Warga Tionghoa Perantauan yang Kembali ke Daratan Tiongkok Terkejut: Jalanan Sepi dan Harga-harga Sangat Murah

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

Baru-baru ini, dua warga Tionghoa yang telah lama tinggal di luar negeri kembali ke Tiongkok dan merekam berbagai pengalaman mereka. Yang satu melakukan perjalanan dinas selama beberapa minggu di Shanghai, Beijing, dan Jinan; yang lainnya, untuk pertama kalinya dalam 40 tahun, pulang ke Nanning untuk merayakan Tahun Baru Imlek. Kesan yang sama mereka rasakan: jalanan kota terasa kosong dan lengang.

EtIndonesia. Seorang konten kreator yang kerap bolak-balik Tiongkok–Amerika Serikat dengan nama samaran “Mei Dashi” mengatakan bahwa pada Januari–Februari tahun ini, karena pekerjaan, ia tinggal beberapa waktu di Shanghai, Beijing, dan Jinan. Saat berjalan di jalanan Shanghai—makan mi di restoran atau berbelanja di supermarket—kesan terkuatnya adalah hampir tidak terlihat orang. Kondisi serupa juga ia temukan di Jinan.

Sebagai contoh, area sekitar Jembatan Jalan Zhejiang dan Jembatan Jalan Fujian di Shanghai—yang hanya berjarak kurang dari 10 menit berjalan kaki dari Jalan Pejalan Kaki Nanjing—dulunya merupakan pusat kota lama. Kini, banyak bangunan kosong dan banyak warga telah pindah.

Kawasan kuliner Jalan Yunnan di Shanghai juga masuk dalam rencana relokasi pemerintah kota. Banyak merek lama satu per satu pergi; warga pindah, dan nuansa keramaian pun menghilang.

Ia mengamati bahwa di pusat kota yang “kosong” tersebut dibangun banyak pusat perbelanjaan baru. Namun, penduduk asli telah direlokasi ke pinggiran kota, sehingga yang tersisa hanyalah wisatawan dan influencer yang datang untuk berfoto. Akibatnya, pusat perbelanjaan ramai hanya beberapa hari setelah dibuka, lalu cepat sepi karena basis konsumen sesungguhnya tidak lagi tinggal di sekitar sana.

Sementara itu, seorang blogger yang bermigrasi ke Kanada dengan nama samaran “Feng Jie” mengatakan dalam video pada 18 Februari bahwa tahun ini adalah pertama kalinya dalam 40 tahun ia pulang ke kampung halaman di Nanning untuk merayakan malam Tahun Baru Imlek. Ia mengaku tertegun saat berjalan-jalan di siang hari: jalan besar yang dulu ramai kini nyaris tanpa orang dan kendaraan. Kota itu terasa seperti kota kosong. Ia merasakan kekosongan di mana-mana, bahkan di dalam hatinya, dengan perasaan yang sulit diungkapkan.

“Feng Jie” menambahkan, hanya lentera merah yang tergantung di tiang lampu jalan yang mengingatkan bahwa itu adalah masa perayaan Tahun Baru, sementara sekelilingnya tetap lengang—kontrasnya sangat kuat. Orang yang sesekali terlihat pun kebanyakan wisatawan.

Selain sepinya orang, kesan kuat lainnya adalah harga barang yang sangat murah hingga terasa tak masuk akal.

“Mei Dashi” memberi beberapa contoh: makan prasmanan di hotel bintang lima Hyatt di Shanghai, dua orang hanya membayar 136 yuan (sekitar 68 yuan per orang); menikmati dim sum pagi di restoran Kanton kelas atas di Jinan, hanya 9,9 yuan sudah mendapat satu meja kudapan lengkap dengan teh; di lobi bar Sheraton, 38 yuan sudah termasuk kopi dan pencuci mulut, bahkan bisa duduk berlama-lama sepanjang sore.

Menurutnya, bagi orang yang lama tinggal di Eropa atau Amerika, harga semurah ini justru membuat orang meragukan kualitasnya.

Ia menganalisis bahwa penyebabnya adalah kompetisi berlebihan yang menekan harga. Konsumen kini menganggap layanan kelas lima bintang seharusnya murah; jika tidak, mereka enggan berbelanja. Para pelaku usaha, demi merebut pasar yang terbatas, terpaksa terus menurunkan harga. Ketika harga ditekan hingga batasnya, margin keuntungan menyusut, investasi berkurang, kenaikan gaji sulit, bahkan berujung pada pemutusan hubungan kerja.

Ia juga menyinggung masalah kualitas udara. Pertengahan Januari, saat terbang dari Amerika Serikat ke Shanghai, ia langsung melihat kabut polusi yang jelas. Indeks kualitas udara (AQI) melampaui 200, tergolong polusi berat. Teman-teman setempat mengatakan bahwa jumlah hari dengan udara buruk meningkat pada musim dingin ini.

Selama empat hari tinggal di Jinan, cuaca juga terus berkabut. Dari lantai 47, ia memotret panorama kota yang diselimuti kabut abu-abu. (Hui)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ramalan Zodiak Besok, 23 Februari 2026, Cancer Ada Rezeki Tak Terduga Untukmu
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Prabowo Dapat Jersey Reece James saat Bertemu Pemilik Chelsea di AS
• 17 jam laludetik.com
thumb
Bripda MS jadi Tersangka Kasus Tewasnya Siswa Madrasah di Tual
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Tips Investasi Emas agar Tetap Untung Saat Harga Tinggi
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
RI Borong Produk Pertanian AS Senilai Rp75,88 Triliun, Ini Daftarnya
• 3 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.