Awal Ramadhan tahun ini, Azzahra Khoirunnisa (27) melakukan sesuatu yang tidak biasa. Bukan hanya sibuk menentukan daftar menu sahur dan berbuka untuk keluarga kecilnya, ia juga “membersihkan” linimasa media sosialnya.
Karyawan swasta yang berdomisili di Jakarta itu sengaja mengurangi paparan berita dan cerita yang menurutnya mudah memantik emosi.
Ia memilih untuk tak lagi terlalu larut mengikuti berita terkait isu pemerintahan atau utas panjang mengenai kehidupan orang lain yang kerap membuatnya bergidik. Ia juga menahan diri untuk tidak membuka kolom komentar di konten media sosial yang sering dipenuhi nada sinis dan debat panjang.
“Kalau biasanya gampang julid di kolom komentar, sekarang saya tahan. Puasa ini latihan nahan emosi juga,” ujarnya sambil tersenyum saat dijumpai Kompas di Jakarta, pada hari kedua Ramadhan 1447 Hijriah atau Jumat (20/2/2026).
Azzahra kini aktif menyukai dan membagikan konten yang lebih menyejukkan, seperti ceramah singkat terkait ilmu agama, video inspiratif, atau meme lucu. Perlahan, algoritma media sosialnya berubah. Linimasanya lebih religius, lebih ringan, dan terasa lebih melegakan dada.
Selain di dunia maya, ia juga menerapkan hal ini untuk tayangan televisi yang sering dikonsumsi keluarganya selama Ramadhan. Setiap makan sahur atau berbuka, ia mengontrol pilihan tayangan televisi agar tetap menyajikan tontonan yang menyejukkan dan mendidik.
Baginya, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan “julid” yang berasal dari amarah dan sinisme yang bereaksi cepat.
Di Tangerang, Rafika (22) menjalani refleksi berbeda ketika memasuki bulan puasa. Di tengah kondisi ekonomi yang menurutnya masih berat bagi banyak orang, ia merasa terdorong untuk membantu pelaku usaha kecil yang menawarkan usaha dengan berbagai bentuk kreativitas.
Belum lama ini, ia tegiur dengan amplop THR kreatif bergambar meme kucing yang dipromosikan afiliator lewat TikTok Shop. Ia juga memesan kue nastar berbentuk bebek yang belakangan sering muncul di media sosialnya. Padahal, Lebaran masih bulan depan.
“Bulan puasa ini waktunya berbagi ke sesama. Enggak harus berbentuk sedekah, tapi juga lewat belanja, sekalian bantu UMKM,” ujarnya.
Apa yang dilakukan Azzahra dan Rafika sejalan dengan temuan laporan "Ramadan 2026: Consumer Insights" yang dirilis YouGov. Survei yang dilakukan pada Desember 2025 ini memotret makna dan kebiasaan Ramadhan bagi masyarakat di lima negara mayoritas Muslim yaitu Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab.
Temuan survei menunjukkan, Indonesia memiliki pola konsumsi yang unik. Kebutuhan spiritualitas yang meningkat diikuti peningkatan kebersamaan keluarga mendorong perubahan keseharian.
Ramadhan sendiri dikaitkan dengan refleksi spiritual dan penguatan iman oleh sebanyak 62 persen responden Indonesia dalam laporan tersebut. Angka ini lebih rendah dibanding Arab Saudi (79 persen) dan Uni Emirat Arab (72 persen), tetapi tetap menjadi aspek dominan.
Yang menonjol, 51 persen responden Indonesia menyebut kebersamaan keluarga sebagai elemen utama Ramadhan. Angka ini relatif lebih tinggi dibanding Malaysia dan Turki dalam survei yang sama. Selain itu, 39 persen responden Indonesia mengaitkan Ramadhan dengan semangat berbagi dan kepedulian sosial.
Hal ini membuat 73 persen responden Indonesia menyatakan akan meningkatkan aktivitas religius selama Ramadhan. Sebanyak 56 persen juga mengaku akan menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga.
Ramadhan juga memengaruhi perubahan kebiasaan dan pola konsumsi. Laporan YouGov mencatat adanya kecenderungan peningkatan waktu yang dihabiskan di rumah, terutama pada siang hari ketika aktivitas fisik cenderung menurun.
Sebaliknya, pergerakan atau mobilitas meningkat pada waktu-waktu tertentu, khususnya menjelang berbuka puasa dan setelah malam hari. Kunjungan ke pusat perbelanjaan, restoran, serta lokasi hiburan keluarga cenderung terkonsentrasi pada sore hingga malam.
Di Indonesia, pola ini diperkuat oleh tradisi berbuka puasa bersama dan belanja kebutuhan Lebaran. Artinya, mobilitas tidak hilang, melainkan cuma bergeser waktunya. Perubahan mobilitas berdampak langsung pada konsumsi media, baik konvensional maupun media baru.
Terkait konsumsi televisi, YouGov mencatat pergeseran jam tayang televisi ke malam hari, terutama pukul 19.00–22.00. Indonesia juga mengalami peningkatan signifikan pada jam tersebut, meski distribusi penonton relatif lebih merata sejak sore menjelang berbuka hingga larut malam.
Selain televisi, konsumsi digital melonjak selama Ramadhan. Waktu sahur dan setelah berbuka menjadi periode dengan aktivitas online tertinggi. Konsumen mengakses media sosial, menonton video pendek, hingga berbelanja daring melalui perangkat mobile.
Dengan meningkatnya waktu di rumah dan penyesuaian jam aktivitas, konsumsi media digital menjadi semakin dominan.
Terkait pola konsumsi media digital, survei tersebut mencoba memotret minat menonton iklan masyarakat. Di Indonesia, polanya khas dibandingkan masyarakat negara lain yang disurvei.
Ramadhan selalu menghadirkan perubahan besar dalam ritme konsumsi masyarakat Indonesia.
Sebanyak 37 persen responden Indonesia menilai iklan dengan alur cerita yang emosional bertema keluarga sebagai format paling autentik selama Ramadhan. Ini diikuti kampanye yang menonjolkan aksi sosial atau keberlanjutan yang disukai sebanyak 32 persen serta iklan berkonsep humor dan keseharian yang disukai 25 persen responden.
Perubahan pola kebiasaan masyarakat Indonesia selama Ramadhan juga ditangkap Telkomsel melalui laporan “DigiAds Ramadan Insight 2026: Weaving Threads of Impact to Win Ramadan”. Berdasarkan data yang mereka kumpulkan di Ramadhan 2025, selain beribadah, Ramadhan juga terbukti meningkatkan kebiasaan belanja masyarakat.
Hal ini terbaca dari 54 persen responden pengguna Telkomsel yang mengakui adanya peningkatan pengeluaran di bulan puasa tahun lalu. Rata-rata pengeluaran dalam sebulan berkisar antara Rp 3,5 juta hingga Rp 7 juta.
Berdasarkan kategori belanjaan, mayoritas pengeluaran digunakan untuk membeli bahan makanan (60 persen) dan makanan siap saji (50 persen). Sebagian kecilnya untuk pakaian baru (8 persen), gawai baru (4 persen), tiket transportasi (4 persen), dan lainnya (6 persen).
Laporan itu juga menyoroti konsumsi media digital selama Ramadhan. Mayoritas pengguna ponsel mencatatkan kenaikan akses media sosial 3 persen dari hari biasa menjadi 58 persen. Selanjutnya, aktivitas belanja dan pemesanan layanan secara daring serta layanan keuangan mengalami kenaikan masing-masing menjadi 17 persen dan 14 persen.
Aktivitas digital ini naik lebih dari 87 persen di waktu dini hari atau saat sahur, bersamaan dengan kenaikan trafik menonton TV. Disusul di siang hari antara pukul 11.00 - 14.00 dan waktu berbuka puasa. Malam hari selama Ramadhan tercatat sebagai waktu tertinggi untuk berbelanja dan mengonsumsi konten hiburan.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Al-Azhar Indonesia, Hanny Nurlatifah, dalam artikelnya yang terbit di laman uai.ac.id, Rabu (18/2/2026), mengungkapkan, Ramadhan selalu menghadirkan perubahan besar dalam ritme konsumsi masyarakat Indonesia.
Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa Ramadhan mempertemukan aspek religiusitas, kesadaran akan konsumsi halal, serta kepercayaan terhadap brand. Keputusan konsumsi jarang hanya soal fungsi, tetapi juga keselarasan dengan nilai spiritual.
Ramadhan beberapa tahun terakhir menunjukkan fenomena baru. Konsumen semakin hemat, selektif, dan cenderung memilih brand lokal.
"Ketika masyarakat memasuki bulan penuh makna ini, keputusan pembelian mereka mulai digerakkan oleh nilai-nilai religius, preferensi halal, hingga perubahan rutinitas harian," tuturnya.
Ia mencatat, pola konsumsi Ramadhan menunjukkan lonjakan pengeluaran, terutama untuk makanan, pakaian, bingkisan Lebaran, dan produk rumah tangga. Sebanyak 75 persen konsumen merencanakan pembelian pakaian baru menjelang Idulfitri, sementara 65 persen mengalokasikan dana untuk kebutuhan konsumsi keluarga.
Namun, Ramadhan beberapa tahun terakhir menunjukkan fenomena baru. Konsumen semakin hemat, selektif, dan cenderung memilih brand lokal. Laporan “The Ramadan Reset” menegaskan, tekanan ekonomi mendorong masyarakat untuk mencari nilai lebih, bukan sekadar promo besar.
Konsumen lebih menghargai produk lokal, lebih berhati-hati, dan lebih mempertimbangkan etika serta kredibilitas merek. "Mereka lebih sadar harga, lebih berhati-hati, dan lebih menghargai produk buatan Indonesia," katanya.
Transformasi digital menjadi faktor kunci. Belanja daring meningkat, terutama untuk fesyen muslim, makanan, dan kebutuhan anak. Algoritma media sosial, afiliator, serta kemudahan pembayaran mempercepat keputusan pembelian, seperti yang dialami Rafika.
Namun, menurut Hanny, kemudahan saja tidak cukup. Konsumen lebih sensitif terhadap kehalalan produk, keamanan transaksi, serta reputasi platform.
“Online convenience (kenyamanan daring) harus diimbangi kepercayaan dan persepsi kegunaan. Di bulan Ramadhan, kepercayaan menjadi sangat penting,” katanya.
Cerita Azzahra dan Rafika menunjukkan dua sisi yang saling melengkapi. Yang satu merapikan konsumsi informasi demi ketenangan batin. Yang lain meningkatkan konsumsi produk demi membantu usaha kecil.
Semua ini menunjukkan bahwa di tengah tekanan ekonomi dan arus digital yang deras, masyarakat Indonesia tetap menjadikan Ramadhan sebagai ruang reset bagi pola hidup yang lebih baik.



