FAJAR, JAKARTA — Kemenangan 2-1 yang diraih Persija Jakarta atas PSM Makassar di Jakarta International Stadium menghadirkan dua cerita berbeda. Di satu sisi, Macan Kemayoran menjaga asa persaingan gelar. Di sisi lain, pertandingan justru memunculkan sorotan tajam terhadap kualitas lapangan stadion yang ironisnya sedang dijadikan rujukan pembangunan stadion baru di Makassar.
Pertandingan pekan ke-22 Super League itu berlangsung dalam atmosfer meriah. Namun di balik gemuruh tribun, pelatih Persija, Mauricio Souza, secara terbuka mengkritik kondisi rumput lapangan Jakarta International Stadium yang dinilainya jauh dari ideal untuk sepak bola modern.
Menurut Souza, kualitas permukaan lapangan tidak mendukung gaya bermain cepat yang menjadi identitas timnya. Persija selama ini mengandalkan pergerakan bola cepat dan akselerasi pemain di ruang sempit. Ketika bola tidak mengalir mulus di atas rumput, ritme permainan otomatis terganggu.
Ia menyebut kondisi tersebut bukan hanya merugikan timnya, tetapi juga lawan. Meski begitu, Souza menilai kemenangan Persija tak lepas dari kemampuan pemain beradaptasi lebih cepat dibanding PSM.
Pelatih asal Brasil itu bahkan mencontohkan langsung dampak kondisi lapangan terhadap jalannya pertandingan. Kesalahan kiper PSM, Muhammad Reza Arya Pratama, saat membuang bola yang kemudian berujung gol Emaxwell Souza de Lima disebutnya sebagai salah satu situasi yang dipengaruhi kualitas permukaan lapangan. Bola yang tidak bergerak stabil membuat antisipasi menjadi lebih sulit.
Kritik Souza tidak berhenti di situ. Ia juga menyoroti tidak digunakannya teknologi VAR akibat gangguan teknis. Dalam pandangannya, absennya Video Assistant Referee di era sepak bola modern merupakan kemunduran yang berpotensi memengaruhi keadilan pertandingan.
Ia mengaku menyayangkan keputusan tersebut, meski pihak tim sudah menerima informasi sebelumnya bahwa laga akan berlangsung tanpa VAR. Bagi Souza, teknologi tersebut seharusnya menjadi standar tetap kompetisi, bukan fasilitas yang hadir secara situasional.
Pandangan serupa datang dari pelatih PSM, Tomas Trucha. Ia mengungkapkan timnya baru mengetahui VAR tidak aktif saat sesi pemanasan. Hingga jeda babak pertama, mereka masih menunggu kepastian apakah sistem tersebut bisa digunakan, namun gangguan teknis tak kunjung teratasi.
Trucha menilai konsistensi penggunaan VAR menjadi bagian penting dalam menjaga prinsip fair play. Jika teknologi sudah diterapkan dalam liga, maka seluruh pertandingan seharusnya mendapatkan standar yang sama tanpa pengecualian.
Di tengah polemik kualitas lapangan dan absennya VAR, kemenangan tetap menjadi milik Persija. Tambahan tiga poin menjaga peluang mereka dalam perebutan gelar, dengan persaingan papan atas yang semakin ketat. Souza menegaskan timnya hanya fokus pada performa sendiri tanpa memikirkan hasil klub lain, karena kompetisi masih menyisakan banyak pertandingan.
Menariknya, kritik terhadap kondisi JIS muncul bersamaan dengan langkah Pemerintah Kota Makassar yang justru menjadikan stadion tersebut sebagai role model pembangunan Stadion Untia, calon markas baru PSM Makassar.
Di bawah kepemimpinan Wali Kota Munafri Arifuddin, Pemkot Makassar tengah mematangkan proyek pembangunan stadion di Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya. Proyek ini telah memasuki tahap lelang Manajemen Konstruksi melalui sistem LPSE dan diproyeksikan menjadi ikon olahraga modern di kawasan timur Indonesia.
Awal Februari lalu, Munafri bersama jajaran pemerintah kota melakukan kunjungan langsung ke Jakarta International Stadium untuk mempelajari sistem konstruksi dan pengelolaan stadion modern. Rombongan diterima oleh Direktur Utama PT Jakarta Propertindo, Iwan Takwin, yang memaparkan berbagai aspek pengelolaan stadion mulai dari desain, pemilihan material, keamanan, hingga strategi operasional pasca pembangunan.
Menurut Munafri, pembangunan Stadion Untia tidak hanya berfokus pada fisik bangunan, tetapi juga tata kelola jangka panjang. Stadion dirancang sebagai fasilitas multifungsi yang mampu menjadi pusat aktivitas publik, konser musik, dan event berskala besar agar memiliki nilai ekonomi berkelanjutan.
Pernyataan itu memperlihatkan ambisi Makassar menghadirkan stadion modern yang tidak sekadar menjadi kandang sepak bola, tetapi ruang publik produktif bagi kota. Namun kritik terhadap kualitas lapangan JIS menjadi pengingat penting bahwa standar stadion modern tidak berhenti pada arsitektur megah atau kapasitas besar semata.
Kualitas rumput, sistem perawatan, hingga konsistensi teknologi pertandingan menjadi elemen yang sama krusialnya. Sebab pada akhirnya, stadion bukan hanya tentang bagaimana ia terlihat, tetapi bagaimana ia bekerja ketika pertandingan berlangsung.
Di antara sorotan lampu stadion dan rencana besar pembangunan di Makassar, satu pelajaran terasa jelas. Role model bukan untuk ditiru sepenuhnya, melainkan dipelajari agar kesalahan yang sama tidak terulang ketika Stadion Untia benar-benar berdiri sebagai rumah baru PSM Makassar di masa depan.





