Jakarta: Polemik keberadaan kafe karaoke di pinggir Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR), kawasan Meruya Selatan, Jakarta Barat, mencuat menjelang Ramadan 2026. Sejumlah warga memasang banner penolakan hingga menggelar aksi demonstrasi, yang menuntut penutupan tempat hiburan tersebut.
Imam, warga yang kerap beraktivitas di sekitar lokasi, menyebut jumlah kafe karaoke di sepanjang pinggir tol tidak sebanyak yang ramai diperbincangkan. Ia memastikan hanya ada tiga kafe yang berdiri di kawasan tersebut.
“Cuma ada juga tiga, Mas. Cuma tiga aja yang berdiri kafe-kafe ini. Selebihnya kan ada rumah makan, ada dagang nasi uduk, ada yang ketupat sayur,” kata Imam saat ditemui di lokasi, Jumat, 21 Februari 2026.
Menurut dia, tiga kafe itu berada di sisi kiri dan kanan jalan, tepat sebelum dan sesudah terowongan. Imam menilai narasi yang menyebut seluruh bentangan pinggir tol dipenuhi kafe karaoke tidak sepenuhnya tepat.
Imam juga membantah anggapan bahwa pengelola kafe menyediakan minuman keras maupun perempuan pemandu lagu. Ia menegaskan pengunjung kerap membawa minuman sendiri.
“Kalau untuk minuman keras dia semuanya kafe itu nggak menyediakan. Kebanyakan yang bawa minuman keras dari pengunjungnya bawa ke situ minum di situ,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Kalau disediain enggak ada perempuan. Justru perempuan-perempuannya yang pada datang sendiri. Orang istilahnya cewek-cowok datang ke sini, nyanyi," kata dia.
Baca Juga :Pramono Tegakkan Pergub 18 Tahun 2018, Tindak Tegas Tempat Hiburan Bandel
Terkait jarak dengan permukiman, Imam menyebut lokasi kafe cukup jauh dari rumah warga. Ia mengklaim suara musik tidak sampai mengganggu lingkungan tempat tinggal.
“Kalau ke pemukiman sih nggak sampai, paling kayak ke jalan aja. Kalau buat pemukiman warga sih nggak sampai kalau suara mah,” katanya.
Spanduk warga menolak kafe karaoke di Meruya Selatan. Foto: Metro TV/Enrich
Meski begitu, ia mengakui aktivitas kafe pada malam hari cukup ramai. Menurutnya, suasana nyanyi dan joget yang terlihat dari luar kemungkinan memicu keresahan sebagian warga.
“Kalau malam rame, Mas. Mungkin karena tempatnya kecil jadi kalau misalnya ada yang lagi joget segala macam kelihatan banget,” ucap dia.
Gelombang penolakan, kata Imam, baru muncul menjelang Ramadan tahun ini. Sebelumnya, kafe-kafe tersebut telah beroperasi selama beberapa tahun tanpa penolakan berarti.
“Baru-baru sekarang-sekarang aja nih setelah mau puasa baru ada penolakan. Sebelumnya mah nggak ada, banner juga baru nih sebelum Ramadan aja dipasang,” ujar dia.
Imam mengungkapkan sempat terjadi aksi demonstrasi yang diikuti ratusan warga. Mereka membawa tuntutan penutupan yang dituangkan dalam surat penolakan bertanda tangan warga.
“Kemarin mah sempat ada kayak semacam demo banyak warga turun ke sini, dari kafe sini sampai kafe sebelahnya sana sempat turun sampai ratusan orang juga,” kata dia.
Aparat gabungan pun telah turun ke lokasi. Imam menyebut petugas dari Satpol PP dan Dinas Perhubungan mendatangi kawasan tersebut dengan empat mobil dan sekitar 20 personel.
“Ada kemarin ada Satpol PP ada empat mobil ke sini datang juga dari pihak Satpol PP, Dishub juga ke sini,” ungkapnya.
Hingga kini, polemik kafe karaoke di pinggir Tol JORR Meruya Selatan masih menjadi perbincangan warga. Sejumlah kafe dikabarkan tidak beroperasi sementara waktu menjelang Ramadan, sembari menunggu keputusan lebih lanjut dari pihak berwenang.




