RENUNGAN DAKWAH: Di Antara Hujan Makassar – Pinrang

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Suf Kasman

Aku meninggalkan Makassar menuju Pinrang untuk menyampaikan tausiyah Ramadhan.

Bulan puasa bernapas di dada umat—membawa harap sekaligus ujian.

Niat terpasang. Materi tersusun rapi. Waktu terjadwal disiplin. Namun di tengah perjalanan, langit mendadak pecah tanpa aba-aba.

Hujan turun seperti tumpahan dari langit retak. Deras. Tegas. Tanpa jeda.

Jalan berubah menjadi cermin hitam—licin dan berbahaya. Setiap kilometer terasa seperti ujian tak boleh diremehkan—seperti puasa: menahan lapar, menahan diri, menahan ego, bahkan menahan amarah tersembunyi.

Wiper kaca bergerak cepat, menyapu air penutup pandangan. Ia bekerja tanpa keluhan. Tanpa pengakuan. Berhenti sedetik saja, kaca menjadi buram, arah pun samar, dan bahaya mengintai di depan. “Mesa’ Ki’ Malleppo!”

Di situlah renungan dakwah datang.

Bukankah Ramadhan demikian?

Ia menyapu karat hati lama mengendap, meredam gejolak kerap tak terkendali, menjernihkan pandangan batin mulai rabun oleh ambisi dunia.

Gagal menjaga latihan ini, kejernihan berubah keruh. Kelurusan tampak bengkok. Cahaya semula terang perlahan meredup.

Aspal licin dari Pangkep ke Parepare memaksaku menurunkan kecepatan. Tak ada ruang untuk gegabah.

Lubang jalan bersembunyi di balik genangan. Dari jauh tampak rata, padahal menyimpan kejutan.

Tiba-tiba ban depan menghantam lubang tak terlihat. Mobil terguncang keras. Jantung terhentak. Sedikit saja salah kendali: ban pecah, velg bengkok, kemudi rusak—perjalanan bisa tamat sebelum tujuan tercapai.

Begitu pula kelalaian di bulan suci Ramadhan. Ia jarang datang sebagai dosa besar. Ia menyamar sebagai hal kecil dianggap biasa. Sekali menghantam, pahala dirajut susah payah dapat retak seketika.

Perjalanan ke Bumi Lasinrang ini menampar kesadaranku: dakwah bukan sekadar tiba lalu berbicara. Ia menjaga kendali saat badai datang. Ia merendahkan ego ketika alam menunjukkan siapa Yang Maha Kuasa.

Hujan tak pernah salah alamat. Ia turun sesuai ketetapan-Nya (QS. Ar-Ra’d: 17).

Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan madrasah pengendalian diri—tempat jiwa ditempa agar lebih jernih dan takwa diteguhkan.

Aku melaju lebih pelan. Lebih sadar. Lebih berkonsentrasi.

Satu kelengahan kecil di jalan raya bisa berakhir fatal. Satu keteledoran mikro dalam puasa Ramadhan dapat mengosongkan ruh ibadah tanpa terasa.

Di antara derasnya hujan Makassar–Pinrang, aku belajar: dunia hanyalah lintasan licin menuntut kewaspadaan.

Wiper menjelma nurani. Rem menegaskan takwa. Setir mengarahkan akal. Ramadhan menjadi bengkel ruh—memperbaiki semuanya sebelum perjalanan panjang menuju-Nya usai.

Sebelum memberi tausiyah kepada orang lain, perjalanan ini lebih dahulu menjadi tausiyah bagi diriku sendiri.

Sebab bahaya terbesar bukan hujan deras di luar kendaraan—melainkan kabut perlahan menutup hati, tanpa kita sadari.

Sabtu, 03 Ramadhan 1447 H / 21 Februari 2026


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Top 5 Ekonomi: Jadwal Pencairan Gaji ke-14 2026 hingga Harga Emas Antam Meroket
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
BMKG Peringatkan Anomali Cuaca Awal Ramadan 2026, Ini Daftar Wilayah Rawan 21-26 Februari
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Setahun Pimpin Jawa Barat, Dedi Mulyadi Akui Tekanan Anggaran Jadi Kendala dalam Perbaikan Jalan dan Pelayanan Publik
• 5 jam lalugrid.id
thumb
WNA Protes Suara Tadarusan, PBNU Dorong Regulasi Speaker Masjid di Daerah
• 11 jam laludetik.com
thumb
Jadwal Imsak Hari Ini Sabtu 21 Februari 2026 di Medan, Denpasar, Makassar, Pontianak, hingga Mataram
• 19 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.