19–20 Februari: Kawasan di Ambang Titik Kritis

Dari 19 hingga 20 Februari 2026, rangkaian peristiwa ini memperlihatkan eskalasi signifikan. Amerika Serikat memusatkan berbagai aset tempur di Timur Tengah—mulai dari F-35, F-15, F-16, pesawat tanker, pesawat peringatan dini, hingga sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD.

Di sisi lain, negosiasi antara Washington dan Teheran masih berjalan alot. Iran menolak penghentian penuh program nuklir dan pembatasan rudal balistik. Dengan kombinasi tekanan militer eksternal dan ketegangan domestik internal, risiko konflik terbuka dalam waktu dekat dinilai semakin meningkat.

Kawasan Timur Tengah kini berada dalam situasi rapuh—seperti bara dalam sekam. Setiap insiden baru berpotensi menjadi pemicu ledakan besar yang dampaknya meluas secara regional maupun global. Perkembangan dalam beberapa hari ke depan akan menjadi penentu arah stabilitas kawasan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal Liga Inggris Malam Ini (21-22 Februari): Laga Krusial Aston Villa vs Leeds dan Man City vs Newcastle
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
Suksesor Casemiro Ditemukan! Manchester United Siap Angkut Jenderal Stuttgart Angelo Stiller ke Old Trafford
• 7 jam laluharianfajar
thumb
Eks Presiden Korsel Yoon Suk-yeol dijatuhi hukuman penjara seumur hidup
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Refleksi Setahun, Gus Fawait Tancap Gas: 2026 Jadi Tahun Pembuktian dan Percepatan Pembangunan Jember
• 7 jam lalurealita.co
thumb
Buka Puasa dengan Gorengan, Apa Bahayanya?
• 10 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.