Hamas meminta Israel menghentikan serangan secara penuh ke Gaza. Permintaan gerakan penguasa Gaza itu dilontarkan usai pertemuan perdana Board of Peace (BoP) bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pertemuan yang digelar negara-negara anggota di Washington, DC, itu membahas masa depan Gaza usai perang yang telah berlangsung selama dua tahun. Presiden Prabowo Subianto hadir langsung dalam pertemuan tersebut.
Dalam pertemuan itu, sejumlah negara berkomitmen memberikan bantuan hingga USD 5 miliar atau setara Rp 84 triliun untuk membantu pembangunan ulang Gaza.
Akan tetapi, pertemuan tersebut tidak menetapkan jangka waktu bagi Hamas untuk menyerahkan senjata. Tak ada pula batas waktu bagi Israel untuk menarik diri dari Gaza.
Bahkan sampai sekarang Israel masih kerap menyerang Gaza kendati gencatan senjata sudah tercapai.
Hamas pun berkomentar atas perundingan BoP di Washington. Mereka menekankan masa depan Gaza hanya dapat terwujud jika serangan ke wilayah Palestina itu dihentikan sepenuhnya.
"Setiap proses politik atau kesepakatan yang sedang dibahas mengenai Jalur Gaza dan masa depan rakyat Palestina harus dimulai dengan penghentian total agresi," kata Hamas dalam sebuah pernyataan pada Kamis malam, seperti dikutip dari AFP.
“Pengaturan masa depan Gaza harus dimulai dengan pencabutan blokade dan jaminan hak-hak nasional sah rakyat kami, terutama hak atas kebebasan dan penentuan nasib sendiri,” sambungnya.
Adapun dalam pertemuan BoP turut diumumkan sejumlah negara yang akan mengirimkan pasukan ke Gaza. Indonesia termasuk salah satunya.
Secara terpisah, juru bicara Hamas Hazem Qassem kepada kantor berita AFP menyebut pihaknya terbuka terhadap pasukan internasional, namun dengan beberapa syarat.
"Kami menginginkan pasukan penjaga perdamaian yang memantau gencatan senjata, memastikan pelaksanaannya, dan bertindak sebagai penyangga antara tentara pendudukan dan rakyat kami di Jalur Gaza, tanpa mencampuri urusan internal Gaza," kata Qassem.





