Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun di Sukabumi meninggal dunia. Namun, meninggalnya anak berinisial MS itu membuat polisi turun tangan karena di sekujur tubuhnya terdapat luka.
NS adalah warga Kampung Leuwi Nanggung, Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi. Sempat viral di media sosial, potongan video yang memperlihatkan kondisi NS sebelum meninggal.
Dalam video tersebut, terlihat NS terbaring yang disebut-sebut sedang dirawat di RSUD Jampangkulon.
Mukanya tampak jelas penuh luka. Baik di bagian mata maupun sekitar hidung. Tangannya pun dalam kondisi memakai infus. Napasnya tersengal-sengal. Saat ditanya, suara jawabannya terdengar lirih, tidak terlalu jelas.
Salah satu pertanyaan yang disampaikan seseorang kepada NS adalah apakah benar pernah disuruh meminum air panas, dia pun mengangguk.
Belum diketahui, kapan video tersebut diambil. Namun, NS dinyatakan meninggal dunia pada Kamis (19/2) sekitar pukul 16.00 WIB.
Dokter Puskesmas Jampangkulon, Adi Yusuf, menjelaskan bahwa pada 6 Februari 2026, NS sempat berobat ke Puskesmas dengan keluhan panas, batuk, dan pilek.
“Pasien datang dengan keluhan demam, batuk, pilek, serta sakit ulu hati. Diagnosis sementara infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Kami berikan obat paracetamol, vitamin B6, antasida, dan obat batuk. Riwayat penyakit sebelumnya tidak ada,” kata Adi Yusuf.
Isu dugaan penganiayaan pun sempat mencuat di tengah masyarakat, termasuk kabar bahwa korban diduga mengalami kekerasan serius, oleh orang tua tiri. Namun, pihak kepolisian menegaskan bahwa seluruh informasi tersebut masih dalam proses pendalaman dan belum dapat disimpulkan sebelum hasil autopsi keluar.
Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Sukabumi kemudian menyelidiki kematian NS.
Kasat Reskrim Polres Sukabumi, AKP Hartono, membenarkan peristiwa tersebut dan menyebutkan bahwa pihaknya masih menunggu hasil autopsi untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban.
"Ini mau autopsi untuk dugaan terhadap narasi (KDRT) tersebut. Kami masih menunggu hasil autopsi," kata Hartono, pada Jumat (20/2).
Hasil autopsi sudah rampung pada Jumat (20/2). Namun penyebab pasti kematian masih menunggu uji laboratorium.
Luka Bakar di Sekujur Tubuh, Organ Dalam Sedikit BengkakKepala RS Bhayangkara TK. II Setukpa Sukabumi, Kombes Carles Siagian, menjelaskan bahwa proses autopsi berlangsung selama hampir tiga jam. Berdasarkan pemeriksaan luar dan dalam, ditemukan luka bakar pada beberapa bagian tubuh korban.
"Ditemukan luka bakar di anggota gerak seperti lengan, kaki kanan, dan kiri. Selain itu, ada luka bakar di area punggung, bibir, serta hidung," ungkap dokter Carles.
Meski ditemukan banyak luka bakar, Carles menegaskan bahwa secara medis luka-luka tersebut belum bisa disimpulkan sebagai penyebab kematian. Tim juga memeriksa organ dalam seperti jantung dan paru-paru yang terpantau sedikit membengkak.
"Penyebab kematian belum bisa disimpulkan karena luka tersebut seharusnya tidak menyebabkan kematian. Kami sedang menunggu hasil laboratorium dari Jakarta untuk mengetahui apakah ada zat tertentu atau faktor penyakit sebelumnya," tambahnya.
Tim forensik juga memastikan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan tumpul pada tubuh korban. "Untuk kekerasan tumpul tidak ada," tegasnya.
Sementara itu, luka di area bibir bagian atas dan dekat hidung disebut sebagai luka lama, sehingga belum bisa dipastikan apakah berasal dari benturan benda tumpul atau sebab lain.
Kata Sang AyahAyah NS, Anwar Satibi, yang juga merupakan Ketua Yayasan Forum Silaturahmi Barisan Benteng Pajampangan (YFSBBP) Kecamatan Surade, menyatakan bahwa keputusan autopsi diambil demi mencari keadilan dan kebenaran. Ia tak ingin kematian putranya menjadi bola liar fitnah di tengah masyarakat.
"Saya ingin memastikan penyebabnya. Saya tidak mau menuduh sembarangan karena itu bisa jadi fitnah. Kemarin sempat bimbang karena kasihan melihat kondisi anak, tapi daripada penasaran berkepanjangan, saya putuskan lanjut autopsi," ujar Anwar di RS Bhayangkara.
Anwar mengakui selama ini dirinya jarang berada di rumah karena tuntutan pekerjaan sebagai penyedia jasa panggilan. Selama ini, NS tinggal bersama ibu sambungnya di Jampangkulon. Di tengah duka mendalam, Anwar memberikan pesan emosional kepada para orang tua.
"Pesan saya, serusak apa pun rumah tangga, usahakan pertahankan demi anak. Jangan sampai anak-anak (hanya) diasuh oleh orang lain atau ibu tiri tanpa pengawasan kita," tuturnya lirih.





