Begini Harapan SKK Migas Soal Sumur Salawati Papua

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — SKK Migas optimistis sumur pengembangan di Lapangan Salawati, Papua Barat berpotensi mendukung pencapaian target lifting minyak nasional dalam APBN 2026 sebesar 610.000 barel per hari.

Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Heru Setyadi mengatakan sumur pengembangan baru ini telah memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian target lifting nasional.

“Tentunya sumur ini berkontribusi dalam pencapaian target lifting nasional. Diharapkan sumur berikutnya bisa menghasilkan minyak yang sama atau bahkan bisa melebihi dari sumur sebelumnya,” kata Heru kepada Bisnis, Minggu (22/2/2026).

Untuk diketahui, PT Pertamina EP Asset 4 Region 4 Zona 14 Papua Barat telah melakukan pengeboran sumur pengembangan SLW-E006 di Cluster E, Lapangan Salawati, pada 31 Desember 2025.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menuturkan sumur ini mencatatkan hasil uji produksi sementara sebesar 350 barel minyak per hari (BOPD).

“Pengeboran sumur dilakukan hingga kedalaman 2.165 mMD [meter Measure Depth] untuk mencapai lapisan Kais Carbonate dan kemudian dilakukan pekerjaan komplesi dengan hasil uji produksi sementara mencapai 350 BOPD,” kata Djoko dalam keterangan tertulis, Minggu (22/2/2026).

Baca Juga

  • Pemerintah RI Dorong AS Olah Mineral Kritis hingga Logam Tanah Jarang
  • Pengembangan Lapangan Salawati Papua, SKK Migas Optimistis Capai Lifting 610.000 Barel untuk 2026
  • Bahlil Bakal Tawarkan Tambang Mineral ke Perusahaan AS

Secara operasional, SLW-E006 merupakan sumur kedua dari empat sumur dalam rangkaian program pengeboran di Lapangan Salawati.

Sumur dibor secara miring (directional/J-type) menggunakan Rig PDSI #11.2-1000 HP hingga kedalaman akhir 2.165 meter measured depth (mMD) atau 2.101 meter true vertical depth (mTVD). Adapun seluruh proses pengeboran hingga uji produksi selesai dalam 43 hari, dengan rilisan minyak pertama pada 16 Februari 2026.

Dalam pelaksanaannya, SKK Migas menerapkan teknologi terbaru, termasuk metode Casing While Drilling (CWD), yang memungkinkan pemasangan casing bersamaan dengan pengeboran di level 2 berukuran 13-3/8 inci. Menurut Djoko, metode ini terbukti efektif menambah nilai keberhasilan pengeboran di trayek 17-1/2 inci.

Selain itu, strategi teknis untuk mengatasi rumble zone pada trayek 12-1/4 inci menggunakan wellbore strengthening sehingga tidak ada kendala signifikan yang memperlambat operasi pengeboran.

Sementara itu, estimasi biaya yang telah dikeluarkan untuk pengeboran sumur mencapai US$9,77 juta atau sekitar 94% dari total Authorization for Expenditure (AFE) yang telah disetujui, berdasarkan perhitungan lapangan (field estimate).

“Mohon doa dua sumur berikutnya juga dapat menghasilkan minyak yang sama bahkan lebih besar, sehingga dapat mengejar ketinggalan untuk mencapai target APBN 2026 sebesar 610 kbd,” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penggunaan Qris di Sulsel Tumbuh Pesat, Transaksi pada 2025 Tembus Rp19,05 Triliun
• 16 jam lalubisnis.com
thumb
Bagaimana Nasib RI Usai MA AS Jegal Tarif Trump? Ini Kata Pemerintah
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Usai Tuai Kritik Buntut Pernah Tersandung Kasus Sabu, Plh Kapolres Bima Kota Kini Diganti Lagi! Ini Sosoknya
• 19 jam laluviva.co.id
thumb
Bank JPMorgan Tutup Rekening Trump Setelah Kerusuhan Capitol
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Petani di Manggarai NTT Semringah Hasil Pertanian Lokal Diserap MBG
• 6 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.