Percakapan soal hubungan dan keintiman kini semakin terbuka di ruang publik. Namun, ada satu aspek yang masih sering luput dibahas, yakni soal perlindungan saat berhubungan. Topik ini kerap dianggap sensitif, sehingga tidak selalu menjadi bagian dari diskusi antar pasangan.
Padahal, penggunaan alat perlindungan salah satunya kondom, merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan reproduksi sekaligus mencegah risiko infeksi menular seksual.
Berangkat dari kondisi tersebut, Kondom Sutra meluncurkan kampanye bertajuk “Mau Kalau Pake Kondom” untuk mendorong masyarakat lebih terbuka membicarakan penggunaan kondom. Namun bukan hanya sebagai alat kontrasepsi, tapi juga sebagai bagian dari hubungan yang sehat dan bertanggung jawab.
Menggeser Cara Pandang Masyarakat Terhadap KondomSebagai brand yang telah hadir lebih dari tiga dekade di Indonesia, Kondom Sutra menilai masih ada dinamika dalam relasi yang membuat isu perlindungan sering dinegosiasikan. Tidak sedikit perempuan berada dalam posisi harus diyakinkan saat diajak berhubungan, dengan kalimat-kalimat yang meremehkan risiko.
Untuk itu, Head of Marketing DKT Indonesia, Cut Vellayati, menegaskan bahwa kampanye “Mau Kalau Pake Kondom” ini sejatinya membawa pesan lugas agar mudah dipahami publik. Yakni agar perempuan diposisikan sebagai pihak yang punya andil besar dalam hubungan.
Perspektif yang Dekat dengan Realitas Sehari-hariUntuk membuat pesannya lebih relevan, kampanye ini juga menghadirkan sudut pandang komedian dan public figure Pandji Pragiwaksono. Ia menyoroti bahwa dalam praktiknya masih banyak laki-laki mencari alasan agar tidak menggunakan kondom. Padahal menurut Pandji, komunikasi terbuka justru penting dalam relasi.
“Kadang laki-laki suka cari alasan supaya nggak pakai kondom. Padahal kalau pasangannya tegas, justru jadi jelas batasannya. Dari situ komunikasi bisa lebih sehat,” kata Pandji.
Menurutnya, kejelasan bukan soal tidak percaya pada pasangan, melainkan bentuk tanggung jawab agar kedua pihak sama-sama nyaman.
Kondom sebagai Bentuk Self-CareSelain perspektif sosial, kampanye ini juga menekankan aspek kesehatan. Secara medis, kondom merupakan satu-satunya alat yang dapat membantu mencegah infeksi menular seksual, termasuk HIV, sekaligus mengurangi risiko kehamilan yang tidak direncanakan.
Influencer kesehatan seksual Adella Wulandari melihat ketegasan dalam menetapkan perlindungan sebagai bentuk menghargai diri sendiri. “Aku bukan ribet, aku lebih menganggap diriku cerdas. Kalau dia benar-benar cinta, dia akan menghormati syarat itu,” ujarnya.
Harapannya, kondom bisa menjadi bagian dari komunikasi pasangan, bukan sesuatu yang tabu atau topik yang dibicarakan setengah hati.



