PDB AS pada Q4 2025 tumbuh 1,4 persen, jauh di bawah estimasi

antaranews.com
2 jam lalu
Cover Berita
Washington (ANTARA) - Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat (AS) hanya mencatat pertumbuhan tahunan 1,4 persen pada kuartal keempat (Q4) 2025, jauh di bawah estimasi para analis yang memperkirakan pertumbuhan 2,5 persen, menurut data yang dirilis oleh Departemen Perdagangan AS pada Jumat (20/2).

Angka tersebut juga menunjukkan perlambatan signifikan dari ekspansi 4,4 persen yang tercatat pada Q3, menyusul penutupan (shutdown) pemerintahan federal dan penurunan permintaan konsumen yang membebani aktivitas ekonomi.

Perilisan data tersebut sempat tertunda selama satu bulan akibat shutdown pemerintahan. Departemen Perdagangan AS memperkirakan shutdown, yang berlangsung selama paruh pertama kuartal tersebut, kemungkinan mengurangi pertumbuhan ekonomi sebesar sekitar 1 poin persentase.

Secara tahunan, ekonomi tumbuh dengan laju 2,2 persen, turun dari 2,8 persen pada 2024. Indikator inflasi utama juga menunjukkan harga yang tetap tinggi, dengan indeks harga belanja konsumsi pribadi utama yang banyak dipantau, kecuali makanan dan energi, naik 3 persen pada Desember 2025, jauh di atas target 2 persen yang ditetapkan The Fed.

Dean Baker, salah satu pendiri Pusat Penelitian Ekonomi dan Kebijakan, mengungkapkan kepada Xinhua bahwa shutdown dan pemutusan hubungan kerja di Departemen Efisiensi Pemerintah (Department of Government Efficiency/DOGE) merupakan faktor utama di balik pelemahan tersebut.

Sebelum dirilisnya laporan tersebut, Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan tentang pertumbuhan PDB yang melemah, dan menyebut shutdown parsial pemerintah yang berakhir pada November sebagai penyebabnya.

"Shutdown pemerintahan oleh Partai Demokrat telah membuat AS rugi setidaknya dua poin dalam PDB. Itulah mengapa mereka melakukannya lagi, dalam bentuk mini. Tidak akan ada lagi shutdown!" kata Trump dalam sebuah unggahan di media sosial, sembari mengkritik Gubernur The Fed Jerome Powell karena tidak menurunkan suku bunga secara lebih agresif.

Bank sentral itu telah memangkas suku bunga acuannya sebesar tiga perempat poin persentase pada akhir tahun lalu, tetapi sejak itu mengisyaratkan pendekatan yang lebih hati-hati mengingat risiko inflasi.

Pendapat para ekonom mengenai prospek ekonomi tahun 2026 pun terbagi. Gary Clyde Hufbauer dari Peterson Institute for International Economics memperkirakan PDB kuartal pertama 2026 berada di kisaran 2 persen dan pertumbuhan setahun penuh di angka 2,5 persen, dengan tingkat pengangguran kemungkinan meningkat menjadi 4,8 persen dari 4,3 persen yang tercatat pada Januari.

Baker memperkirakan pertumbuhan sekitar 2 persen, tetapi memperingatkan bahwa hasilnya akan bergantung pada kebijakan tarif dan kinerja sektor kecerdasan buatan (AI). Dia juga memperingatkan bahwa pecahnya "gelembung AI" dapat mengubah situasi secara drastis.

Banyak analis berpendapat saham-saham teknologi dihargai terlalu tinggi akibat optimisme berlebihan seputar perkembangan AI.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wakil Ketua Komisi XI DPR Minta Strategi Agresif Pulihkan Ekonomi Sumbar Pascabencana
• 7 jam lalupantau.com
thumb
Menag Perkuat Peran Masjid Negara IKN di Asia Tenggara
• 11 jam lalutvrinews.com
thumb
BI dan Kemenkeu Sepakati Debt Switch SBN Rp173,4 Triliun di 2026
• 9 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Dapat Kepuasan Kinerja 87,7 Persen, Samsumarlin: Masyarakat Sidrap Akui Kerja Nyata Setahun Kepemimpinan SAR-Kanaah
• 5 jam laluharianfajar
thumb
Tuduhan Cabul Jadi Modus Begal, Polda Metro Jaya Tangkap Pelaku yang Viral di Ciledug!
• 9 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.