Kasus tewasnya NS, anak di Sukabumi yang diduga dianiaya ibu tiri masih jadi misteri. Polisi belum menetapkan tersangka dalam kasus ini.
Ayah korban, Anwar Satibi, sangat terpukul dengan kejadian ini. Hal yang paling membuatnya sakit, yakni harus melepas anaknya yang punya cita-cita menjadi kiai.
"Dia ingin jadi kiai. Ya itu yang membuat saya sakit," kata Anwar di Sukabumi, dikutip Minggu (22/2).
Anwar menyatakan, NS merupakan pelajar SMP kelas 1, yang juga merupakan santri Pondok Pesantren Darul Maarif di Kecamatan Cibitung. Ketika menjelang ramadan, dia pulang ke rumah di Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon.
"Sampai kemarin saya pulang dari Sukabumi saya kasih uang Rp 50 ribu. Dia bilang alhamdulillah buat bekal di pesantren. Itu yang membuat saya sakit karena dia ingin jadi kiai," ujar dia.
Anwar menuturkan, pulang dari pondok pesantren, anaknya dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan dia sempat mengajak anaknya jalan-jalan.
Tetapi pada Rabu (18/2), ketika Anwar bekerja, ibu tiri NS menelepon. Di telepon itu, ibu tiri memberi tahu kalau NS sakit panas.
"Pas sampai rumah saya kaget melihat kondisi kulit anak saya yang kulitnya pada melepuh. Saya tanya Mah kenapa kulitnya seperti ini? dia jawab 'ini kan sakit panas yah jadi kulitnya pada melepuh'," ujarnya.
Dia merinci, kulit tubuh anaknya melepuh pada bagian kaki, punggung, tangan dan lainnya.
Keesokan harinya, anak tersebut dibawa ke RSUD Jampangkulon. Yang mengajak Anwar untuk membawa sang anak ke rumah sakit adalah ibu tirinya.
Sesampainya di rumah sakit, Anwar mulai merasa ada yang janggal dengan kondisi anaknya. Ia kemudian meminta Isep Dadang Sukmana, pengurus pondok pesantren tempat anak itu menimba ilmu, untuk datang ke rumah sakit.
Di ruang IGD, Isep menanyai anak tersebut. Sang anak mengaku telah diberi minum air panas oleh ibu tirinya.
"Haji isep datang, ditanyalah ini anak, yah ngaku dikasih air panas," ujarnya.
Di sana, Anwar sempat meluapkan kemarahannya kepada istrinya yang juga merupakan ibu tiri korban. Setelah itu, anak tersebut mendapat perawatan intensif di ICU karena kondisinya kritis. Namun, nyawanya tidak berhasil diselamatkan dan ia meninggal dunia pada Kamis sore.





