Meninggalnya NS (13 tahun) menyisakan sejumlah misteri. Sebab, badannya penuh dengan luka bakar hingga lebam.
Video NS yang sedang dirawat di RSUD Jampangkulon sebelum meninggal dunia pun ramai di media sosial. Dalam video, ada narasi bahwa NS merupakan korban penganiayaan.
Ibu tiri NS, TR (47 tahun), membantah soal tudingan dirinya merupakan pelaku penganiayaan. Dia menyebut NS meninggal dunia karena sakit dan membantah tudingan kekerasan yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Menurut TR, berdasarkan informasi yang ia terima, NS diduga mengalami penyakit serius yang berkaitan dengan gangguan darah.
“Iya itu sakit saja, sakit panas, kalau kemarin dari pak Surahman yang di BAP di Polsek itu tapi tidak memberikan bukti otentiknya hanya melihat dari Hp kalau anak itu didiagnosa kanker darah, Leukimia autoimun, jadi itu bener sakit,” ujar TR, Sabtu (21/2).
Dalam video pada saat dirawat, muka NR tampak jelas penuh luka. Baik di bagian mata maupun sekitar hidung. Tangannya pun dalam kondisi memakai infus. Napasnya tersengal-sengal. Saat ditanya, suara jawabannya terdengar lirih, tidak terlalu jelas.
Salah satu pertanyaan yang disampaikan seseorang kepada NS adalah apakah benar pernah disuruh meminum air panas, dia pun mengangguk.
Hasil autopsi, ditemukan luka bakar pada beberapa bagian tubuh NR. Sementara organ dalam seperti jantung dan paru-paru yang terpantau sedikit membengkak.
Terkait hal tersebut, TR menyebut kondisi kulit NS yang disebut mengalami luka atau melepuh itu karena sakit kanker.
“Kalaupun ada kulit yang melepuh itu akibat dari panas dalam karena kanker darah itu, itu juga informasi dari saksi yang kemarin,” kata dia.
NR meninggal pada Kamis (19/2) sekitar pukul 16.00 WIB. TR mengaku dia yang membawa NR ke RSUD. Namun, ia tidak mengetahui secara detail penjelasan medis karena fokus mengurus administrasi.
“Jadi kan hari Kamis itu dibawa ke RSUD Jampangkulon, pagi sama saya sama bapaknya, kalau keterangan dari rumah sakit itu kebetulan yang mendampingi almarhum itu kan bapaknya, kalau saya sibuk di bagian pendaftaran jadi saya enggak tahu yang disampaikannya,” ungkapnya.
Terkait isu perundungan dan berbagai spekulasi yang berkembang di media sosial, TR menilai hal tersebut bermula dari video kondisi korban yang sempat dikirim kepada pihak tertentu sebelum adanya diagnosis medis.
Menurut dia, beberapa kali NR mengucap kata 'mamah' (ibu) itu karena meminta dia untuk menjelaskan kejadian sebenarnya.
“Itu mungkin karena sebelum adanya diagnosis kanker darah itu, bapaknya langsung video langsung dikirim ke Pak Ustad guru ngajinya, diteruskan lagi ke H Isep, nah H Isep langsung dateng langsung interogasi anak untuk ngaku itu, ini, padahal anak sudah dalam keadaan kritis. Jadi kalau menurut saya, (ucapan NR bilang) 'mamah-mamah', kalau menurut saya karena manggil saja biar saya yang menjelaskan. Nah belum ada apa-apa langsung di-upload termasuk sama pak H Isep di-share di grup akhirnya sama netizen digoreng seperti itu,” paparnya.
TR mengakui sempat terjadi pertengkaran antara anak angkatnya dengan NS, namun menurutnya hal tersebut merupakan konflik biasa antara saudara.
“Oh iya itu memang bertengkar, tapi bertengkar anak-anak namanya anak-anak udah biasa bukan sekali itu aja dan akhirnya tetep baikan lagi,” katanya.
Ia juga membantah tudingan adanya penganiayaan terhadap korban seperti yang dituduhkan banyak akun media sosial kepadanya.
“Tidak! Saya tidak pernah seperti yang dituduhkan itu, kalau saya seperti itu mungkin anak itu sudah meninggal dari dulu, anak itu diurus sama saya dari kelas tiga SD, sampai kemarin saya yang ngurus semuanya, mulai pendidikannya, dari tidak bisa baca, tidak bisa ngaji saya yang ngurus, saya yang nyebokin saya yang nyuciin bajunya jadi saya tahu perkembangan anak ini semuanya saya tahu,” tegasnya.
TR dan ayah NR menikah pada tahun 2023. TR membantah adanya dugaan kekerasan yang disebut terjadi pada 2025. “Enggak, maksudnya itu pas mau berangkat ke sekolah itu tidak benar ada kekerasan seperti itu,” ujarnya.
Terkait proses yang berjalan, TR mengaku menyerahkan sepenuhnya kepada ketentuan yang berlaku dan berharap kebenaran dapat terungkap.
“Kalau saya pasrah saja, Allah yang maha tahu, kalau memang ini membuat anak saya tenang ya apa boleh buat, kalau aturan manusia kan bisa diubah dan dibuat, kalau aturan Allah kan enggak bisa, jadi saya pasrah saja ya mudah-mudahan saja ada keajaiban mudah-mudahan kebenaran bisa diperlihatkan,” tutupnya.





