Penjelasan Bahlil Soal Rencana Impor Etanol dari Amerika Serikat

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Salah satu hasil kesepakatan dagang Indonesia dan Amerika Serikat (AS) adalah pembelian komoditas energi dari Negeri Paman Sam, sebagai bagian dari negosiasi penurunan tarif impor resiprokal menjadi 19 persen.

Indonesia akan membuka keran impor bahan bakar nabati bioetanol atau etanol produksi AS. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengatakan hal ini sejalan dengan rencana mandatori bensin campuran etanol hingga 10 persen (E10) mulai 2028.

Meski kerap mendorong produksi etanol lokal, politikus Golkar itu memastikan impor komoditas energi dari AS akan memperhatikan aspek keekonomian yang saling menguntungkan, baik bagi pihak AS dan badan usahanya, maupun dari pihak Indonesia.

Selain untuk bahan bakar kendaraan, Bahlil juga membuka potensi bioetanol atau etanol yang diimpor dari AS dapat dimanfaatkan untuk industri lain yang membutuhkan. Ia memastikan bahwa impor komoditas tersebut tak dipungut biaya alias tarifnya 0 persen.

"USD 15 miliar yang kita alokasikan untuk membeli BBM di Amerika Serikat, bukan berarti kita menambah volume impor. Namun, kita menggeser sebagian volume impor kita dari beberapa negara di antaranya negara dari Asia Tenggara, Middle East, maupun di beberapa negara di Afrika,"

Dengan begitu, Bahlil menegaskan neraca komoditas produk migas dan turunannya tidak mengalami perubahan karena pengalihan negara asal impor yang diutamakan untuk kepentingan AS.

"Saya pulang saya akan hitung lagi, sebagian pasti dari Asia Tenggara kita mungkin pangkas paling banyak di situ. Kemudian di Middle East dan beberapa negara di Afrika. Jadi kita akan prioritaskan untuk mengambil di Amerika dengan angka USD 15 miliar," jelas Bahlil.

Pada dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART), Indonesia disebut tidak akan menerapkan atau mempertahankan tindakan apa pun untuk mencegah impor bioetanol dari AS. Ini dikatakan sejalan dengan kebijakan penyediaan BBM dengan campuran etanol sebesar 5 persen (E5) pada 2028 dan 10 persen (E10) pada 2030.

Selama ini, Indonesia telah mengimpor LPG sekitar 7 juta ton per tahun, sebagian besar memang berasal dari AS dan akan terus ditingkatkan. Mulai tiga bulan ke depan, porsi impor yang lebih besar dari AS juga akan diterapkan pada produk lainnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polisi Ungkap Penyebab 2 Bus TransJakarta Adu Banteng di Cipulir: Sopir Tertidur
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Hasil, Klasemen, dan Top Skor Liga Italia: AC Milan dan Napoli Kalah, Inter Milan Nyaman di Takhtanya, AS Roma Bidik Posisi 2
• 6 jam laluharianfajar
thumb
Abang Gorengan Laris Manis saat Ramadan, Omzet Rp 800 Ribu per Hari
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Perjanjian Reciprocal Trade: Jebakan Diplomasi dan Ancaman Total Kedaulatan Indonesia
• 17 jam lalurctiplus.com
thumb
Keran Impor Ayam AS Dibuka, Bagaimana Nasib Peternak Lokal?
• 22 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.