Setelah 180 Tahun Punah, Kura-kura Raksasa Kembali Menjelajahi Pulau Floreana

mediaindonesia.com
10 jam lalu
Cover Berita

UNTUK pertama kalinya dalam lebih dari 180 tahun, kura-kura raksasa kembali merayap di tanah Pulau Floreana, Kepulauan Galápagos. Peristiwa yang disebut para aktivis lingkungan sebagai "tonggak sejarah yang sangat signifikan" ini menandai babak baru dalam pemulihan ekosistem Arsitepelago tersebut.

Sebanyak 158 ekor kura-kura raksasa muda hasil penangkaran dilepasliarkan ke alam liar pekan ini. Proyek ambisius ini merupakan bagian dari Proyek Restorasi Ekologi Floreana yang dipimpin Direktorat Taman Nasional Galápagos.

Menghidupkan Kembali yang Telah Hilang

Spesies asli Floreana, Chelonoidis niger niger, sebelumnya dinyatakan punah pada 1840-an. Kepunahan mereka disebabkan para pelaut yang mengambil ribuan ekor kura-kura sebagai bahan makanan selama pelayaran panjang.

Baca juga : Kura-Kura Raksasa Galapagos Albino Lahir di Kebun Binatang Swiss

Upaya pengembalian ini dimungkinkan melalui program "back-breeding" atau pembiakan kembali yang diluncurkan tahun 2017. Program ini bermula setelah para ilmuwan menemukan kura-kura di Pulau Isabela yang memiliki jejak genetik dari spesies Floreana yang telah punah.

"Restorasi Floreana telah mencapai tonggak sejarah yang sangat signifikan, dengan 158 kura-kura raksasa hasil penangkaran dilepaskan ke alam liar minggu ini," ungkap Galápagos Conservation Trust (GCT) dalam pernyataan resminya pada Jumat (20/2).

Pihak GCT menambahkan momen yang telah lama dinantikan ini memberikan harapan, tidak hanya bagi masa depan Floreana, tetapi juga bagi restorasi pulau-pulau lain di seluruh dunia.

Baca juga : Iguana Merah Muda Galapagos Diperkirakan Tinggal 211

Insinyur Ekosistem

Kehadiran kembali hewan-hewan ini bukan sekadar upaya penyelamatan spesies. Kura-kura raksasa dikenal sebagai "insinyur ekosistem". Mereka memainkan peran vital dalam memulihkan ekosistem yang rusak karena cara hidup mereka yang membantu membentuk bentang alam dan menyebarkan benih tanaman.

Dr. Jen Jones, Kepala Eksekutif GCT, menggambarkan momen pelepasan tersebut sebagai pengalaman yang luar biasa. Menurutnya, keberhasilan ini memvalidasi kolaborasi selama dua dekade antara ilmuwan, organisasi amal, dan masyarakat setempat.

Proses Penangkaran yang Panjang

Perjalanan panjang ini dimulai pada 2008 ketika para peneliti mengidentifikasi kura-kura hibrida di Gunung Berapi Wolf, Pulau Isabela, yang memiliki kaitan genetik terdekat dengan subspesies Floreana. Sebanyak 23 ekor kura-kura dipilih untuk memulai program penangkaran di Pulau Santa Cruz.

Pada tahun 2025, program ini telah menghasilkan lebih dari 600 tukik. Kini, ratusan di antaranya telah dianggap cukup besar dan kuat untuk bertahan hidup secara mandiri di habitat asli leluhur mereka di Floreana. (BBC/Z-2)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polisi Bubarkan Balap Lari Liar di Magetan
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Manfaat Rutin Makan Yogurt untuk Kesehatan
• 10 jam lalubeautynesia.id
thumb
Indonesia Bakal Impor Etanol dari Amerika Serikat
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Tas Hermès Oranye Seharga 215 Juta Milik Shah Rukh Khan Curi Perhatian di Bandara Mumbai
• 10 jam lalutabloidbintang.com
thumb
5 Makanan Favorit di Bulan Puasa yang Pantang Dikonsumsi Penderita Diabetes
• 3 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.