Darurat Digital! 15 Serangan Siber per Detik Hantam RI

viva.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – AwanPintar.id, platform intelligence ancaman siber nasional dari PT Prosperita Sistem Indonesia, merilis laporan Indonesia Waspada: Ancaman Digital di Indonesia Semester II 2025.

Laporan ini menemukan serangan siber yang berasal dari dalam negeri meningkat signifikan, menempatkan Indonesia sebagai sumber serangan spam dan malware terbesar di sepanjang tahun lalu.

Baca Juga :
Mobil Anda Bisa Dikunci Hacker dari Jarak Jauh, Ini Ancamannya di 2026
Spam dan Scam Sudah Jadi Industri Kejahatan Siber, Negara Rugi Rp8,4 T

Temuan ini mengindikasikan banyak infrastruktur IT di dalam negeri, seperti server perusahaan, PC, hingga perangkat Internet of Things (IoT), sudah terkompromi dan rentan terhadap eksploitasi.

Laporan AwanPintar.id mendapati tren serangan siber di Indonesia berada pada level kewaspadaan tinggi dengan jumlah total 234.528.187 serangan di sepanjang semester II 2025, atau telah terjadi rata-rata 15 serangan siber per detik. Serangan ini meningkat signifikan hingga 75,76 persen dibandingkan semester I 2025.

Khusus pada Desember 2025, jumlah serangan menyentuh angka 90.590.833, yang kemungkinan dipicu oleh tingginya aktivitas serangan Distributed Denial of Service (DDoS) serta eksploitasi terhadap lalu lintas transaksi ekonomi digital selama periode liburan akhir tahun.

“Pelaku serangan siber dalam negeri tidak lagi hanya bergerak secara individu, melainkan mulai menunjukkan pola kerja sama yang terorganisir untuk menargetkan layanan publik dan platform ekonomi. Kondisi ini mencerminkan adanya kebutuhan mendesak untuk memperkuat edukasi literasi keamanan di seluruh lapisan masyarakat agar tidak mudah terjebak dalam skema manipulasi yang dibuat oleh pelaku lokal,” kata Yudhi Kukuh, founder AwanPintar.id, Minggu, 22 Februari 2026.

Salah satu serangan yang melonjak signifikan adalah Attempted Administrator Privilege Gain, yaitu upaya untuk mencuri hak akses admin pada sistem Windows, yang naik 57,74 persen dibandingkan semester I 2025.

Hal ini menunjukkan pelaku serangan siber jauh lebih agresif dalam mengeksploitasi keretanan pada OS yang belum ditambal (patched) dan menggunakan serangan yang lebih canggih seperti DDoS untuk melumpuhkan infrastruktur yang penting.

Bertahannya botnet Mirai terindikasi memberikan sumbangsih yang besar pada kenaikan serangan ini. Botnet Mirai adalah ancaman siber yang terdeteksi aktif kembali sejak semester I 2025.

Botnet yang pertama kali terdeteksi pada tahun ini muncul kembali dalam wajah yang lebih canggih dan lebih agresif. Botnet berbasis Linux ini aktif menginfeksi berbagai perangkat IoT lalu dijadikan jaringan botnet untuk melancarkan serangan DDoS dalam skala besar.

Baca Juga :
Nezar Patria: Tidak Ada Ruang Aman di Dunia Digital
WhatsApp Kunci Akun Pengguna High-profile seperti Jurnalis, tapi Semua Orang Bisa Pakai
Uni Eropa Mulai Jauhi China dan Huawei

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menengok Hangatnya Buka Puasa di Tengah Dinginnya Swiss...
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Meski Belum Optimal, Milomir Seslija Puji Penampilan Febri Hariyadi saat Debut Bersama Persis Solo
• 2 jam lalubola.com
thumb
Menlu Sugiono Pastikan Palestina Restui Pengiriman Pasukan Perdamaian ke Gaza
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kalimat Ini Muncul 31 Kali dalam Al Quran, Maknanya Dalam
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Siswa Diduga Dianiaya Brimob, KPAI Minta Penyebab Kematian Diungkap!
• 22 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.