Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
1. Apa itu kanker serviks dan penyebab utamanya?
2. Seberapa besar risiko kanker serviks di Indonesia?
3. Bagaimana target pemerintah mengeliminasi kanker serviks?
4. Apakah vaksin HPV efektif mencegah kanker serviks?
5. Siapa saja yang perlu mendapat vaksin HPV?
6. Apa alasan anak laki-laki perlu mendapat vaksin HPV dari pemerintah?
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan, hampir semua kasus kanker serviks disebabkan infeksi human papillomavirus (HPV) tipe onkogenik, umumnya tipe 16 dan 18. Virus itu bisa menyerang siapa pun, termasuk pria, terutama lewat kontak kulit ke kulit secara intim.
Saat tubuh memiliki kekebalan yang baik, virus dapat dikalahkan. Namun jika tidak, virus dapat menyebabkan berbagai penyakit. Dikutip dari laman MD Anderson, virus HPV juga bisa menyebabkan kanker anus, vulva, vagina, penis, dan orogaringeal atau tenggorokan.
Infeksi persisten dengan tipe HPV karsinogenik tertentu dapat menyebabkan sel abnormal yang dapat berkembang menjadi kanker. Infeksi HPV persisten pada serviks dapat menyebabkan lesi prakanker yang akan menyebabkan 95 persen kanker serviks. Biasanya dibutuhkan 15–20 tahun bagi sel abnormal untuk menjadi kanker.
Pada perempuan dengan kekebalan tubuh lemah seperti HIV, proses ini bisa lebih cepat dan memakan waktu 5–10 tahun. Faktor-faktor yang meningkatkan risiko perkembangan kanker meliputi tingkat onkogenisitas tipe HPV, status kekebalan tubuh, infeksi menular seksual lainnya, jumlah kelahiran, usia muda saat kehamilan pertama, penggunaan kontrasepsi hormonal, dan merokok.
Dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan onkologi ginekologi Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo (RSCM) Laila Nuranna menyampaikan, terdapat berbagai faktor risiko yang dapat menyebabkan seseorang terinfeksi HPV. Sebagian besar penularan terjadi melalui hubungan seksual.
Kematian akibat kanker serviks seharusnya bisa dicegah karena masa inkubasi dari virus cukup lama dalam tubuh. Meski begitu pada fase awal, kanker ini tidak menimbulkan gejala khusus. Karena itu lebih dari 70 persen kasus kanker servis ditemukan pada stadium lanjut.
Secara global, menurut WHO, kanker serviks adalah kanker keempat yang paling umum terjadi pada perempuan, dengan perkiraan 660.000 kasus baru pada tahun 2022. Pada tahun sama, sekitar 94 persen dari 350.000 kematian akibat kanker serviks terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Tingkat kejadian dan kematian tertinggi terdapat di Afrika sub-Sahara, Amerika Tengah, dan Asia Tenggara. Perbedaan regional ini mencerminkan ketidaksetaraan dalam akses terhadap layanan vaksinasi, skrining, dan pengobatan.
Perempuan dengan HIV memiliki kemungkinan enam kali lebih besar menderita kanker serviks dibandingkan populasi umum, dan diperkirakan 5 persen dari semua kasus kanker serviks disebabkan HIV. Kanker serviks secara tidak proporsional menyerang perempuan muda.
Berdasarkan data Observasi Kanker Dunia (Globocan) Indonesia pada 2020, terdapat 36.633 kasus baru kanker serviks serta 21.003 perempuan di antaranya meninggal akibat kondisi itu. Artinya, ada 50 kasus baru yang terdeteksi setiap hari dengan dua kematian setiap jam.
Kanker serviks merupakan kanker terbanyak kedua di Indonesia setelah kanker payudara. Di Indonesia tercatat ada 99,8 juta perempuan berusia 15 tahun ke atas yang berisiko kanker.
Ahli obstetri dan ginekologi Yudi M Hidayat menuturkan, virus HPV merupakan virus yang umum di masyarakat. Bahkan dari survei ada 86,4 persen perempuan dan 76,9 persen laki-laki positif terinfeksi virus HPV. Jika daya tahan tubuh tak mampu melawan virus itu, risiko berbagai penyakit bisa terjadi seperti kanker serviks dan kutil kelamin.
Oleh karena itu vaksinasi HPV sangat penting bagi masyarakat, terutama untuk mencegah terjadinya kanker serviks. Kasus kanker serviks perlu menjadi perhatian bersama karena kasusnya amat tinggi di Indonesia. Pencegahan menjadi upaya terbaik mengatasi kanker serviks.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Laila menyebutkan, ada tiga pencegahan yang bisa dilakukan dalam penanganan kanker serviks yakni pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier.
Pencegahan tersier dilakukan dokter ketka ditemukan ada kanker pada tubuh. Pencegahan sekunder dilakukan melalui deteksi dini yakni pemeriksaan inspeksi visual dengan asam asetat atau IVA, pemeriksaan tes usap HPV, dan pap smear. Pencegahan primer bisa dilakukan melalui penyuluhan dan kampanye pencegahan faktor risiko kanker serviks.
Selain itu pencegahan yang efektif yakni dengan vaksinasi HPV. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan vaksin HPV diberikan pada remaja putri usia 9-14 tahun. Sebab pada kelompok usia ini, imunogenisitas atau kemampuan membentuk antibodi paling optimal dan risiko hubungan seksual dinilai rendah.
Vaksin yang diberikan dua dosis dengan jarak interval antara dosis pertama dan kedua enam bulan untuk mencegah penularan kanker serviks sehingga tidak efektif jika virus ada dalam tubuh. Jika berisiko, sebaiknya lakukan pemeriksaan kanker serviks lebih dulu.
Pemerintah menargetkan kanker serviks di Indonesia tereliminasi pada tahun 2030. Untuk itu, setidaknya 90 persen anak perempuan dan laki-laki telah mendapat vaksin HPV sebelum usia 15 tahun, 75 persen perempuan usia 30-69 tahun telah ditapis dengan tes DNA HPV, dan 90 persen perempuan dengan lesi kanker serviks mendapat terapi.
Untuk itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan, pencanangan Rencana Aksi Nasional Eliminasi kanker Serviks dapat memperkuat upaya penanganan kanker serviks di tengah masyarakat. Hal ini sejalan dengan target yang ditetapkan WHO.
Setidaknya ada tiga strategi utama untuk mencapai eliminasi kanker serviks. Strategi itu melalui imunisasi, deteksi dini dengan penapisan di fasilitas kesehatan, dan terapi bagi perempuan dengan lesi prakanker dan kanker serviks.
Terkait imunisasi, pada tahun 2030, ditargetkan 90 persen anak perempuan dan laki-laki berusia di bawah 15 tahun telah mendapat vaksin HPV. Imunisasi HPV bagi remaja putri usia sekolah dasar kelas V dan VI telah dijalankan secara nasional sejak tahun 2023.
Pada tahun 2025, terdapat delapan vaksin HPV berlisensi, dan lima di antaranya telah menerima pra-kualifikasi WHO serta tersedia secara global. Semua vaksin ini melindungi terhadap tipe HPV berisiko tinggi 16 dan 18, yang menyebabkan sekitar 76 persen kanker serviks.
Dikutip dalam laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin HPV lebih efektif diberikan pada usia anak karena dinilai belum aktif berhubungan seksual yang jadi faktor penularan virus HPV. Vaksin HPV untuk usia 10-13 tahun diberikan dengan dosis lebih rendah yakni dua dosis, dan pada usia 16-18 tahun perlu tiga dosis vaksin.
Vaksinasi HPV merupakan prioritas bagi semua anak perempuan berusia 9-14 tahun, sebelum mereka aktif secara seksual. Individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah, termasuk orang yang hidup dengan HIV, idealnya harus menerima dua atau tiga dosis vaksin HPV.
Untuk itu Pemerintah Indonesia telah memasukkan vaksin HPV ke dalam program imunisasi nasional untuk anak usia sekolah. Program vaksin HPV diberikan pada anak usia 11 tahun dan 12 tahun atau sekitar kelas lima dan enam sekolah dasar.
Setidaknya 1,9 juta anak perempuan telah mendapatkan vaksin tersebut. Pada tahun 2027 sasaran vaksinasi HPV akan diperluas untuk anak perempuan usia 15 tahun yang diperkirakan belum mendapatkan vaksin HPV sebelumnya. Harapannya, pada 2030, target 90 persen anak perempuan usia di bawah 15 tahun mendapat vaksin HPV bisa tercapai.
Beberapa negara juga memilih memvaksinasi anak laki-laki untuk lebih mengurangi prevalensi HPV di masyarakat dan mencegah kanker pada pria yang disebabkan HPV. Vaksin HPV pada anak laki-laki usia 11 tahun karena pria bisa menularkan virus tersebut.
Vaksin HPV perlu diberikan pula pada laki-laki karena virus HPV juga bisa menginfeksi pada pria. Virus HPV tidak hanya bisa menyebabkan kanker serviks atau leher Rahim tapi juga kutil kelamin, kanker penis, dan kanker anus yang bisa menyerang pada laki-laki.
Karena itu vaksin HPV tidak hanya diberikan pada anak perempuan tapi juga anak laki-laki. Berdasarkan berbagai riset, pemberian vaksin HPV dua dosis pada usia 10-13 tahun terbukti membentuk kadar antibodi yang sama besarnya dibandingkan pemberian tiga dosis pada usia 16-18 tahun. Untuk itu pemberian pada usia itu lebih efisien.
Pemberian vaksin HPV pada pria sama pentingnya dengan perempuan. Vaksin HPV bisa mencegah kutil kelamin dan kanker pada pria seperti kanker penis, anus, dan tenggorokan. Selain vaksinasi, pencegahan infeksi HPV pada pria bisa dengan menjaga kebersihan organ intim.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dalam peringatan Hari Kanker Sedunia 2026, di Jakarta, pada Rabu (4/2/2026) menuturkan, pemberian vaksin HPV akan diperluas untuk anak laki-laki usia 11 tahun pada 2027. Laki-laki tak bisa terkena kanker serviks tapi bisa membawa virus HPV.
Vaksinasi pada remaja laki-laki, akan dijalankan mulai tahun 2028. Remaja pria menjadi sasaran imunisasi karena infeksi virus HPV juga bisa terjadai pada laki-laki. Selain sebagai penyebab kanker serviks, virus HPV juga bisa menyebabkan penyakit lain, seperti kutil kelamin.




