Pengelolaan Sampah Mikro di Kampus Jadi Rujukan Daerah

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Persoalan sampah menjadi isu krusial di berbagai daerah Karena itu, penanganan sampah nasional mesti terintegrasi dengan melibatkan semua pihak, termasuk sumber daya perguruan tinggi melalui dukungan keilmuan, teknologi, dan pendampingan masyarakat.

Dikutip dari Kompas.id, pemerintah mencatat volume sampah di Indonesia 56,63 juta ton per tahun. Pada tahun 2023, dari total sampah yang ada itu hanya 39,01 persen yang bisa dikelola. Sementara 60,99 persen lainnya belum terkelola karena hanya mengandalkan sistem pembuangan terbuka.

Puluhan juta ton sampah tidak terkelola. Hal ini menimbulkan masalah pencemaran, kerusakan lingkungan, dan gangguan kesehatan masyarakat, yang menyebabkan terjadinya kedaruratan sampah di perkotaan.

Baca JugaJurus Inovasi Menepis Bayang-bayang Darurat Sampah

Untuk itu, perguruan tinggi mulai membangun tata kelola pengelolaan sampah di tingkat mikro di kawasan kampus masing-masing. Sebab, kekuatan kampus tidak hanya pada inovasi teknologi, tetapi juga pada kapasitas edukasi sosial.

“Sejak tahun lalu kami mengembangkan gerakan pengelolaan sampah di kampus. Sejumlah perguruan tinggi mampu mengolah sampahnya secara mandiri dengan kapasitas 10–15 ton per hari,” ucap Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, melalui siaran pers, pada Minggu (22/2/2026).

Dalam gerakan pengelolaan sampah, lanjut Brian, kampus memiliki peran lebih dari sekadar pusat riset. Dengan demikian, kampus juga menjadi laboratorium nyata untuk menguji, menyempurnakan, dan mereplikasi solusi teknologi pengelolaan sampah.

Sejak tahun lalu kami mengembangkan gerakan pengelolaan sampah di kampus. Sejumlah perguruan tinggi mampu mengolah sampahnya secara mandiri dengan kapasitas 10–15 ton per hari.

Melalui pendekatan itu, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) terus mendorong konsolidasi berbagai inovasi teknologi pengolahan sampah hasil pengembangan perguruan tinggi untuk dihilirisasi dan distandarisasi.

Harapannya, inovasi teknologi pengolahan sampah tersebut dapat dimanfaatkan secara luas oleh pemerintah daerah sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing wilayah.

Teknologi pengolahan sampah skala mikro  yang sudah diuji coba di kampus-kampus dirancang untuk dapat diterapkan di tingkat kelurahan atau desa dengan kapasitas sekitar 10 ton sampah per hari. Dengan pendekatan ini, penanganan sampah diharapkan lebih efektif dan mengurangi kebutuhan mobilisasi sampah ke tempat pembuangan akhir.

Salah satu pengelolaan sampah di kampus dengan model pengelolaan sampah terintegrasi berbasis inovasi dan keberlanjutan yakni di Pusat Inovasi Agro Teknologi (PIAT) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Seluruh sampah dari lingkungan kampus serta sejumlah unit di sekitar kampus UGM dikumpulkan dan diproses secara terpusat. Sistem ini tidak hanya mencakup pengolahan sampah organik menjadi kompos, tapi juga pemanfaatan teknologi seperti budidaya maggot untuk mempercepat dekomposisi.

Kepala PIAT UGM yang dosen Teknik Kimia UGM Wiranti  menjelaskan, sampah yang terkumpul mencapai hampir 10 ton per hari. Semua sampah di kawasan UGM hingga sejumlah hotel, rumah sakit, dan lingkungan lain di sekitar UGM dikirimkan ke PIAT untuk diolah.

Model pengolahan sampah sederhana itu telah dibagikan pada komunitas di sekitar kampus sebagai bentuk diseminasi praktik baik. Jadi, perguruan tinggi tak hanya berperan dalam pengembangan riset dan teknologi, tapi juga dalam menghadirkan solusi konkret yang bisa direplikasi untuk mendukung agenda nasional pengelolaan sampah berkelanjutan.

Di Bandung, Jawa Barat, Universitas Islam Bandung (Unisba) menghadirkan solusi pengelolaan sampah berbasis teknologi dengan reaktor plasma dingin yang dipasang di Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Arcamanik. Teknologi ini memiliki potensi besar untuk mendukung pengelolaan sampah perkotaan yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Rektor Unisba Harits Nu’man menjelaskan teknologi reaktor plasma dingin yang dikembangkan Unisba mengedepankan prinsip keselamatan lingkungan, salah satunya melalui pemanfaatan plasma untuk memecah gas berbahaya hasil proses termal.

Plasma tersebut bukan untuk membakar sampah, tetapi untuk memecah gas berbahaya agar emisinya aman. Sistem ini sudah melalui beberapa kali pengujian.

“ Kami berharap teknologi pengelolaan sampah di Unisba dapat menjadi model pengelolaan sampah berbasis riset yang dapat direplikasi di berbagai daerah, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjawab tantangan lingkungan nasional,” kata Harits.

Pekan lalu, Brian Yuliarto bertemu dengan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq di Jakarta, dalam upaya menguatkan kolaborasi lintas sektor menjawab tantangan pengelolaan sampah nasional. Upaya ini diakselerasi melalui sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat.

Proyek percontohan

Brian mengatakan Kemendiktisaintek siap membantu karena memiliki sumber daya mahasiswa dan dosen cukup besar. Keterlibatan mahasiswa akan diperkuat melalui berbagai skema akademik agar berdampak berkelanjutan.

“ Rencananya pendampingan ini tidak bersifat satu kali, tetapi bisa satu semester dan bisa dikonversi menjadi satuan kredit semester atau SKS. Jadi, mahasiswa benar-benar mendampingi, memantau, dan memastikan sistemnya berjalan,” ucap Brian.

Sebagai langkah awal, kolaborasi akan difokuskan pada pengembangan proyek percontohan di sejumlah kota dengan pelibatan aktif perguruan tinggi setempat.

Mahasiswa akan diterjunkan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik dan pengabdian kepada masyarakat untuk melakukan edukasi pemilahan, pengolahan sampah organik, hingga penguatan sistem monitoring berbasis komunitas.

Baca JugaMemilah Sampah di Rumah Belum Menjadi Kebiasaan

Selain itu, menurut Brian, Kemendiktisaintek mendorong penguatan inisiatif Campus Zero Waste. Program ini diarahkan agar perguruan tinggi tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah di lingkungan internal, tetapi juga menjadi pusat inovasi dan rujukan praktik baik bagi pemerintah daerah.

Saat ini, lebih dari 100 kampus telah memiliki sistem pengelolaan sampah mandiri dan jumlahnya akan terus ditingkatkan melalui verifikasi serta penguatan standar teknologi ramah lingkungan.

Dari sisi dukungan keilmuan mencakup pengolahan sampah organik, komposting, biodigester, rekayasa material daur ulang, hingga teknologi konversi sampah menjadi energi. Itu termasuk kajian peningkatan efektivitas fasilitas yang telah tersedia di daerah.

Sementara Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyambut baik keterlibatan perguruan tinggi memperkuat dimensi edukasi, riset, dan inovasi pengelolaan sampah secara nasional.

“Dukungan perguruan tinggi ini strategis untuk mempercepat peningkatan kinerja pengelolaan sampah nasional, khususnya dalam membangun kesadaran publik, memperkuat kapasitas pemerintah daerah, serta mengoptimalkan fasilitas pengolahan sampah,” kata Hanif.

 

 

 

 

 

 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Atas Arahan Menteri P2MI Mukhtarudin, Operasi Terpadu Pemulangan PMI dari Oman Berhasil
• 20 jam lalujpnn.com
thumb
Pemain Ini Mengaku Jadi Penyebab Kekalahan Real Madrid dari Osasuna
• 40 menit laluviva.co.id
thumb
Polisi Muda di Makassar Meninggal di Asrama Diduga Dianiaya Seniornya
• 2 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Testimoni Orang Tua Terhadap Siswa Sekolah Rakyat: Banyak Perubahan
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Perombakan Besar-Besaran di Polda Metro Jaya, 175 Perwira Dimutasi
• 21 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.