Mengapa Cuaca Ekstrem Kembali Melanda Sejumlah Wilayah? 

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Hujan lebat hingga ekstrem dalam sepekan terakhir kembali melanda sejumlah wilayah Indonesia. Di Jabodetabek, curah hujan 179 milimeter tercatat di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, dan 168 mm di Atang Sanjaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dengan durasi hujan berlangsung sejak malam hingga pagi. Di Grobogan, Jawa Tengah, tujuh titik tanggul sungai jebol setelah hujan deras, merendam 42 desa di 10 kecamatan dan memutus jalan utama Semarang–Grobogan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut penguatan monsun Asia, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), serta kondisi La Nina lemah (indeks Nino 3,4 di angka -0,77) mempercepat pertumbuhan awan konvektif di wilayah barat dan selatan Indonesia. Dampaknya tak hanya dirasakan di Jawa Tengah dan Jabodetabek, tetapi juga di Karawang, Demak, dan Manado yang kembali diterjang banjir dan longsor.

Apa yang dapat Anda pelajari dari artikel ini?

 1. Apa yang menyebabkan hujan ekstrem terjadi hampir bersamaan di Grobogan, Jabodetabek, Karawang, dan Manado?

 2. Daerah mana saja yang perlu ekstra waspada?

 3. Sampai kapan periode cuaca ekstrem kali ini berlangsung?

 4. Apa dampak sosial dan ekonomi yang mulai terlihat dari cuaca ekstrem tersebut?

5. Bagaimana seharusnya warga menghadapi fenomena alam ini?

Apa penyebab hujan ekstrem terjadi hampir bersamaan di Grobogan, Jabodetabek, Karawang, dan Manado?

BMKG menjelaskan bahwa penguatan monsun Asia membawa angin baratan cukup kuat sehingga mempercepat pertumbuhan awan konvektif, terutama di wilayah barat dan selatan Indonesia. Aktivitas gelombang atmosfer MJO yang berada di Samudra Hindia wilayah barat Indonesia turut meningkatkan suplai uap air di Sumatera, Jawa bagian barat, Kalimantan, dan Sulawesi bagian utara.

Dalam periode 17–19 Februari 2026, hujan kategori ekstrem tercatat di sejumlah provinsi, termasuk Sumatera Barat (176,3 mm per hari), Aceh (130,9 mm), dan Bengkulu (129,6 mm). Di Jabodetabek, hujan 179 mm dan 168 mm turun dalam 24 jam dengan durasi panjang.

BMKG juga mencatat indeks Nino 3,4 berada di angka -0,77 yang menandakan fase La Nina lemah. Kondisi ini dinilai meningkatkan pola konvektif dan memperbesar peluang hujan lebat.

Fenomena atmosfer tersebut diperkirakan masih memberi dampak signifikan hingga sepekan mendatang. Artinya, hujan ekstrem yang terjadi bukan peristiwa terpisah, melainkan bagian dari dinamika atmosfer berskala luas.

Selain faktor skala besar seperti monsun Asia, MJO, dan La Nina lemah, BMKG juga mencatat dinamika atmosfer regional turut memperkuat pembentukan awan hujan.

Di Jawa Barat, misalnya, prakirawan menyebut suhu muka laut yang relatif hangat serta terbentuknya daerah belokan dan pertemuan angin meningkatkan suplai uap air dan pertumbuhan awan konvektif pada skala lokal.

Kombinasi faktor global dan regional inilah yang membuat hujan berintensitas sedang hingga sangat lebat berpotensi terjadi secara luas dalam periode yang sama.

Baca JugaRibuan Warga Grobogan dan Demak Bakal Sambut Ramadhan di Tengah Banjir
Daerah mana saja yang perlu esktra waspada?

BMKG mencatat sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami peningkatan hujan dengan intensitas lebat dalam sepekan ke depan. Daerah yang perlu ekstra waspada antara lain Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Jakarta, dan Jawa Barat.

Kewaspadaan juga diperlukan di sejumlah wilayah Kalimantan, seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan. Di kawasan Indonesia timur, potensi hujan lebat diprakirakan terjadi di Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, serta wilayah Papua, termasuk Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Selatan.

Selain daftar wilayah yang diprakirakan BMKG, pengalaman di Grobogan, Demak, Karawang, dan Manado menunjukkan bahwa daerah bantaran sungai, lereng curam, serta kawasan dengan tanggul kritis dan drainase terbatas perlu meningkatkan kewaspadaan. Intensitas dan durasi hujan yang tinggi dapat dengan cepat memperbesar risiko banjir dan longsor di wilayah-wilayah tersebut.

Baca JugaBanjir Terjang Karawang, Waspadai Hujan Lebat di Jabar Sepekan ke Depan 
Sampai kapan periode cuaca ekstrem ini berlangsung?

BMKG memperkirakan fenomena atmosfer yang memicu peningkatan hujan ini masih akan memberikan dampak signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia hingga sepekan mendatang. Dalam periode tersebut, sejumlah wilayah tetap berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Dalam sepekan ke depan, cuaca secara umum diprakirakan didominasi hujan ringan hingga sedang. Namun, beberapa daerah tetap perlu waspada terhadap potensi hujan lebat, termasuk Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jakarta, Jawa Barat, serta sejumlah wilayah di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

BMKG juga telah mengingatkan sebelumnya bahwa intensitas hujan pada trimester pertama 2026 cenderung lebih tinggi. Saat ini, indeks Nino 3,4 berada di angka -0,77 yang menunjukkan fase La Nina lemah, kondisi yang dinilai berpengaruh terhadap peningkatan pola konvektif di Indonesia.

Artinya, meski puncak hujan ekstrem bisa terjadi dalam periode tertentu, potensi cuaca basah dengan intensitas fluktuatif masih perlu diantisipasi dalam beberapa waktu ke depan. Karena itu, kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi tetap diperlukan hingga pola atmosfer kembali stabil.

Baca JugaCuaca Ekstrem Kembali Melanda Sejumlah Wilayah
Apa dampak sosial dan ekonomi yang mulai tampak dari cuaca ekstrem ini?

Di Grobogan, sedikitnya 9.000 keluarga terdampak banjir dan lahan pertanian seluas 1.842 hektar terendam. Jalan utama Semarang–Grobogan putus, mengganggu jalur logistik dan mobilitas masyarakat.

Di Demak, 23.214 jiwa terdampak dan ribuan rumah terendam. Meski sebagian genangan mulai surut, dampaknya terhadap aktivitas ekonomi dan pertanian masih harus dihitung.

Di Karawang, 910 warga terdampak dan ratusan rumah terendam hingga setinggi dua meter. Evakuasi menjadi prioritas, terutama bagi warga lansia dan anak-anak.

Di Manado, satu warga meninggal akibat terpeleset saat menyelamatkan barang dari genangan. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa cuaca ekstrem tidak hanya menimbulkan kerugian material, tetapi juga risiko keselamatan jiwa.

Baca Juga12 Tahun Bebas Banjir, Kini Warga di Manado Kembali Diterjang Bah
Bagaimana seharusnya warga menghadapi fenomena alam ini?

BNPB mengimbau masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi basah. Warga yang tinggal di bantaran sungai diminta rutin memantau ketinggian muka air dan memperbarui informasi cuaca dari lembaga resmi, terutama BMKG. Kewaspadaan dini menjadi kunci untuk mengurangi risiko korban jiwa ketika hujan lebat turun dalam durasi panjang.

Di tingkat lokal, pemerintah daerah mendorong langkah-langkah preventif. Di Manado, misalnya, warga di sekitar sungai dan lereng curam diimbau segera mengungsi jika permukaan air meningkat atau tanah mulai lembek. Di Karawang, aparat mengingatkan warga untuk memprioritaskan keselamatan kelompok rentan, seperti warga lansia dan anak-anak, serta mewaspadai risiko hubungan pendek arus listrik saat banjir.

Pengalaman warga di Manado menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan berbasis pengalaman. Mereka segera mengangkat barang berharga ke tempat lebih tinggi saat hujan deras turun. Sikap adaptif seperti ini, ditambah kepatuhan pada imbauan resmi dan pemantauan cuaca secara berkala, menjadi langkah realistis agar dampak cuaca ekstrem yang kembali terjadi dapat diminimalkan.

Baca JugaBMKG Imbau Waspadai Hujan Sedang hingga Lebat 21 Februari

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jawaban Adem Atta Halilintar Soal Aurel Tak Diposting di IG Ibunya
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Detik-detik Kereta Bandara Tabrak Truk di Poris, Sirene Berbunyi tapi Palang Belum Menutup
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
Trump Perintahkan Pentagon Rilis Berkas Terkait Alien dan UFO
• 4 jam laluokezone.com
thumb
Eks Presiden Korsel Yoon Suk-yeol dijatuhi hukuman penjara seumur hidup
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Kubu Kerry Kejar Sendiri Keterangan Saksi Penting yang Tak Dihadirkan Jaksa untuk Bantah Dakwaan
• 12 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.