FAJAR, JAKARTA – Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyoroti pemenuhan kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia yang dinilai belum memberikan dampak optimal bagi perekonomian nasional. Meski Indonesia merupakan negara dengan jumlah jemaah haji terbesar di dunia, sebagian besar komoditas pangan yang dikonsumsi di Tanah Suci masih dipasok dari negara lain, seperti Thailand dan India.
Anggota DPR RI, Andi Yuliani Paris, mengungkapkan keprihatinannya. “Kita tahu beras yang dimakan jemaah haji itu beras Thailand. Sayur-sayur, berdasarkan hasil wawancara saya di dapur-dapur saat menjadi pengawas haji, juga dari Thailand. Padahal jemaah haji kita terbesar. Kenapa bukan dari Indonesia berasnya, sayurnya, dagingnya, bahkan bumbu-bumbunya? Mengapa justru dari Thailand dan India?” ujarnya.
Dalam Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait pengharmonisasian RUU Perubahan Undang-Undang Pengelolaan Keuangan Haji, muncul dorongan kuat agar investasi dan perdagangan lintas sektor dipermudah. Tujuannya adalah agar komoditas utama seperti beras, sayuran, daging, hingga bumbu dapat dipasok langsung dari Indonesia, sehingga memberikan nilai tambah bagi ekonomi domestik.
Hasil pengawasan di lapangan menunjukkan mayoritas bahan pangan di dapur katering jemaah haji saat ini bukan berasal dari Indonesia. Menanggapi hal tersebut, muncul inisiatif memperkuat sinergi antar-kementerian untuk mempermudah izin perdagangan serta menekan biaya pengangkutan agar produk lokal lebih kompetitif. (*/)





