Bisnis.com, JAKARTA – Brasil dan India meresmikan kesepakatan kerangka kerja sama mineral kritis dengan komitmen mempererat kolaborasi dalam pengolahan.
Melansir Bloomberg, Sabtu (21/2/2026), kerja sama ini merupakan salah satu upaya mengamankan pasokan unsur tanah jarang di tengah tekanan rantai pasok global.
“Perjanjian mineral kritis ini akan membantu membentuk rantai pasok baru yang tangguh dan berkelanjutan,” ujar Perdana Menteri India, Narendra Modi, usai bertemu Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, di New Delhi, Sabtu.
Brasil, yang memiliki cadangan unsur tanah jarang terbesar kedua di dunia, menjadi sumber alternatif strategis bagi India dalam upaya mengurangi ketergantungan pada China serta mengamankan pasokan penting bagi industri elektronik, energi bersih, dan pertahanan.
Kesepakatan ini juga hadir tak lama setelah India bergabung dalam inisiatif Pax Silica yang dipimpin Amerika Serikat untuk membangun rantai pasok yang tangguh di sektor semikonduktor, kecerdasan buatan, dan mineral kritis.
Cengkeraman Beijing atas pasokan mineral strategis bagi manufaktur berteknologi tinggi dan sektor pertahanan kian menjadi perhatian negara-negara di dunia, terutama ekonomi berkembang seperti India.
Baca Juga
- Bahlil Pastikan RI Buka Keran Investasi AS, Bukan Ekspor Mentah Mineral Kritis
- Pemerintah Tegaskan RI Tak Akan Ekspor Mineral Mentah ke AS
- Kesepakatan Dagang Diteken, RI Bakal Hapus Pembatasan Ekspor Mineral ke AS
Melalui penguatan kerja sama ini, Brasil dan India berupaya memosisikan diri sebagai suara utama negara berkembang serta meningkatkan pengaruh dalam teknologi dan rantai pasok global.
Pada Juli lalu, Modi mengunjungi Brasil dan kedua negara sepakat memperdalam kerja sama di bidang pertahanan, energi, ketahanan pangan, serta menurunkan hambatan non-tarif.
Hubungan kedua negara juga menguat setelah Presiden AS, Donald Trump, mengenakan tarif 50 persen terhadap keduanya. Tarif India kemudian diturunkan menjadi 18 persen setelah kesepakatan dagang dicapai awal bulan ini.
Namun, perjanjian tersebut berpotensi terguncang setelah Mahkamah Agung AS membatalkan sejumlah tarif yang diberlakukan Trump tahun lalu, disusul kebijakan tarif global baru sebesar 10 persen.
India dan Brasil kini berupaya beralih dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi pemain utama dalam pengolahan mineral kritis, di tengah dominasi China dalam ekstraksi dan pemrosesan.
“Meningkatkan investasi dan kerja sama di bidang energi terbarukan serta mineral kritis merupakan inti dari perjanjian perintis yang kami tandatangani hari ini,” ujar Lula.




