Perjuangan seorang santri penghafal Al-Qur'an di sebuah panti asuhan bernama Dia Anggraini Selingsing, atau yang akrab disapa Aini, menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi dan status yatim bukanlah penghalang untuk mengukir prestasi. Remaja yang kini menetap di Panti Asuhan Al-Hya Depok tersebut telah berhasil menjaga tujuh juz Al-Qur'an dalam ingatannya.
Dunia Aini berubah dalam sekejap pada 2019 ketika sang ayah meninggal dunia saat ia masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar. Kehilangan sosok kepala keluarga membuat kondisi ekonomi keluarganya menurun secara signifikan, sehingga ia harus menerima kenyataan untuk tinggal dan menetap di panti asuhan.
"Semenjak ayah meninggal tuh kayak semua tuh berubah gitu, ekonomi tuh turun drastis," ungkap Aini.
Sebagai anak keempat dari lima bersaudara Aini membawa beban rindu yang mendalam terhadap ibu dan saudara-saudaranya. Namun hal itu tidak melemahkan tekad Aini untuk tetap teguh dengan cita-citanya menjadi hafizah demi membanggakan orang tuanya.
Perjalanan menghafal Al-Qur'an di balik dinding panti asuhan tidak selalu mulus. Aini mengaku terkadang merasa jenuh atau sedih saat teringat keluarganya. Namun, dukungan dari para ustaz dan ustazah serta motivasi untuk memiliki pegangan hidup membuatnya terus bangkit.
Baca juga: Kisah Inspiratif Sarah, Menebarkan Semangat Menghafal Al-Qur'an Melalui Ekskul
Ketekunan Aini membuahkan hasil luar biasa. Pada 2025, ia berhasil meraih juara dua Musabaqah Hifdzil Quran (MHQ) juz 30 tingkat Kota Depok. Prestasi ini ia persembahkan sebagai bukti kepada keluarganya bahwa ia mampu membawa harum nama orang tua meski hidup di panti asuhan.
Dalam kurun waktu satu setengah tahun sejak mulai serius menghafal Al-Qur'an, Aini telah menguasai 7 juz. Ia membagikan kiatnya dalam menjaga hafalan, yaitu dengan metode murajaah (mengulang hafalan) setiap selesai salat dan mengikuti program tartilan atau mengaji bersama di panti.
Untuk menambah hafalan baru, Aini menerapkan target satu halaman per hari. "Dibaca dulu satu kaca (halaman) dari atas sampai bawah sampai lancar, sampai benar tahsinnya, terus dihafalin satu ayat demi satu ayat," jelasnya.
Aini memiliki harapan besar untuk menyelesaikan hafalannya hingga 30 juz. Baginya setiap ayat yang ia hafal adalah hadiah terbaik untuk orang tuanya.
Kasubdit Lembaga Tilawah dan Musabaqah Al-Qur'an Kementerian Agama, Rijal Ahmad Rangkuty, memberikan apresiasi tinggi atas capaian Aini di usianya yang masih sangat muda. Menurutnya, menghafal Al-Qur'an adalah bentuk hidayah dan membutuhkan komitmen yang kuat.
"Apapun latar belakang kita, apapun profesi kita, kalau kita dengan kesungguhan dan komitmen, maka InsyaAllah kita akan mampu menghafal ayat-ayat Al-Qur'an," ujar Rijal.




