Pemerintah Indonesia berulang kali menekankan fokus pada kemandirian energi, salah satunya dengan cara meningkatkan produksi etanol untuk campuran bahan bakar minyak (BBM) yang saat ini masih impor.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia misalnya, telah menargetkan penerapan mandatori campuran etanol dalam bensin atau bioetanol agar dapat ditingkatkan hingga 20 persen atau E20 pada 2028.
Target yang lebih agresif dibanding rencana sebelumnya yang memprioritaskan implementasi E10 lebih dulu. Bahlil menyebut, kebutuhan solar nasional mencapai sekitar 39 juta kiloliter per tahun, sementara produksi domestik baru sekitar 16 juta kiloliter.
Sementara kebutuhan konsumsi bensin nasional tercatat sekitar 40 juta kiloliter per tahun, sedangkan produksi dalam negeri hanya sekitar 14 juta kiloliter, sehingga impor masih berkisar 25 juta kiloliter per tahun.
“Sampai ayam tumbuh gigi, kalau enggak kita kreatif untuk membuat ini, enggak akan bisa kita dalam negeri semua. Maka kita akan lakukan adalah di samping kita naikkan lifting, kita akan dorong namanya etanol E20 2028, dengan demikian akan mengurangi impor kita,” ungkap Bahlil saat Indonesia Economic Outlook 2026, dikutip Minggu (15/2).
Namun satu sisi, baru-baru ini pemerintah Indonesia menyepakati Perjanjian Perdagangan Timbal Balik atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat. Salah satu mandatnya adalah kewajiban pembelian atau impor etanol dari Negeri Paman Sam.
Pada naskah ART Full Agreement, tepatnya pada Annex III: Specific Commitments di Article 2.23 tentang bioetanol, terdapat tiga poin utama yang menyatakan bahwa Indonesia wajib menerima impor bahan bakar etanol dari Amerika Serikat.
"Indonesia tidak akan menerapkan atau mempertahankan tindakan apa pun yang mencegah impor bioetanol AS," urai penggalan pertama pernyataan yang telah disetujui oleh dua negara dikutip Sabtu, (21/2/2026).
Lebih lanjut, bahan baku etanol tersebut akan memenuhi kebutuhan pasokan bahan bakar transportasi dengan cara dicampur dengan bahan bakar minyak (BBM) sebesar 5 persen (E5) pada 2028 dan hingga 10 persen atau E10 pada 2030 mendatang.
"Indonesia akan berupaya menerapkan kebijakannya dalam penggunaan campuran bioetanol dalam bahan bakar transportasi hingga 20 persen bioetanol (E20), dengan mempertimbangkan ketersediaan pasokan dan kesiapan infrastruktur pendukung," bunyi poin terakhir pada artikel tersebut.
Bahkan ketentuan jumlah impor bahan bakar etanol dari Negeri Paman Sam itu telah ditentukan setiap tahunnya. Ini tertuang pada Annex IV: Purchase Commitmen tentang pembelian produk agrikultur Amerika Serikat.
"Indonesia harus memastikan bahwa impor etanol Indonesia yang berasal dari Amerika Serikat melebihi 1.000 metrik ton (sekitar satu juta kilogram) setiap tahunnya," bunyi artikel tersebut.
Komoditas tebu di Merauke dikembangkan menjadi bahan bakar etanolSebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto Airlangga Hartarto menyatakan mutu tanah di kawasan pengembangan food estate di Merauke, Papua Selatan tergolong subur, bahkan dinilai melampaui kualitas lahan di Australia.
Menurutnya, potensi tersebut dapat dioptimalkan, khususnya untuk pengembangan komoditas tebu sebagai bagian dari program lumbung pangan.
“Yang di Merauke salah satunya adalah untuk pengembangan tebu dan juga etanol. Kalau dari berbagai expert dari Australia mengatakan apa yang tanah daripada di Merauke dibandingkan Australia itu lebih baik,” kata Airlangga saat konferensi pers Jakarta Food Security Summit di Gedung Kadin, Jakarta, Selasa (13/1).
Pengembangan tebu di wilayah tersebut tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan pangan, tetapi juga sebagai penopang program energi bersih.
Pemerintah Indonesia saat ini tengah mendorong produksi etanol berbasis biomassa sebagai campuran bahan bakar bensin melalui penerapan bertahap skema E5 hingga E10.
“Nah inilah yang menjadi tantangan kita ke depan. Karena selain biodiesel pemerintah juga sedang mendorong pengembangan etanol base untuk bensin. Di mana E5 atau E10 tentu membutuhkan 2-3 juta etanol,” paparnya.
“Dan ini akan baik kalau kita bisa produksi melalui food estate. Nah beberapa intensifikasi yang didorong tentunya mulai dari pupuk irigasi, penyuluh, dan bibit itu menjadi kunci,” jelas Airlangga.





