Filosofi Jawa wang sinawang adalah pitutur luhur yang mengajarkan bahwa hidup manusia itu sering kali hanya terlihat indah dari luar, tetapi kenyataannya belum tentu demikian. Wang sinawang (atau lebih tepatnya sawang sinawang) adalah filosofi Jawa yang berarti "memandang dan dipandang".
Ungkapan ini bermakna bahwa manusia cenderung melihat hidup orang lain lebih indah/enak, sementara hidupnya sendiri terasa berat, padahal kenyataannya belum tentu demikian. Apa yang terlihat oleh mata belum tentu menggambarkan keadaan yang sebenarnya.
Pitutur ini sangat relevan jika dikaitkan dengan ungkapan modern “rumput tetangga lebih hijau” (the grass is always greener on the other side). Keduanya sama-sama menyoroti kecenderungan manusia untuk merasa bahwa kehidupan orang lain lebih baik, lebih nyaman, dan lebih bahagia dibandingkan kehidupan dirinya sendiri.
Wang Sinawang dalam Dunia KerjaDalam hal pekerjaan, fenomena wang sinawang sering terjadi. Misalnya, seseorang yang bekerja sebagai guru mungkin merasa iri melihat teman yang bekerja di perusahaan dengan gaji besar. Sebaliknya, orang yang bekerja di perusahaan besar bisa jadi iri melihat guru yang tampak lebih santai, punya libur panjang, dan dianggap “lebih dihormati masyarakat”.
Padahal, jika dilihat lebih dalam, masing-masing pekerjaan memiliki beban dan tantangannya sendiri. Guru mungkin menghadapi tekanan administrasi, tuntutan moral, dan tanggung jawab membentuk karakter murid. Pegawai kantor mungkin menghadapi target tinggi, jam kerja panjang, tekanan atasan, bahkan risiko PHK.
Namun karena manusia sering menilai hanya dari hasil luar, muncullah rasa kurang puas. Inilah yang disebut wang sinawang: yang terlihat enak, ternyata belum tentu benar-benar enak.
Rumput Tetangga Lebih Hijau: Ilusi PerbandinganoUngkapan “rumput tetangga lebih hijau” menggambarkan bahwa manusia sering membandingkan hidupnya dengan orang lain. Dalam dunia kerja, perbandingan itu bisa berupa:
“Enak ya kerja di sana gajinya besar.”
“Enak ya jadi PNS, masa depan aman.”
“Enak ya kerja remote, bisa dari mana saja.”
“Enak ya jadi pengusaha, bebas waktu.”
Masalahnya, kita hanya melihat “hijau”-nya rumput orang lain, tetapi tidak melihat berapa banyak air, pupuk, dan perjuangan yang membuat rumput itu tampak hijau.
Bahkan bisa jadi rumput itu hijau karena “cat”, artinya hanya tampak bagus di luar, tetapi rapuh di dalam.
Pelajaran Moral: Jangan Mudah Iri dan Meremehkan Hidup SendiriAjaran wang sinawang mengingatkan kita untuk tidak mudah iri, karena setiap orang punya pergumulannya sendiri. Bisa jadi teman yang terlihat sukses sebenarnya sedang stres, burnout, atau kehilangan waktu bersama keluarga. Ada juga orang yang terlihat santai, tetapi sebenarnya sedang berjuang secara ekonomi.
Pitutur ini juga mengajak kita untuk lebih bersyukur dan realistis: hidup kita mungkin tidak sempurna, tetapi selalu ada nilai dan berkah yang kadang luput kita sadari.
Dalam pekerjaan, wang sinawang mengajarkan bahwa jangan menilai pekerjaan orang lain hanya dari tampilan luar. Rumput tetangga memang bisa terlihat lebih hijau, tetapi sering kali itu karena kita terlalu fokus melihat milik orang lain dan lupa merawat rumput kita sendiri.
Maka, kunci kebijaksanaan hidup adalah menjalani pekerjaan dengan tekun, meningkatkan kemampuan diri, dan mensyukuri proses, sambil tetap belajar dari orang lain tanpa harus iri. Karena pada akhirnya, hidup bukan soal siapa yang paling tampak berhasil, tetapi siapa yang paling kuat dan tulus dalam menjalani perjuangannya.





