Bripda DP Diduga Tewas Dianiaya Senior di Asrama Polda Sulsel, Pihak Keluarga Tuntut Keadilan

suara.com
2 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Keluarga Bripda DP menuntut Propam Polda Sulsel mengusut tuntas kematian korban akibat dugaan penganiayaan di asrama pada Minggu (22/2/2026).
  • Korban ditemukan tak sadarkan diri di kamar Danton setelah salat Subuh, kemudian dinyatakan meninggal dengan temuan memar dan keluarnya darah dari mulut.
  • Polda Sulsel telah memeriksa enam orang terkait insiden tersebut dan berjanji akan menuntaskan kasus secara profesional dan transparan.

Suara.com - Kematian Bripda DP di lingkungan asrama kepolisian memicu desakan kuat dari keluarga agar proses penegakan disiplin dan hukum dilakukan secara transparan dan menyeluruh. Keluarga korban berharap Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) benar-benar mengungkap penyebab kematian serta menindak tegas pihak-pihak yang bertanggung jawab.

"Kami harap ini diproses. Meminta keadilan. Apabila ada penganiayaan, kami serahkan ke penyidik Polda untuk mengungkap tuntas siapa pelaku penganiaya," kata ayah korban Aipda H Jabir di ruang tunggu Biddokkes Polda Sulsel Rumah Sakit Bayangkara, Jalan Kumala Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu malam.

Informasi awal yang diterima keluarga menyebutkan Bripda DP diduga mengalami tindakan kekerasan oleh seniornya di asrama polisi yang berada di area Kantor Polda Sulsel, Minggu (22/2/2026), tak lama setelah salat subuh usai sahur. Hingga kini, penyebab pasti dugaan penganiayaan tersebut masih belum diketahui.

Ayah korban mengungkapkan, beberapa jam sebelum kejadian, ia dan istri masih sempat berkomunikasi dengan almarhum. Korban bahkan berencana menerima kiriman makanan khas Pinrang, bebek Palleko, untuk disantap bersama rekan-rekannya.

"Kemarin saya juga telepon untuk kasih naik motornya (diantarkan ke Polda). Dia juga chat ibunya, karena mau dibawakan Palleko dari Pinrang makan sama seniornya. Dia chat ibunya jam lima subuh, tapi saat di balas jam enam, sudah tidak ada jawaban," tuturnya bersedih.

Merasa ada kejanggalan, Jabir kemudian mencoba menghubungi anaknya berulang kali, namun tidak mendapat respons. Ia lalu mengontak rekan satu angkatan korban, namun mendapat jawaban bahwa semua masih tertidur.

"Sempat saya hubungi temannya, tapi temannya beralasan semua masih tidur, saya minta dikasih bangun. Ternyata, dia (korban) barusan tidak tidur di baraknya. Dia tidur di kamar Danton (komandan pleton) waktu kejadian, dibangunkan dia. Dia dapat di kamar Danton (sudah) tergeletak," ucapnya lirih.

Kabar duka diterima keluarga sekitar pukul 07.00 WITA. Saat itu, korban disebut telah dibawa ke RSUD Daya. Awalnya, keluarga diinformasikan korban sakit, namun ayahnya meragukan hal tersebut karena kondisi anaknya sebelumnya dinilai sehat.

Setibanya di RSUD Daya, Bripda DP telah dinyatakan meninggal dunia. Jabir menyebutkan, dari pemeriksaan awal, ditemukan memar pada tubuh korban serta darah yang keluar dari mulut. Jenazah kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Bayangkara untuk kepentingan visum dan otopsi.

Baca Juga: Bripda MS Aniaya Anak Hingga Tewas, Yusril: Sungguh di Luar Perikemanusiaan

"Semenjak di sini (RS Daya) keluar darah terus dari mulut, dan indikasi ada yang mengatakan dibenturkan kepalanya, tapi tidak ada benturan di kepalanya. Tidak ada luka di kepala. Kalau memang murni di pukul kepala, pasti ada luka, tapi ini darah keluar dari mulut," tuturnya lagi.

Korban diketahui merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ia merupakan anggota Polri angkatan 53, lulus pada 2025, dan menjalani penempatan pertama di Direktorat Samapta Sabhara Polda Sulsel. Menurut keluarga, hubungan korban dengan rekan-rekannya selama ini terbilang baik.

Terkait penanganan kasus, Aipda Jabir yang bertugas di Polres Pinrang menyebutkan Kabid Propam Polda Sulsel telah mendatangi keluarga di Biddokkes untuk menyampaikan duka cita sekaligus memastikan proses penyelidikan berjalan.

"Tadi Kabid Propam langsung datang ke sini, langsung ke TKP ketemu. Kami selaku orang tua menyampaikan untuk usut tuntas sampai jelas, siapa yang melakukan penganiayaan, kalau memang ada penganiayaan. Sudah ada diperiksa, tiga orang letting-nya dan seniornya juga tiga orang," katanya.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Zulham Effendi menyatakan pihaknya telah memeriksa enam orang terkait peristiwa tersebut dan berkomitmen menuntaskan kasus secara profesional.

"Kejadiannya di asrama, dan kita berkomitmen kepada keluarganya untuk bertindak secara profesional. Tidak ada yang kita tutup-tutupi, dan semuanya terbuka secara transparan," ujarnya menekankan.

Proses visum dan otopsi berlangsung sekitar tujuh jam. Korban dibawa ke RSUD Daya pada pukul 13.40 WITA dan pemeriksaan di Biddokkes selesai pada pukul 21.50 WITA. Jenazah selanjutnya dibawa ke rumah duka di Desa Pincara, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, dan rencananya akan dimakamkan secara upacara kedinasan di TPU Pincara, dengan kehadiran Kapolda Sulsel beserta jajaran.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anggota DPRD Makassar Hj Umiyati Apresiasi Kinerja Setahun Appi-Aliyah, Capai 80,1 Persen
• 23 jam laluterkini.id
thumb
Ini Jadwal KRL Jogja-Solo pada 23–28 Februari 2026
• 25 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Senin pagi ini harga emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian tak begerak
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
Ramai Isu Impor Baju Bekas dari AS, Pemerintah : Impor Pakaian Bukan untuk Thrifting
• 7 jam lalueranasional.com
thumb
Apakah Kerja Kuli Bangunan Boleh Batal? Begini Hukum Puasa Bagi Pekerja Berat Menurut Buya Yahya
• 1 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.