London (ANTARA) - Pemerintah Inggris tengah mempertimbangkan untuk mengajukan undang-undang guna menghapus mantan Pangeran Andrew Mountbatten-Windsor dari garis suksesi kerajaan Inggris.
Hal itu dilakukan di tengah kehebohan menyusul penangkapan Andrew setelah munculnya pengungkapan baru terkait pelaku kejahatan seksual asal Amerika Serikat (AS), Jeffrey Epstein, yang telah divonis, demikian laporan media setempat, Jumat (20/2).
Pemerintah berencana mengajukan proposal tersebut, yang akan mencegah Andrew Mountbatten-Windsor, sebagaimana nama resminya saat ini, untuk pernah menjadi raja, lapor BBC.
Sejumlah politikus Inggris menyuarakan kemarahan terhadap mantan Pangeran Andrew setelah ia ditangkap, Kamis (19/2) atas dugaan pelanggaran jabatan publik, menyusul pengungkapan terbaru dalam dokumen yang dirilis di AS terkait Epstein, yang meninggal di sel tahanan pada 2019.
Ed Davey, pemimpin Partai Demokrat Liberal, mengatakan status mantan pangeran itu dalam garis suksesi kerajaan perlu dipertimbangkan.
“Jelas ini adalah isu yang harus dipertimbangkan parlemen pada waktu yang tepat. Tentu saja monarki ingin memastikan ia tidak pernah bisa menjadi raja,” katanya dalam sebuah pernyataan.
Stephen Flynn, pemimpin Partai Nasional Skotlandia (SNP) di Westminster, mengatakan kepada tabloid Inggris The Sun bahwa publik wajar merasa marah jika seorang pria yang berbohong tentang pertemanannya dengan Epstein masih berpeluang menjadi kepala negara.
Andrew Bowie, sekretaris bayangan Skotlandia dari Partai Konservatif, menyatakan bahwa menghapus Andrew dari garis suksesi adalah langkah yang tepat.
“Jika ia dinyatakan bersalah atas hal ini, saya pikir parlemen sepenuhnya berhak untuk bertindak menghapusnya dari garis suksesi,” ujarnya.
Survei YouGov yang dipublikasikan pada Jumat menunjukkan 82 persen warga Inggris kini meyakini Andrew Mountbatten-Windsor harus sepenuhnya dihapus dari garis suksesi kerajaan, sementara 6 persen menyatakan ia seharusnya tetap berada dalam daftar tersebut.
Terakhir kali garis suksesi diubah melalui undang-undang parlemen adalah pada 2013, ketika Succession to the Crown Act memulihkan hak individu yang sebelumnya dikecualikan karena menikah dengan seorang Katolik.
Sementara, individu terakhir yang dikeluarkan dari garis suksesi takhta melalui undang-undang adalah Raja Edward VIII, yang turun takhta pada 1936 demi menikahi Wallis Simpson yang bercerai, sehingga dirinya beserta keturunannya tak lagi berhak mewarisi takhta Inggris.
Bantahan Andrew
Pada Kamis, Andrew Mountbatten-Windsor, yang berusia 66 tahun, ditahan kepolisian Thames Valley, meski dibebaskan 11 jam kemudian.
"Setelah melakukan penilaian menyeluruh, kami telah memulai penyelidikan atas dugaan pelanggaran jabatan publik ini," kata Assistant Chief Constable Oliver Wright.
Mantan pangeran itu membantah melakukan pelanggaran hukum terkait hubungannya dengan Epstein.
Pada 9 Februari lalu, kepolisian Inggris membenarkan pihaknya tengah mendalami laporan dugaan pelanggaran hukum "sesuai prosedur yang berlaku."
Andrew, adik kandung Raja Charles III, bertugas sebagai utusan dagang Inggris pada periode 2001-2011. Ia mengundurkan diri dari tugas kerajaan pada 2019 setelah hubungannya dengan Epstein terungkap.
Menurut pengungkapan terbaru berkas Epstein, pada 7 Oktober 2010, Andrew diketahui mengirimkan jadwal perjalanan dinasnya sebagai utusan dagang ke Singapura, Vietnam, Shenzhen, dan Hong Kong kepada Epstein.
Pada 30 November 2010, tak lama setelah menerima laporan resmi perjalanan tersebut dari asisten khususnya, Andrew diduga meneruskan laporan itu kepada Epstein.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Eks Pangeran Andrew ditangkap polisi Inggris terkait skandal Epstein
Baca juga: Keluarga Giuffre angkat bicara soal gelar Pangeran Andrew hilang
Hal itu dilakukan di tengah kehebohan menyusul penangkapan Andrew setelah munculnya pengungkapan baru terkait pelaku kejahatan seksual asal Amerika Serikat (AS), Jeffrey Epstein, yang telah divonis, demikian laporan media setempat, Jumat (20/2).
Pemerintah berencana mengajukan proposal tersebut, yang akan mencegah Andrew Mountbatten-Windsor, sebagaimana nama resminya saat ini, untuk pernah menjadi raja, lapor BBC.
Sejumlah politikus Inggris menyuarakan kemarahan terhadap mantan Pangeran Andrew setelah ia ditangkap, Kamis (19/2) atas dugaan pelanggaran jabatan publik, menyusul pengungkapan terbaru dalam dokumen yang dirilis di AS terkait Epstein, yang meninggal di sel tahanan pada 2019.
Ed Davey, pemimpin Partai Demokrat Liberal, mengatakan status mantan pangeran itu dalam garis suksesi kerajaan perlu dipertimbangkan.
“Jelas ini adalah isu yang harus dipertimbangkan parlemen pada waktu yang tepat. Tentu saja monarki ingin memastikan ia tidak pernah bisa menjadi raja,” katanya dalam sebuah pernyataan.
Stephen Flynn, pemimpin Partai Nasional Skotlandia (SNP) di Westminster, mengatakan kepada tabloid Inggris The Sun bahwa publik wajar merasa marah jika seorang pria yang berbohong tentang pertemanannya dengan Epstein masih berpeluang menjadi kepala negara.
Andrew Bowie, sekretaris bayangan Skotlandia dari Partai Konservatif, menyatakan bahwa menghapus Andrew dari garis suksesi adalah langkah yang tepat.
“Jika ia dinyatakan bersalah atas hal ini, saya pikir parlemen sepenuhnya berhak untuk bertindak menghapusnya dari garis suksesi,” ujarnya.
Survei YouGov yang dipublikasikan pada Jumat menunjukkan 82 persen warga Inggris kini meyakini Andrew Mountbatten-Windsor harus sepenuhnya dihapus dari garis suksesi kerajaan, sementara 6 persen menyatakan ia seharusnya tetap berada dalam daftar tersebut.
Terakhir kali garis suksesi diubah melalui undang-undang parlemen adalah pada 2013, ketika Succession to the Crown Act memulihkan hak individu yang sebelumnya dikecualikan karena menikah dengan seorang Katolik.
Sementara, individu terakhir yang dikeluarkan dari garis suksesi takhta melalui undang-undang adalah Raja Edward VIII, yang turun takhta pada 1936 demi menikahi Wallis Simpson yang bercerai, sehingga dirinya beserta keturunannya tak lagi berhak mewarisi takhta Inggris.
Bantahan Andrew
Pada Kamis, Andrew Mountbatten-Windsor, yang berusia 66 tahun, ditahan kepolisian Thames Valley, meski dibebaskan 11 jam kemudian.
"Setelah melakukan penilaian menyeluruh, kami telah memulai penyelidikan atas dugaan pelanggaran jabatan publik ini," kata Assistant Chief Constable Oliver Wright.
Mantan pangeran itu membantah melakukan pelanggaran hukum terkait hubungannya dengan Epstein.
Pada 9 Februari lalu, kepolisian Inggris membenarkan pihaknya tengah mendalami laporan dugaan pelanggaran hukum "sesuai prosedur yang berlaku."
Andrew, adik kandung Raja Charles III, bertugas sebagai utusan dagang Inggris pada periode 2001-2011. Ia mengundurkan diri dari tugas kerajaan pada 2019 setelah hubungannya dengan Epstein terungkap.
Menurut pengungkapan terbaru berkas Epstein, pada 7 Oktober 2010, Andrew diketahui mengirimkan jadwal perjalanan dinasnya sebagai utusan dagang ke Singapura, Vietnam, Shenzhen, dan Hong Kong kepada Epstein.
Pada 30 November 2010, tak lama setelah menerima laporan resmi perjalanan tersebut dari asisten khususnya, Andrew diduga meneruskan laporan itu kepada Epstein.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Eks Pangeran Andrew ditangkap polisi Inggris terkait skandal Epstein
Baca juga: Keluarga Giuffre angkat bicara soal gelar Pangeran Andrew hilang





