KABAR baik datang dari dunia medis bagi jutaan penderita penyakit kronis. Tim peneliti dari University College London (UCL) berhasil mengungkap mekanisme alami dalam tubuh manusia yang berfungsi sebagai “rem” untuk menghentikan peradangan atau inflamasi.
Temuan yang dipublikasikan pada Februari 2026 ini dinilai sebagai terobosan krusial. Pasalnya, mekanisme ini berpotensi membuka jalan bagi pengembangan terapi baru untuk penyakit yang dipicu peradangan berkepanjangan, mulai dari radang sendi (arthritis), penyakit jantung, hingga diabetes.
Mengenal Epoxy-oxylipins: Molekul Lemak Sang “Rem” ImunDalam studi yang dirilis melalui jurnal Nature Communications, para peneliti mengidentifikasi molekul kecil turunan lemak yang disebut epoxy-oxylipins. Molekul ini memegang peran vital dalam mengendalikan respons imun agar tidak berlebihan.
Baca juga : Perubahan Gaya Hidup Jadi Kunci Perlambat Kerusakan Sendi atau Osteoartritis
Secara teknis, epoxy-oxylipins bekerja dengan mencegah pertumbuhan berlebih sel imun tertentu yang disebut intermediate monocytes. Sel darah putih ini sebenarnya berfungsi melawan infeksi dan membantu perbaikan jaringan. Namun, jika jumlahnya berlebihan atau bertahan terlalu lama, sel tersebut justru membuat sistem imun terus aktif dan memicu peradangan kronis.
Penelitian ini menjadi yang pertama kalinya berhasil memetakan aktivitas epoxy-oxylipins pada manusia secara real-time selama proses peradangan berlangsung.
Uji Langsung pada Relawan ManusiaUntuk memahami mekanismenya, para peneliti melakukan studi langsung pada relawan sehat. Mereka memicu reaksi peradangan ringan dan sementara menggunakan bakteri E. coli yang telah dimatikan dengan sinar ultraviolet ke lengan bawah peserta.
Baca juga : 6 Tips Ampuh Menjaga Kesehatan Sendi dan Mencegah Nyeri Sejak Dini
Relawan kemudian dibagi ke dalam dua kelompok untuk menguji efektivitas obat GSK2256294, yang bekerja menghambat enzim soluble epoxide hydrolase (sEH), enzim yang secara alami memecah kadar epoxy-oxylipins dalam tubuh.
Hasil penelitian menunjukkan:
- Peningkatan epoxy-oxylipins terbukti mampu mempercepat meredanya rasa nyeri.
- Terjadi penurunan signifikan kadar intermediate monocytes di darah dan jaringan.
- Obat bekerja lebih dalam pada mekanisme imun tanpa mengganggu gejala luar seperti kemerahan atau pembengkakan yang diperlukan untuk penyembuhan awal.
Penelitian lanjutan menunjukkan bahwa salah satu jenis epoxy-oxylipin, yaitu 12,13-EpOME, bekerja dengan menonaktifkan sinyal protein bernama p38 MAPK. Protein ini diketahui berperan dalam proses perubahan monosit menjadi bentuk yang dapat memicu peradangan berkepanjangan.
Dengan mematikan sinyal tersebut, tubuh secara alami dapat membatasi ekspansi sel imun yang berpotensi merusak jaringan. Profesor Derek Gilroy dari UCL menjelaskan bahwa pendekatan ini berpotensi menghasilkan terapi yang lebih aman karena tidak menekan seluruh sistem imun, melainkan membantu tubuh mengembalikan keseimbangan secara alami.
Harapan untuk Penderita Rheumatoid ArthritisTemuan ini membuka peluang besar untuk uji klinis penggunaan penghambat sEH bagi penderita rheumatoid arthritis dan penyakit kardiovaskular. Rheumatoid arthritis sendiri merupakan kondisi autoimun di mana sistem imun menyerang lapisan sendi, menyebabkan nyeri hebat dan kerusakan permanen.
Menurut para peneliti, obat penghambat sEH dapat diuji bersama terapi yang sudah ada untuk melihat apakah mampu mencegah atau memperlambat kerusakan jaringan akibat peradangan kronis di masa depan. (University College London (UCL)/Z-10)





