Iran mengisyaratkan kesediaan untuk memberikan konsesi terbatas atas program nuklirnya dalam perundingan dengan Amerika Serikat (AS). Namun Teheran menuntut pencabutan sanksi ekonomi serta pengakuan atas hak melakukan pengayaan uranium untuk tujuan damai dari Washington.
Dikutip dari Reuters, Iran tengah mempertimbangkan skema kompromi yang mencakup pengiriman sekitar setengah dari uranium dengan tingkat pengayaan tertinggi ke luar negeri, pengenceran sisa persediaan serta partisipasi dalam pembentukan konsorsium pengayaan uranium regional.
Baca Juga: Iran Diam-diam Borong Ribuan Rudal Rusia Senilai Hampir Rp10 Triliun
Sebagai imbalannya, mereka menuntut pengakuan resmi atas hak pengayaan uranium damai serta pencabutan sanksi ekonomi dari Amerika Serikat.
Selain isu nuklir, mereka juga membuka peluang bagi perusahaan-perusahaan asing untuk terlibat sebagai kontraktor dalam industri minyak dan gas dari Iran.
“Amerika Serikat juga ditawari peluang investasi yang serius dan kepentingan ekonomi nyata di sektor minyak dari Iran,” ujar Iran.
Meski demikian, perbedaan masih mengemuka. Iran dan Amerika Serikat memiliki pandangan yang belum sejalan terkait cakupan dan mekanisme pencabutan sanksi. Teheran menilai kedua pihak perlu menyepakati peta jalan yang rasional dan berbasis kepentingan bersama, termasuk jadwal pencabutan sanksi yang jelas.
Baca Juga: Tarif Trump Dipatahkan, Ini Jawaban Amerika Serikat (AS) Soal Nasib Kesepakatan Dagang
Pejabat Iran menyebut pembicaraan terbaru menunjukkan masih adanya jurang perbedaan, namun menegaskan peluang tercapainya kesepakatan sementara tetap terbuka.
“Amerika Serikat dapat menjadi mitra ekonomi bagi Iran. Perusahaan Amerika Serikat nantinya selalu bisa berpartisipasi sebagai kontraktor di ladang minyak dan gas dari Iran,” ujarnya.
Baca Juga: Iran-Amerika Serikat (AS) Belum Tenang, Begini Arah Harga Minyak Hari Ini (23/2)
Washington selama ini memandang pengayaan uranium oleh negara itu sebagai potensi jalur menuju pengembangan senjata nuklir. Iran membantah tudingan tersebut dan menegaskan program nuklirnya semata-mata untuk tujuan sipil.
Perundingan Iran-AS kembali digelar awal bulan ini, yang diwarnai dengan peningkatan kehadiran militer dari Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah.
Baca Juga: Trump Bakal Luncurkan Tarif Baru, Tak Bisa Dihalangi Pengadilan Amerika Serikat (AS)
Teheran sendiri menegaskan bahwa pihaknya tidak akan diam jika diserang oleh AS. Ia akan menganggap basis militer, fasilitas dan aset pihak yang dianggap musuh dalam kawasan sebagai target sah jika menghadapi agresi militer dari Negeri Paman Sam.





